Kota Palembang | Sumatera Selatan sedang mengkaji penggunaan teknologi penyemaian dry ice atau karbon dioksida padat sebagai salah satu alternatif untuk membantu mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Gagasan ini muncul di tengah kondisi kualitas udara yang dapat menurun ketika asap kebakaran bertahan lama dan menyelimuti sejumlah wilayah. Melalui penyemaian bahan tertentu ke atmosfer, para pengkaji berharap proses alami pembentukan awan dan perubahan kondisi udara dapat berlangsung lebih efektif, sehingga kabut asap berpeluang terurai atau terdorong menjauh dari kawasan terdampak.
Dry ice memiliki suhu yang sangat rendah dan dapat berubah langsung dari bentuk padat menjadi gas. Karakteristik tersebut menjadi dasar pertimbangan untuk meneliti kemungkinan pemanfaatannya dalam memengaruhi kondisi atmosfer, terutama ketika terdapat kelembapan dan pola cuaca yang mendukung. Mekanisme ini tidak dimaksudkan untuk menghilangkan sumber kebakaran, melainkan sebagai upaya tambahan untuk membantu mengurangi dampak asap yang terperangkap di suatu wilayah. Hasil yang diperoleh nantinya akan sangat bergantung pada keadaan cuaca, arah angin, tingkat kelembapan, serta luas dan intensitas kebakaran.
Penting ditegaskan bahwa penyemaian karbon dioksida padat tersebut masih berada dalam tahap kajian. Metode ini belum menjadi teknologi yang diterapkan secara luas dan belum dapat dipastikan selalu berhasil mengurai kabut asap. Penilaian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui efektivitas, keamanan, kebutuhan logistik, serta potensi dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat. Kajian juga perlu dilakukan secara terukur dengan melibatkan data meteorologi dan pemantauan kualitas udara sebelum, selama, dan setelah pelaksanaan uji coba. Karena itu, penanganan utama tetap berfokus pada pencegahan kebakaran, pemadaman titik api, penegakan aturan, serta perlindungan kesehatan warga. Teknologi dry ice dipertimbangkan sebagai pelengkap, bukan pengganti langkah pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyampaikan bahwa provinsinya menjadi salah satu wilayah prioritas untuk uji coba teknologi penyemaian karbon dioksida padat atau dry ice. Pernyataan tersebut menempatkan Sumatera Selatan dalam rencana penerapan pendekatan baru untuk membantu mengurai kabut asap yang muncul di wilayah terdampak. Penetapan sebagai wilayah prioritas menunjukkan bahwa kondisi kabut asap di provinsi tersebut menjadi perhatian dalam pembahasan pemanfaatan teknologi ini.
Palembang disebut sebagai salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam rencana uji coba tersebut. Sebagai ibu kota Sumatera Selatan, Palembang turut terdampak kabut asap sehingga dipertimbangkan dalam penerapan teknologi dry ice. Rencana ini masih berada dalam tahap kajian dan persiapan uji coba. Karena itu, informasi mengenai pelaksanaannya menjadi bagian dari pembahasan penanganan kabut asap, bukan keterangan bahwa teknologi tersebut telah diterapkan di Palembang.
Herman Deru menyampaikan hal itu setelah mengikuti rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan secara daring dari Palembang pada Senin. Dalam rapat tersebut, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rencana inovasi baru berupa penyemaian karbon dioksida padat untuk membantu mengurai kabut asap. Inovasi itu disebut sebagai hasil kerja sama Indonesia dan Thailand. Penyampaian tersebut menjadi dasar bagi Sumatera Selatan untuk dikaji sebagai salah satu wilayah prioritas uji coba, dengan Palembang mendapat perhatian karena terdampak kabut asap.
Rencana pemanfaatan dry ice ini memperlihatkan adanya upaya mencari pendekatan baru dalam menghadapi persoalan kabut asap. Bagi Sumatera Selatan, status sebagai wilayah prioritas membuka kemungkinan dilakukannya pengujian teknologi tersebut setelah tahapan kajian dan persiapan dipenuhi. Palembang menjadi bagian penting dari perhatian itu karena dampak kabut asap dirasakan di wilayah tersebut. Namun, pelaksanaan uji coba tetap menunggu tindak lanjut dari rencana yang disampaikan dalam koordinasi penanganan karhutla.
