banner 728x250

Rupiah Melemah Saat Won dan Ringgit Menguat di Perdagangan Asia

Rupiah Melemah Saat Won dan Ringgit Menguat di Perdagangan Asia
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Perdagangan mata uang Asia pada Senin, 12 Oktober 2026, berlangsung beragam. Sejumlah mata uang regional menguat terhadap dolar Amerika Serikat, sementara lainnya bergerak melemah atau stagnan. Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09.26 WIB, enam dari 10 mata uang Asia tercatat menguat, tiga mata uang melemah, dan satu mata uang bergerak stagnan. Pola tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar merespons perkembangan eksternal secara berbeda di tiap negara, meskipun seluruh pasar masih dipengaruhi arah pergerakan dolar AS.

Di Indonesia, rupiah menjadi salah satu mata uang yang berada di zona merah. Nilai tukar rupiah melemah 0,06 persen ke level Rp17.885 per dolar AS. Pelemahan itu menempatkan rupiah berlawanan arah dengan sejumlah mata uang utama Asia, termasuk won Korea Selatan dan ringgit Malaysia yang menguat pada awal perdagangan. Pergerakan rupiah menjadi perhatian karena terjadi ketika pasar valuta asing regional masih berusaha menentukan arah setelah dibuka pada awal pekan.

banner 325x300

Tekanan terhadap rupiah berlangsung meskipun dolar AS hanya mengalami koreksi tipis dalam perdagangan Asia pagi tersebut. Mata uang Amerika Serikat itu juga masih bertahan dekat level tertinggi dalam 18 bulan, sehingga ruang penguatan bagi mata uang regional tetap terbatas. Kondisi dolar yang relatif kuat dapat mendorong investor untuk lebih berhati-hati terhadap aset berdenominasi mata uang lokal, terutama ketika belum terdapat katalis domestik yang cukup kuat untuk mengubah sentimen pasar. Dengan demikian, pelemahan rupiah pada sesi awal mencerminkan kombinasi pengaruh dolar AS dan dinamika regional, bukan perubahan seragam di seluruh pasar Asia.

Pergerakan mata uang Asia pada perdagangan kali ini menunjukkan kecenderungan yang beragam, dengan mayoritas mata uang regional berada di zona penguatan. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan kenaikan paling besar, yakni 0,41%, sehingga berada pada posisi KRW1.334,9 per dolar AS. Penguatan tersebut menempatkan won sebagai pemimpin kinerja mata uang Asia dalam perdagangan yang diamati.

Di bawah won, ringgit Malaysia menguat 0,10%, sementara dolar Singapura bertambah 0,09%. Yen Jepang juga mencatat kenaikan sebesar 0,08%, disusul dong Vietnam yang naik 0,07%. Baht Thailand bergerak lebih terbatas dengan penguatan tipis 0,03%. Urutan tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan mata uang Asia berlangsung dalam skala yang berbeda, meskipun arahnya secara umum cenderung positif. Peso Filipina menjadi pengecualian di mata uang yang tercatat menguat dan melemah karena pergerakannya tidak berubah.

Tekanan terlihat pada sejumlah mata uang lainnya. Dolar Taiwan mencatat pelemahan terdalam, yaitu 0,11%. Rupiah menyusul dengan penurunan 0,06%, sedangkan yuan China melemah 0,01%. Data tersebut memperlihatkan kontras penguatan mayoritas mata uang Asia dan kinerja rupiah yang masih berada di zona merah. Dengan demikian, meskipun won memimpin penguatan regional dan beberapa mata uang lain turut bergerak naik, rupiah belum mengikuti arah penguatan mayoritas tersebut. Posisi ini menegaskan beragamnya kinerja mata uang di kawasan dalam satu sesi perdagangan, tanpa mengubah fakta bahwa pergerakan setiap mata uang tercatat berbeda.

