Jakarta | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengevaluasi prosedur keselamatan dalam operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Langkah tersebut dilakukan setelah jumlah petugas dan relawan gabungan yang gugur dalam tragedi pemadaman di Gunung Bromo bertambah menjadi enam orang. Peristiwa ini menjadi perhatian serius karena memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi personel ketika bekerja di medan kebakaran terbuka.
Evaluasi keselamatan diperlukan untuk meninjau bagaimana operasi direncanakan, dilaksanakan, dan dipantau, terutama saat kondisi di lapangan berubah dengan cepat. Dalam penanganan karhutla, petugas dapat menghadapi pergerakan api, asap tebal, angin yang berubah arah, medan terjal, serta keterbatasan akses dan komunikasi. Karena itu, prosedur perlu memastikan bahwa setiap personel memahami kondisi bahaya, jalur keluar, serta langkah yang harus ditempuh apabila situasi memburuk. Pengaturan komando dan koordinasi antartim juga penting agar keputusan lapangan dapat disampaikan secara jelas.
Peninjauan dapat menjadi dasar untuk memperkuat perlindungan bagi petugas dan relawan sebelum maupun selama operasi berlangsung. Aspek yang perlu dicermati mencakup penilaian risiko, pembekalan, penggunaan perlengkapan pelindung, pemantauan kondisi personel, dan kesiapan evakuasi. Penghentian atau penyesuaian kegiatan ketika risiko meningkat juga perlu menjadi bagian dari pertimbangan operasional. Prosedur yang baik harus dapat diterapkan secara nyata di lapangan, bukan hanya tercantum dalam pedoman.
Tragedi yang merenggut enam nyawa tersebut menegaskan bahwa keselamatan personel perlu ditempatkan sejajar dengan upaya mengendalikan kebakaran dan melindungi kawasan. Hasil evaluasi BNPB diharapkan dapat membantu memperjelas standar kerja bersama bagi seluruh unsur yang terlibat di TNBTS. Dengan koordinasi yang kuat dan penerapan langkah keselamatan yang konsisten, operasi pemadaman dapat dijalankan dengan lebih terukur, sekaligus mengurangi paparan bahaya bagi petugas serta relawan yang bertugas.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa lembaganya masih mempelajari laporan serta kronologi insiden yang merenggut nyawa enam petugas saat pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo. Pernyataan itu disampaikan pada Minggu, 25 Oktober 2026. BNPB belum menyampaikan kesimpulan mengenai rangkaian kejadian, sebab informasi yang tersedia masih ditelaah sebelum penilaian dapat dilakukan.
Menurut Berton, penelaahan mencakup laporan yang diterima dan urutan peristiwa di lapangan. Langkah tersebut diperlukan untuk memahami situasi yang dihadapi para petugas selama operasi pemadaman, termasuk kondisi ketika kejadian berlangsung. Hingga proses pemeriksaan informasi itu berjalan, BNPB belum memastikan bagaimana insiden terjadi maupun faktor yang mungkin berperan. Karena itu, keterangan awal lembaga tersebut masih berfokus pada proses pengumpulan dan kajian, bukan pada penetapan penyebab atau tanggung jawab.
BNPB juga belum menyimpulkan apakah prosedur operasional standar telah diterapkan secara efektif dalam operasi tersebut. Pertanyaan mengenai kepatuhan terhadap prosedur masih menjadi bagian dari hal yang perlu diperiksa bersama laporan dan kronologi kejadian. Demikian pula, belum ada penilaian akhir apakah alat pelindung diri yang digunakan petugas sudah memadai untuk menghadapi kondisi di lokasi pemadaman. Berton tidak menyampaikan kepastian atas kedua aspek itu dalam pernyataannya pada Minggu tersebut.
Dengan demikian, efektivitas prosedur dan kecukupan perlindungan bagi personel belum dapat dinyatakan berdasarkan keterangan yang tersedia saat ini. BNPB masih mempelajari informasi sebelum memberikan penilaian lebih lanjut, sehingga penting membedakan hal yang telah dikonfirmasi dan hal yang masih ditelaah. Untuk sementara, lembaga tersebut belum menyatakan bahwa standar operasi telah dijalankan dengan baik ataupun bahwa perlengkapan keselamatan tidak memadai. Kesimpulan mengenai aspek-aspek itu menunggu kajian atas laporan serta kronologi secara menyeluruh.
