Probolinggo — Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 27 Rajab 1447 Hijriah dimanfaatkan Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Probolinggo untuk menegaskan kepedulian sosial terhadap para guru ngaji yang dinilai masih minim perhatian dari pemerintah daerah. Melalui pengajian dan doa bersama, GP Ansor menyalurkan santunan kepada para pendidik keagamaan di tingkat akar rumput.
Kegiatan tersebut digelar di Musholla Al-Hikmah, Kelurahan Jrebeng Wetan, Kota Probolinggo, Rabu (14/1/2026). Acara ini merupakan hasil kolaborasi GP Ansor Kota Probolinggo dengan PT Delta Artha Bahari Nusantara (DABN) serta Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Probolinggo.
Santunan diberikan kepada para guru ngaji yang selama ini berperan penting dalam mengajarkan dasar-dasar membaca Al Quran dan pembentukan akhlak generasi muda. Mereka dinilai memiliki kontribusi besar dalam pendidikan karakter masyarakat, meski kerap luput dari perhatian kebijakan kesejahteraan pemerintah.
Ketua PC GP Ansor Kota Probolinggo, Salamul Huda, mengatakan peringatan Isra Mikraj bukan sekadar seremoni keagamaan, tetapi juga momentum refleksi nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW, terutama terkait kepedulian terhadap sesama.
“Dalam peristiwa Isra Mikraj, Nabi Muhammad SAW menerima perintah salat sebagai fondasi utama kehidupan umat Islam. Dari sana, kami merefleksikan bahwa para guru ngaji adalah pihak yang selama ini menanamkan nilai-nilai dasar tersebut. Tanpa mereka, kita semua akan buta terhadap bacaan kitab suci Al Quran,” ujar Salamul Huda.
Menurutnya, perhatian terhadap kesejahteraan guru ngaji seharusnya menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah. Ia menilai, selama ini para guru ngaji mengabdi dengan penuh keikhlasan, namun belum diiringi dengan dukungan kebijakan yang memadai.
“Seharusnya kepedulian dan kesejahteraan guru ngaji menjadi perhatian serius Wali Kota Probolinggo. Mereka adalah pilar penting dalam pembentukan moral dan akhlak masyarakat,” katanya.
Salamul Huda juga menyinggung kebijakan pemerintah daerah terkait pemberian insentif atau gaji bagi RT dan RW yang dinilainya sudah berada di jalur yang tepat. Namun demikian, ia berharap kebijakan tersebut tidak mengesampingkan peran dan nasib guru ngaji.
“Kebijakan gaji RT dan RW itu sudah baik. Tetapi kami berharap pemerintah juga hadir untuk para guru ngaji di Kota Probolinggo. Akhlak dan moral anak-anak kita terbentuk dari ketulusan mereka yang mengajar tanpa pamrih,” tegasnya.
Ia menambahkan, langkah yang dilakukan GP Ansor bersama mitra kerja hanyalah bentuk kepedulian awal dan belum dapat menggantikan peran negara. Karena itu, Ansor mendorong adanya kebijakan berkelanjutan yang menyentuh kesejahteraan guru ngaji secara lebih sistematis.
Sementara itu, keterlibatan PT DABN dan KSOP Kelas IV Probolinggo dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari dukungan dunia usaha dan instansi vertikal terhadap kegiatan sosial-keagamaan di daerah. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara organisasi kepemudaan, pemerintah, dan sektor swasta dalam menjawab persoalan sosial di masyarakat.
Acara pengajian dan doa bersama berlangsung khidmat, diikuti oleh pengurus GP Ansor, para guru ngaji, tokoh masyarakat, serta perwakilan dari mitra kolaborator. Selain santunan, kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi dan penguatan nilai kebersamaan dalam memperingati peristiwa penting dalam sejarah Islam tersebut. (Bambang/**)







