Probolinggo (Investigasi88.com) — Upaya memperkuat pemahaman generasi muda terhadap pentingnya berdemokrasi terus digencarkan Pemerintah Kota Probolinggo. Senin (8/12) pagi, Aula Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) menjadi pusat kegiatan pembentukan Kader Demokrasi yang melibatkan 60 siswa-siswi pengurus OSIS SMA/SMK/MA se-Kota Probolinggo.
Program ini menjadi langkah awal untuk membangun fondasi demokrasi yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan di kalangan pelajar, terutama dalam menghadapi kontestasi Pemilu 2029 yang akan melibatkan mereka sebagai pemilih pemula.
Paparan Komprehensif dari KPU dan Bawaslu: Dari Teknis Pemilu hingga Etika Politik
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dari lembaga penyelenggara pemilu dan pemerhati demokrasi. Materi disampaikan secara menyeluruh, mulai dari aspek teknis penyelenggaraan pemilu, pengawasan, hingga cara generasi muda dapat berperan aktif menjaga nilai-nilai demokrasi.
Ketua Divisi Teknis Penyelenggaraan KPU Kota Probolinggo, Ilmiyah, membuka pemahaman peserta dengan membandingkan mekanisme pemilihan ketua OSIS dengan pemilu nasional. Ia menegaskan bahwa proses demokrasi pada level apa pun harus diatur melalui regulasi yang jelas dan transparan.
“Sama halnya dengan pemilihan ketua OSIS. Ada panitia, ada timeline, pendaftaran calon, penyampaian visi-misi, dan aturan tata cara memilih. Pemilu nasional pun demikian, hanya skalanya lebih besar,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan pentingnya memahami proses teknis, mulai pendaftaran peserta, pemeriksaan berkas, verifikasi faktual, hingga mekanisme pemungutan suara di TPS yang harus ramah bagi lansia dan penyandang disabilitas.
Ilmiyah berharap siswa kelak dapat terlibat sebagai penyelenggara pemilu di masa depan.
“Siapa tahu adik-adik nanti menjadi bagian dari KPU atau Bawaslu. Pemahaman teknis harus dipupuk sejak sekarang,” tegasnya.
Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas Bawaslu Kota Probolinggo, Putut Gunawarman Fitrianta. Ia menilai langkah Pemkot sangat strategis dalam membangun partisipasi generasi muda.
“Ini program positif untuk mempersiapkan generasi muda berperan dalam kehidupan demokrasi. Ke depan, KPU dan Bawaslu siap masuk ke sekolah-sekolah untuk memperkuat pemahaman mereka,” katanya.
Putut juga menyinggung etika politik, tugas pengawasan, serta potensi kerawanan demokrasi. Ia menekankan bahwa demokrasi harus berjalan jujur, damai, dan tanpa konflik.
Menariknya, Putut menyampaikan bahwa tahun 2025 menjadi awal pembentukan Kader Demokrasi di Kota Probolinggo, yang akan mulai berjalan terstruktur pada 2026 melalui program jangka pendek, menengah, dan panjang.
Materi terakhir disampaikan oleh Ketua Lembaga Pengkajian Kemasyarakatan dan Pembangunan (LPKP), Sukardi Mitho. Ia menegaskan bahwa pemilih pemula bukan sekadar peserta pemilu, tetapi agen perubahan.
“Pemilih pemula harus memahami isu demokrasi dan mampu berperan tanpa harus terus didorong. Demokrasi harus berjalan damai, santun, tanpa konflik,” tegasnya.
Sukardi juga mendorong pelajar membentuk komunitas demokrasi yang konsisten dan berkelanjutan.
Wawali Ina: Demokrasi Masa Depan Tak Lepas dari Digitalisasi
Kegiatan ini menjadi puncak Safari Pendidikan Politik 2025 dan dihadiri Wakil Wali Kota Probolinggo, Ina Dwi Lestari, yang memberi penguatan tentang pentingnya literasi demokrasi bagi generasi Z dan generasi Alfa.
Ina menegaskan bahwa pemahaman demokrasi tidak boleh dilepaskan dari perkembangan digital.
“Kenapa selebgram banyak yang muda? Karena mereka dekat dengan digital. Begitu juga demokrasi ke depan, tidak akan lepas dari digitalisasi,” tuturnya.
Menurutnya, generasi muda adalah kekuatan besar yang akan membuat gebrakan pada Pemilu 2029. Oleh sebab itu, mereka harus dibekali pemahaman politik yang tepat, bukan sekadar ikut-ikutan tren.
Ina mengapresiasi pembentukan struktur kader demokrasi yang melibatkan perwakilan setiap sekolah. Ia berharap struktur ini tidak hanya formalitas semata.
“Saya berharap hasil kegiatan ini tidak hanya ambyar. Harus ada program kerja yang berjalan dan bermanfaat,” ungkapnya.
Dalam sesi interaktif, Ina memberikan beberapa pertanyaan terkait esensi sosialisasi demokrasi, lengkap dengan hadiah untuk siswa yang berani tampil.
Bakesbangpol: Pemilih Pemula Harus Melek Politik, Bukan Alergi Politik
Kepala Bakesbangpol Kota Probolinggo, Sonhadji, menegaskan bahwa pembentukan Kader Demokrasi merupakan bagian dari ikhtiar pemerintah untuk meningkatkan kualitas demokrasi.
“Anak-anak SMA/SMK/MA adalah pemilih pemula di 2029. Mereka perlu pendidikan agar mampu mengajak teman-temannya ikut berpartisipasi,” ujar Sonhadji.
Ia menegaskan bahwa pendidikan politik bukan untuk membuat generasi muda alergi terhadap politik, tetapi agar memahami bahwa politik adalah sarana memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pemilihan pemimpin.
“Golnya adalah membentuk kader demokrasi yang bisa menjadi penggerak di sekolah masing-masing. Ke depan, mereka akan didampingi Bakesbangpol, KPU, dan Bawaslu,” jelasnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan pembentukan struktur kader demokrasi serta penyusunan rencana kerja awal untuk tahun pelaksanaan 2026.
Pewarta: Bambang
Editor: Edi D
Published: Editor Redaksi







