Probolinggo – Polemik mencuat di Desa Brabe, Dusun Klagin, RT 17 RW 07, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, setelah muncul rencana pembangunan jembatan baru oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Ironisnya, jembatan yang ada saat ini baru saja selesai dibangun secara swadaya oleh masyarakat dengan dana mencapai Rp164 juta.
Hari ini, Kamis (04/09/2025), Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, bersama jajaran dinas terkait melakukan mediasi dengan warga setempat. Mediasi digelar guna meredam gejolak penolakan, mengingat jembatan swadaya tersebut harus dibongkar demi pembangunan jembatan baru yang dinilai lebih layak secara konstruksi.
Penjelasan Kepala BPBD Probolinggo
Dalam keterangannya, Kepala BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, menyebutkan bahwa rencana pembangunan jembatan oleh Pemprov Jatim bertujuan memberikan fasilitas yang lebih aman dan kokoh bagi masyarakat.
“Ini sebenarnya hal yang wajar. Polemik muncul karena mungkin sosialisasi kami belum meluas. Jadi pertemuan ini untuk menyatukan persepsi. Pada intinya, pembangunan ini semata-mata demi masyarakat. Jembatan swadaya yang ada saat ini dinilai rawan dan bahkan sudah mengalami kerusakan. Untuk itulah akan dibangun kembali dengan konstruksi yang lebih bagus dan lebih kuat,” ungkap Oemar.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan para donatur yang telah berkorban demi membangun jembatan tersebut meski dengan dana terbatas.
“Kami tetap berterima kasih kepada masyarakat yang sudah berjuang. Namun setelah selesai dibangun, jembatan ini mengalami lendutan yang membahayakan. Maka perbaikan dengan konstruksi baru sangat dibutuhkan,” tambahnya.
Warga dan Donatur Kecewa
Sementara itu, Umar, tokoh masyarakat sekaligus koordinator penyandang dana pembangunan jembatan swadaya, tak bisa menutupi rasa kecewa. Baginya, pembongkaran jembatan yang baru saja selesai menjadi pukulan berat, terlebih dana yang dikeluarkan cukup besar, yakni sekitar Rp164 juta hasil swadaya masyarakat.
“Ini sangat ruwet. Jembatan itu baru beberapa bulan selesai, sudah bisa dipakai warga. Kalau memang harus dibongkar, saya akan konsultasikan dulu dengan para donatur dan warga yang ikut membangun. Pengorbanan ini tidak kecil, penuh perjuangan dan tetesan air mata. Kami sangat menyayangkan jika hasil swadaya sebesar ini harus sia-sia,” ujar Umar dengan nada kesal.
Perlunya Pendekatan Persuasif
Fenomena ini menjadi pembelajaran penting bagi pemerintah daerah maupun provinsi untuk lebih mengedepankan pendekatan persuasif dan sosialisasi sebelum mengambil langkah besar yang menyangkut kepentingan masyarakat. Tanpa komunikasi yang matang, pengorbanan dan perjuangan warga dikhawatirkan hanya akan berakhir sia-sia.
(Bambang)






