Langsa – Pada tanggal 28 oktober 2026, tradisi dan nilai keagamaan masyarakat aceh. Memiliki peran penting, dalam membangun ketahanan psikologis perempuan. Khususnya, mereka yang pernah mengalami konflik. Kearifan lokal seperti Do Da Idi dan Syair Prang Sabi, tidak hanya menjadi bagian dari kekayaan budaya. Tetapi juga menyimpan nilai-nilai yang dapat membantu perempuan menghadapi tekanan, mengatasi pengalaman traumatis serta menata kembali kehidupan setelah melewati masa sulit.
Koordinator program studi pendidikan sejarah universitas samudra (UNSAM), Reni Nuryanti. S,Pd. M,A. Mengungkapkan, bahwa kemampuan perempuan penyintas konflik aceh. Dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, berkaitan erat dengan tiga aspek psikologis. Yakni resiliensi, psychological well-being. Dan mekanisme coping, ketiganya berperan dalam membantu individu menerima pengalaman masa lalu. Mengelola tekanan emosional, serta menemukan kembali makna dan tujuan hidup.
Reni menjelaskan, bahwa resiliensi merupakan kemampuan untuk bangkit setelah mengalami kesulitan. Sementara psychological well-being, berkaitan dengan penerimaan diri. Dan kemampuan menjalani kehidupan secara bermakna, ada pun mekanisme coping menjadi cara seseorang menghadapi dan mengelola tekanan yang dialami. Ketiga aspek tersebut, saling berkaitan. Dalam membentuk kemampuan bertahan hidup (survival ability) yang kuat, menurutnya. Proses pemulihan psikologis perempuan aceh, juga didukung oleh nilai-nilai budaya dan ajaran islam. Yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat, tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Tidak hanya menjadi identitas sosial, tetapi juga menghadirkan ketenangan. Harapan, dan kekuatan batin. Ketika individu menghadapi situasi, yang penuh tekanan.
Salah satu tradisi yang memiliki makna mendalam adalah Do Da Idi, yaitu lagu pengantar tidur yang biasa dilantunkan para ibu kepada anak-anaknya. Di balik irama yang menenangkan, tradisi ini mengandung doa. Shalawat, harapan akan keselamatan. Serta pesan-pesan moral, dalam situasi konflik. Lantunan Do Da Idi menjadi sarana bagi para ibu, untuk menghadirkan rasa aman bagi anak sekaligus menjaga ketenangan diri.
“Do Da Idi, bukan sekadar lagu pengantar tidur. Ketika dinyanyikan di tengah situasi yang penuh ketakutan, lantunan tersebut. Menghadirkan doa, shalawat. Ketenangan, dan nilai keberanian. Hal ini, menjadi salah satu cara perempuan aceh. Dalam mengurangi trauma dan menjaga kekuatan psikologis,” ungkap Reni.
Selain Do Da Idi, Syair Prang Sabi. Juga menjadi warisan budaya, yang mengandung nilai-nilai perjuangan. Keberanian, kesabaran. Keteguhan hati, pengorbanan. Dan keyakinan kepada Allah SWT, nilai-nilai tersebut. Membentuk karakter masyarakat aceh, sekaligus menjadi kekuatan moral. Dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, dalam konteks perempuan penyintas konflik. Warisan budaya tersebut, dapat memberikan makna dan penguatan dalam menjalani proses pemulihan.
Lebih lanjut, Reni menilai. Bahwa kearifan lokal aceh, memiliki potensi sebagai sumber daya psikososial yang mendukung pemulihan pasca konflik. Tradisi lisan, syair. Dan nilai-nilai religius dapat menjadi sarana, untuk menumbuhkan harapan. Mengelola tekanan emosional, serta menjaga kesejahteraan psikologis. Nilai-nilai tersebut, juga relevan bagi generasi muda. Dalam membangun karakter yang tangguh, dan menghadapi tantangan kehidupan masa kini.
“Kearifan lokal perlu terus dilestarikan dan dipahami sebagai sumber pengetahuan yang memiliki nilai penting dalam kehidupan, di dalamnya terdapat pelajaran. Tentang bagaimana seseorang dapat bertahan, bangkit. Dan berkembang setelah menghadapi masa-masa sulit,” tutup Reni.
Temuan tersebut, memperlihatkan. Bahwa warisan budaya aceh, memiliki makna yang lebih luas dari pada sekadar tradisi. Yang diwariskan antargenerasi, Do Da Idi dan Syair Prang Sabi menjadi gambaran. Bagaimana budaya dan nilai keagamaan, dapat berkontribusi. Dalam membangun ketahanan psikologis, khususnya. Bagi perempuan penyintas konflik, sekaligus memperkuat identitas dan karakter masyarakat aceh.
(Jihandak Belang/Sumber : H A Muthalib)






