banner 728x250

Lintas Kecamatan, Guru Multigrade Probolinggo Perkuat Mutu Pembelajaran di Tengah Keterbatasan

Lintas Kecamatan, Guru Multigrade Probolinggo Perkuat Mutu Pembelajaran di Tengah Keterbatasan
banner 120x600
banner 468x60

PROBOLINGGO – Upaya peningkatan mutu pendidikan dasar di Kabupaten Probolinggo terus diperkuat melalui kolaborasi lintas kecamatan. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) Diseminasi Kelas Rangkap atau Multigrade Kecamatan Wonomerto–Sumberasih, yang menjadi ruang strategis bagi para pendidik untuk saling berbagi praktik baik dan solusi pembelajaran.

Kegiatan yang mendapat dukungan dari INOVASI tersebut digelar di SDN Patalan 3 Kecamatan Wonomerto, Senin (19/1/2026). Forum ini difokuskan untuk menyatukan dan memperkuat praktik pembelajaran multigrade di sekolah-sekolah yang memiliki keterbatasan jumlah siswa maupun tenaga pendidik.

banner 325x300

Sebanyak 26 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri dari pengawas, kepala sekolah, dan guru dari lima sekolah pelaksana kelas rangkap di dua kecamatan. Tiga sekolah berasal dari Kecamatan Wonomerto, yakni SDN Kedungsupit 2, SDN Patalan 3, dan SDN Sumberkare 3, serta dua sekolah dari Kecamatan Sumberasih, yaitu SDN Laweyan 3 dan SDN Sumberbendo 1.

Pada putaran keempat KKG Multigrade ini, peserta secara intensif membahas penyusunan program tahunan (prota) dan program semester (promes) sebagai acuan pelaksanaan pembelajaran sesuai fase dalam Kurikulum Merdeka. Pembahasan dilakukan secara terstruktur berdasarkan Fase A (kelas 1–2), Fase B (kelas 3–4), dan Fase C (kelas 5–6), termasuk untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan PJOK.

Ketua KKG Multigrade Wonomerto–Sumberasih, Dyaretno Sulistyowati, menyampaikan bahwa keberlangsungan forum lintas kecamatan ini menjadi energi positif bagi para guru, khususnya yang mengajar di sekolah dengan sistem kelas rangkap.

“Sebagai Ketua KKG Multigrade, saya merasa sangat bahagia karena bisa memfasilitasi diskusi dan pertemuan guru dari dua kecamatan. Tantangannya memang bagaimana mencocokkan jadwal yang sama-sama padat, tetapi semangat kolaborasi membuat kegiatan ini tetap berjalan efektif,” ungkap Dyaretno.

Menurutnya, keterbatasan jumlah guru, fasilitas, maupun siswa tidak boleh menjadi alasan untuk menghadirkan pembelajaran yang seadanya. Justru, kondisi tersebut menuntut kreativitas dan inovasi pendidik.

“Dengan fasilitas terbatas, guru terbatas, dan siswa yang sedikit, bukan berarti pembelajaran juga terbatas. Kita tetap harus semangat menghadirkan pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan bermakna bagi anak-anak,” tegasnya.

Dyaretno menambahkan, KKG Multigrade juga berfungsi sebagai wadah berbagi praktik baik, baik dalam implementasi pembelajaran di kelas maupun dalam penyusunan administrasi guru seperti prota dan promes yang disepakati bersama sehingga dapat diterapkan secara seragam dan kontekstual.

Sementara itu, Kepala SDN Patalan 3, Noerul Hidayat, menilai keberadaan KKG Multigrade lintas kecamatan membawa dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di sekolahnya.

“KKG Multigrade yang melibatkan dua kecamatan ini sangat membantu lembaga kami dan rekan-rekan guru. Kami bisa berbagi pengalaman dengan sekolah lain yang memiliki kondisi murid dan fasilitas yang relatif sama,” ujarnya.

Menurut Noerul, diskusi yang berlangsung dalam forum KKG bersifat relevan dan aplikatif, sehingga solusi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan. “Pelaksanaan KKG secara rutin setiap bulan memberikan manfaat berkelanjutan bagi pengembangan profesional guru,” katanya.

Dari sisi kebijakan wilayah, Koordinator Wilayah (Korwil) Bidang Pendidikan dan Kebudayaan (Dikdaya) Kecamatan Wonomerto, Burhanuddin, mengungkapkan bahwa pembentukan KKG Multigrade lintas kecamatan berawal dari keresahan guru dalam mengelola pembelajaran kelas rangkap.

“Jumlah sekolah penerima SK Multigrade di satu kecamatan terbatas. Karena itu, kami berkoordinasi dengan kecamatan sebelah hingga terbentuk KKG Multigrade lintas korwil yang melibatkan lima sekolah,” jelas Burhanuddin.

Ia menambahkan, sejak dibentuk sekitar lima bulan lalu, KKG Multigrade Wonomerto–Sumberasih telah berjalan rutin setiap bulan dengan program kerja yang disusun oleh pengurus dan dikoordinasikan bersama para pengawas dari kedua wilayah. Meski terdapat tantangan dalam penyesuaian jadwal, komunikasi dan kompromi menjadi kunci keberlanjutan kegiatan.

Hal senada disampaikan Korwil Bidang Dikdaya Kecamatan Sumberasih, Maini Yudiningsih. Menurutnya, implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) dalam konteks multigrade harus melampaui tahap perencanaan administrasi.

“Pembelajaran multigrade yang sudah berbasis PM tidak boleh berhenti di atas kertas. Forum KKG ini harus menjadi ruang berbagi yang langsung diikuti dengan aksi nyata di lapangan,” tegasnya.

Maini juga menekankan pentingnya percepatan implementasi PM karena Kecamatan Sumberasih diproyeksikan sebagai role model pendidikan dasar di Kabupaten Probolinggo. “Guru harus benar-benar hadir dan berinteraksi langsung dengan siswa. Di situlah pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berdampak,” pungkasnya.

Melalui refleksi, diskusi, dan kolaborasi berkelanjutan, KKG Multigrade Wonomerto–Sumberasih diharapkan terus menjadi contoh praktik baik kolaboratif dalam meningkatkan mutu pendidikan dasar, khususnya di sekolah-sekolah dengan karakteristik kelas rangkap di Kabupaten Probolinggo. (Bambang)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *