Jakarta | Enam aktivis Greenpeace Indonesia dibawa ke Klinik Biddokkes Polda Metro Jaya setelah melakukan aksi pemanjatan Monumen Selamat Datang di Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Mereka dievakuasi setelah turun dari monumen dan tampak lemas. Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena kondisi para aktivis terlihat menurun seusai mereka menyelesaikan aksi di salah satu ruang publik yang ramai di ibu kota. Informasi yang disampaikan menyebut tujuan evakuasi adalah klinik kepolisian, bukan rumah sakit. Karena itu, keterangan mengenai lokasi penanganan perlu disampaikan secara tepat dan tidak diperluas menjadi klaim bahwa mereka menjalani perawatan di rumah sakit.
Evakuasi dilakukan setelah para aktivis berada di bawah monumen. Tampilan lemas menjadi alasan yang disebut dalam keterangan mengenai tindakan tersebut, tetapi belum ada rincian tentang keluhan khusus, pemeriksaan medis, atau hasil penilaian tenaga kesehatan. Dengan informasi terbatas itu, kondisi mereka dapat dijelaskan sebatas tampak lemas setelah turun dan kemudian dibawa ke Klinik Biddokkes Polda Metro Jaya. Tidak ada dasar dalam keterangan yang tersedia untuk menyebut mereka mengalami cedera tertentu, kehilangan kesadaran, atau harus menjalani perawatan lanjutan. Perbedaan evakuasi menuju klinik dan perawatan di rumah sakit juga penting agar laporan mengenai keadaan para aktivis tetap akurat.
Aksi berlangsung di Monumen Selamat Datang, Bundaran HI, kawasan Jakarta Pusat. Setelah pemanjatan berakhir, proses evakuasi menjadi bagian dari perkembangan peristiwa yang dilaporkan. Fokus informasi yang tersedia adalah jumlah aktivis, lokasi aksi, waktu kejadian, dan tujuan mereka dibawa setelah turun dari monumen. Keterangan tersebut belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai durasi pemeriksaan di klinik ataupun kondisi mereka setelah tiba di sana. Dengan demikian, pembaca sebaiknya membedakan fakta yang telah disebutkan dari hal-hal yang belum dipastikan. Fakta utamanya tetap bahwa enam aktivis Greenpeace Indonesia tampak lemas setelah turun dan dievakuasi ke Klinik Biddokkes Polda Metro Jaya pada Selasa tersebut.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Reynold E.P. Hutagalung mengatakan kepolisian mengerahkan enam unit ambulans untuk mengevakuasi enam aktivis Greenpeace setelah aksi di Monumen Selamat Datang. Ambulans tersebut digunakan untuk membawa para aktivis agar dapat menjalani pemeriksaan dan memperoleh perawatan medis lebih lanjut. Keterangan itu menjelaskan langkah yang diambil petugas setelah para aktivis dievakuasi dari lokasi aksi.
Menurut Reynold, kondisi para aktivis saat itu terlihat lemas. Ia juga menyebut aktivis perempuan yang turun pertama memerlukan bantuan oksigen tambahan. Informasi tersebut disampaikan sebagai keterangan mengenai keadaan mereka ketika proses evakuasi berlangsung. Bantuan oksigen diberikan kepada aktivis perempuan tersebut, sementara para aktivis dibawa menggunakan ambulans untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
Pengerahan enam ambulans menjadi bagian dari upaya membawa seluruh aktivis untuk diperiksa oleh tenaga medis. Pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut diperlukan agar kondisi masing-masing dapat ditangani sesuai kebutuhan medis. Keterangan kepolisian yang disampaikan Reynold memuat dua hal utama, yakni kondisi para aktivis yang terlihat lemas dan kebutuhan aktivis perempuan yang turun pertama terhadap tambahan oksigen. Ia tidak menguraikan rincian hasil pemeriksaan medis dalam keterangan tersebut.
Dalam menyampaikan informasi mengenai evakuasi, Reynold menjelaskan bahwa kepolisian menyiapkan kendaraan medis untuk membawa para aktivis dari lokasi. Jumlah ambulans yang dikerahkan disebut sebanyak enam unit, sejalan dengan upaya membawa mereka untuk memperoleh pemeriksaan serta perawatan berikutnya. Adapun mengenai kondisi mereka, informasi yang diberikan terbatas pada pengamatan bahwa para aktivis tampak lemas dan bahwa seorang aktivis perempuan memerlukan bantuan oksigen tambahan.