Rencana penyemaian karbon dioksida padat atau dry ice akan diarahkan ke lokasi-lokasi strategis yang paling terdampak kabut asap. Bandara dan lapangan udara milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi prioritas awal karena kawasan tersebut memiliki akses operasional, fasilitas pendukung, serta ruang yang memungkinkan pelaksanaan uji coba secara lebih terukur. Penentuan lokasi juga akan mempertimbangkan kondisi kabut asap, arah angin, keamanan penerbangan, dan kesiapan sarana di lapangan.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyampaikan bahwa penerapan metode tersebut tidak berhenti pada pembahasan awal. Menurutnya, uji coba dengan skala yang lebih besar direncanakan berlangsung di Sumatera Selatan. Pelaksanaan itu diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai efektivitas penyemaian dry ice dalam membantu mengurai kabut asap, sekaligus menjadi bahan evaluasi sebelum metode serupa diterapkan secara lebih luas. Tahapan uji coba tetap memerlukan koordinasi antarlembaga dan pengawasan teknis agar tidak mengganggu aktivitas penerbangan maupun keselamatan masyarakat.
Untuk mendukung distribusi bahan, pengangkutan dry ice akan memanfaatkan pesawat Hercules sesuai arahan Presiden. Pesawat tersebut dipandang dapat membantu membawa muatan ke wilayah sasaran secara lebih cepat, terutama apabila lokasi penyemaian berada di area yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Dukungan mobilisasi ini akan disesuaikan dengan kebutuhan, kapasitas angkutan, dan ketentuan keselamatan penerbangan.
Narasumber terkait menegaskan bahwa lokasi strategis dipilih sebagai titik penerapan awal karena kesiapan infrastrukturnya lebih memadai dan dampak kabut asap di sekitarnya dapat dipantau. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah dapat menilai hasil penyemaian secara bertahap, mengidentifikasi kendala teknis, serta menentukan langkah lanjutan berdasarkan data. Prioritas terhadap bandara dan lapangan udara TNI juga menunjukkan bahwa pelaksanaan akan dilakukan secara terencana, bukan sebagai tindakan yang langsung diterapkan tanpa pengujian.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa penyemaian karbon dioksida padat atau dry ice masih berada dalam tahap kajian. Metode ini belum diposisikan sebagai solusi yang siap diterapkan, melainkan sebagai salah satu alternatif untuk menangani kabut asap melalui pengaruhnya terhadap kondisi atmosfer. Kajian tersebut diarahkan untuk memahami apakah partikel dry ice dapat membantu mengubah lingkungan udara yang menghambat pembentukan dan perkembangan awan di wilayah terdampak.
Salah satu kondisi yang menjadi perhatian ialah lapisan inversi. Dalam keadaan normal, suhu udara cenderung menurun ketika ketinggian bertambah. Namun, pada lapisan inversi, suhu justru meningkat seiring bertambahnya ketinggian dalam lapisan atmosfer tertentu. Struktur ini dapat membuat udara di dekat permukaan lebih sulit bergerak secara vertikal. Akibatnya, asap dari kebakaran lahan atau sumber pencemar lain dapat tertahan dan menumpuk di suatu wilayah, terutama ketika angin permukaan lemah. Lapisan tersebut juga dapat mengganggu pertumbuhan awan karena perkembangan udara ke atas menjadi terbatas.
Konsep yang sedang dipelajari melalui penggunaan dry ice ialah mengurangi faktor penghambat pertumbuhan awan, bukan secara langsung menghilangkan asap. Apabila kondisi atmosfer menjadi lebih mendukung bagi pertumbuhan awan dan pergerakan vertikal udara, asap yang terjebak di dekat permukaan diharapkan dapat terdorong keluar mengikuti arah angin. Efektivitasnya tetap memerlukan pengamatan, perhitungan atmosfer, serta evaluasi terhadap kondisi cuaca setempat. Wandayantolis menegaskan bahwa pendekatan ini berbeda dari teknik penyemaian awan yang umumnya bertujuan merangsang turunnya hujan. Dalam kajian tersebut, sasaran utamanya adalah memengaruhi kondisi atmosfer yang menyebabkan asap tertahan, sehingga proses pelepasan dan penyebarannya dapat berlangsung lebih baik.