Indeks dolar AS (DXY) turun 0,07% ke level 102,145 dalam perdagangan Asia. Namun, koreksi terbatas tersebut belum menghapus tekanan greenback terhadap mata uang global. Dolar masih berada dekat level tertinggi dalam 18 bulan, sehingga pergerakannya tetap menjadi perhatian utama investor dan turut membatasi penguatan sejumlah mata uang regional, termasuk rupiah.

Sumber menyebut ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kekhawatiran mengenai arah harga energi sebagai faktor yang menopang kekuatan dolar. Kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi. Pada akhir pekan, dua kapal tanker juga dilaporkan menjadi sasaran serangan. Perkembangan itu mendorong investor untuk tetap berhati-hati, terutama karena risiko gangguan terhadap pasokan energi masih terbuka. Dalam kondisi seperti ini, permintaan terhadap dolar cenderung bertahan karena mata uang tersebut dipandang sebagai aset aman.

Pergerakan minyak justru berlangsung berlawanan. Harga minyak mentah Brent turun sekitar 1% menjadi US$103,55 per barel setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata energi Rusia dan Ukraina pada pekan tersebut. Kendati demikian, analis Commonwealth Bank of Australia menilai harga minyak dan dolar AS masih dapat memperoleh dukungan apabila serangan Houthi terhadap aset energi Arab Saudi berlanjut. Risiko tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global. Di sisi lain, belum terlihat terobosan besar dalam upaya perdamaian AS-Iran pada pekan itu. Iran memang mengonfirmasi telah menerima proposal perdamaian dari Amerika Serikat melalui perantara, tetapi perkembangan tersebut belum cukup untuk meredakan seluruh ketidakpastian geopolitik. Investor pun masih menimbang kemungkinan eskalasi lanjutan, sehingga posisi dolar tetap relatif kuat meskipun indeksnya mengalami penurunan harian.

Perhatian pelaku pasar kini beralih pada agenda ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah dolar AS dan mata uang regional, termasuk rupiah. Data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS untuk September dijadwalkan dirilis pada Rabu. Laporan tersebut menjadi salah satu data ekonomi penting terakhir sebelum rapat kebijakan Federal Reserve atau The Fed pada akhir Oktober, sehingga hasilnya dapat memengaruhi ekspektasi terhadap suku bunga dan pergerakan pasar valuta asing.

The Fed menaikkan suku bunga pada September untuk pertama kalinya sejak 2023. Karena itu, pasar menunggu apakah tekanan inflasi masih cukup kuat untuk mendorong kenaikan lanjutan atau justru memberi ruang bagi bank sentral untuk menahan kebijakan. Proyeksi CME FedWatch menunjukkan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini mencapai 81%, naik dari 51% sebulan sebelumnya. Perubahan tersebut secara terbatas mencerminkan bahwa pasar mulai memperkirakan jeda setelah kenaikan bunga pada bulan lalu.

Jika inflasi September tercatat lebih rendah daripada perkiraan, dolar AS berpotensi mengambil napas setelah mengalami penguatan. Data yang lebih lunak dapat mengurangi dorongan bagi The Fed untuk segera melanjutkan pengetatan, meskipun arah pasar tetap akan bergantung pada rincian laporan, terutama perkembangan inflasi inti. Sebaliknya, angka yang lebih tinggi dapat memperkuat spekulasi mengenai kenaikan suku bunga tambahan dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Barclays menilai reli dolar dalam jangka pendek berpeluang tertahan. Gejolak besar di pasar obligasi telah mengetatkan kondisi keuangan global, sehingga ruang bagi penguatan dolar lebih lanjut dapat menjadi terbatas. Selain itu, apabila inflasi menunjukkan tanda-tanda mereda, para pejabat The Fed mungkin memilih nada yang lebih menenangkan menjelang rapat Oktober. Perpaduan data inflasi, ekspektasi suku bunga, dan kondisi obligasi global akan menjadi faktor penting bagi pergerakan rupiah serta mata uang Asia lainnya.

Baca juga: IHSG Alami Koreksi Sesi I Dengan Saham Prajogo Pangestu Menguat | BRICS Mendorong Inisiatif Penggunaan Mata Uang Lokal untuk Perdagangan

banner 325x300