Keterangan tersebut tidak menjelaskan penyebab kondisi lemas maupun alasan medis khusus yang membuat aktivis perempuan itu membutuhkan oksigen. Karena itu, informasi mengenai kondisi mereka dapat dipahami berdasarkan pernyataan Reynold tanpa menarik kesimpulan di luar keterangan yang tersedia. Fokus keterangan kepolisian adalah proses evakuasi, jumlah ambulans yang dikerahkan, dan kebutuhan pemeriksaan serta perawatan lanjutan bagi para aktivis.
Enam orang yang dievakuasi dari lokasi aksi di Monumen Selamat Datang dibawa untuk mendapatkan penanganan medis. Mereka terdiri atas dua perempuan dan empat laki-laki. Rincian tersebut memberikan gambaran mengenai jumlah serta komposisi orang yang memperoleh bantuan setelah aksi Greenpeace berlangsung di kawasan itu. Informasi yang disampaikan tidak merinci identitas masing-masing orang maupun kondisi kesehatan mereka, sehingga keadaan medis para aktivis tidak dapat disimpulkan lebih jauh.
Penanganan terhadap keenam orang tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan keselamatan mereka setelah berada di lokasi aksi. Evakuasi untuk memperoleh pertolongan medis dilakukan sebelum kepolisian meneruskan prosedur hukum yang berkaitan dengan kegiatan tersebut. Urutan ini menempatkan kebutuhan keselamatan dan penanganan kondisi para aktivis sebagai perhatian awal, sebelum proses kepolisian berlanjut sesuai prosedur yang berlaku.
Kepolisian menyatakan prioritasnya adalah memastikan para aktivis mendapat penanganan yang diperlukan. Setelah aspek keselamatan menjadi perhatian, prosedur hukum terkait aksi itu dapat diteruskan. Pernyataan tersebut menjelaskan urutan penanganan, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan status hukum keenam orang yang dievakuasi. Tidak ada rincian lebih lanjut yang dapat digunakan untuk menyimpulkan apakah mereka telah dikenai tindakan hukum tertentu atau apa langkah berikutnya.
Dengan demikian, informasi yang tersedia mengenai evakuasi ini terbatas pada jumlah orang yang dibawa untuk memperoleh penanganan medis, komposisi dua perempuan dan empat laki-laki, serta prioritas polisi terhadap keselamatan sebelum melanjutkan prosedur terkait aksi. Pemisahan fakta yang telah disampaikan dan hal-hal yang belum dijelaskan penting agar pemberitaan tidak menambahkan dugaan mengenai kondisi para aktivis ataupun proses hukum mereka. Perkembangan selanjutnya hanya dapat dipastikan apabila terdapat keterangan resmi tambahan dari pihak terkait. Hingga informasi tersebut tersedia, rincian yang dapat ditegaskan tetap berfokus pada evakuasi dan urutan prioritas penanganan.Greenpeace menggelar aksi di Monumen Selamat Datang, Bundaran HI, bertepatan dengan peringatan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pemilihan waktu tersebut menempatkan aksi di tengah momentum yang menandai perjalanan pemerintahan selama dua tahun. Dalam kegiatan itu, para aktivis menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah, dengan perhatian pada penanganan krisis iklim dan beban biaya hidup yang dirasakan masyarakat. Aksi tersebut menghubungkan evaluasi atas kebijakan publik dengan persoalan yang dinilai penting bagi kehidupan sehari-hari.
Di puncak patung Bundaran HI, para aktivis membentangkan spanduk yang memuat pesan kritik. Isi pesannya berkaitan dengan kebijakan penanganan krisis iklim serta biaya hidup masyarakat. Dengan menempatkan spanduk di lokasi tersebut, Greenpeace menyampaikan tuntutan dan pandangannya kepada publik melalui aksi yang terlihat di ruang kota. Pesan itu menyoroti dua ranah yang saling terkait dalam perdebatan kebijakan: tanggapan terhadap ancaman iklim dan dampak pengeluaran sehari-hari. Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai kalimat persis yang tercantum pada spanduk dalam uraian ini.
Kesesuaian waktu aksi dengan peringatan dua tahun pemerintahan memberi konteks politik bagi pesan yang disampaikan. Greenpeace menggunakan momen tersebut untuk mengangkat penilaian terhadap arah kebijakan, bukan sekadar memperingati pergantian waktu pemerintahan. Fokus pada krisis iklim menunjukkan perhatian terhadap cara pemerintah menghadapi persoalan lingkungan, sementara sorotan pada biaya hidup menempatkan kondisi ekonomi masyarakat sebagai bagian dari kritik. Kedua isu itu disampaikan dalam satu aksi, tanpa mengubahnya menjadi klaim terperinci tentang kebijakan tertentu.
Baca juga: Ucapan Selamat Prabowo untuk Peringatan PAN ke-28