Berton menegaskan bahwa keselamatan petugas dan relawan harus menjadi prioritas dalam setiap operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Penegasan ini penting terutama ketika tim bekerja di kawasan dengan medan sulit, kondisi cuaca yang berubah, serta potensi bahaya yang dapat berkembang cepat. Upaya memadamkan api tidak boleh mengabaikan perlindungan orang-orang yang bertugas di lapangan. Setiap keputusan operasional perlu mempertimbangkan risiko, kemampuan personel, dan situasi terkini agar penanganan berlangsung secara terukur. Prinsip tersebut berlaku sejak persiapan, selama pemadaman, hingga seluruh personel kembali dari lokasi operasi.
Menurut Berton, keselamatan operasi membutuhkan komando yang jelas agar setiap petugas memahami siapa yang mengambil keputusan, kepada siapa laporan disampaikan, dan tindakan apa yang perlu dilakukan. Kejelasan struktur komando membantu mencegah instruksi yang saling bertentangan, sekaligus mendukung koordinasi saat keadaan berubah. Supervisi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga menjadi unsur penting. Pengawasan diperlukan untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana, kondisi personel terus dipantau, dan langkah penanganan dapat disesuaikan apabila risiko meningkat. Dengan koordinasi yang tertata, petugas dan relawan dapat bekerja dalam kerangka tanggung jawab yang dipahami bersama.
Unsur berikutnya adalah penugasan petugas keselamatan yang secara khusus memperhatikan potensi bahaya dan perlindungan tim. Peran ini melengkapi pengarahan sebelum operasi, sehingga personel mengetahui kondisi lapangan, prosedur keselamatan, pembagian tugas, serta tindakan yang harus diambil dalam keadaan darurat. Pengarahan juga perlu dilakukan setelah operasi. Pada tahap tersebut, tim dapat mengevaluasi pelaksanaan kegiatan, mencatat kendala atau risiko yang muncul, dan memastikan kondisi petugas setelah bertugas. Rangkaian arahan sebelum dan sesudah operasi membantu memperkuat kesiapan serta pembelajaran bagi kegiatan berikutnya. Berton menekankan bahwa komando, supervisi BPBD, petugas keselamatan, dan pengarahan merupakan bagian yang saling mendukung. Penerapan seluruh unsur itu diharapkan menjaga keselamatan personel tanpa mengurangi efektivitas upaya penanganan karhutla.
Berton menekankan bahwa relawan yang terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan perlu memiliki keterampilan yang sesuai dengan tugas di lapangan. Pengetahuan mengenai karakteristik kebakaran, penggunaan peralatan, komunikasi antarpersonel, serta langkah menghadapi perubahan kondisi dapat membantu relawan bekerja dengan lebih terarah. Kesiapan tersebut penting dalam operasi pemadaman, terutama ketika petugas menghadapi medan yang sulit dan situasi yang dapat berubah cepat.
Selain keterampilan, perlengkapan pelindung yang memadai juga menjadi perhatian. Relawan perlu menggunakan perlindungan yang sesuai dengan risiko pekerjaan dan kondisi lokasi, termasuk perlengkapan untuk mengurangi paparan panas, asap, serta bahaya lain selama operasi. Kebutuhan perlindungan dapat berbeda menurut peran dan situasi di lapangan, sehingga pengaturan dan pemeriksaan perlengkapan merupakan bagian penting dari persiapan sebelum personel menjalankan tugas.
Penekanan tersebut disampaikan seiring berlangsungnya evaluasi keselamatan operasi oleh BNPB setelah insiden yang merenggut nyawa enam petugas dalam pemadaman karhutla di Bromo. Evaluasi itu menjadi ruang untuk menelaah berbagai aspek pelaksanaan operasi, termasuk prosedur kerja, kesiapan personel, koordinasi, dan penggunaan perlengkapan. Hal-hal yang disampaikan mengenai keterampilan dan perlindungan relawan dapat dipandang sebagai perhatian dalam pembahasan keselamatan, bukan sebagai kesimpulan tentang kondisi di lokasi kejadian.
BNPB masih menjalankan kajian untuk memperoleh gambaran yang utuh mengenai peristiwa tersebut dan pelaksanaan operasi pemadaman. Karena itu, penilaian mengenai kecukupan keterampilan maupun perlengkapan perlu menunggu proses evaluasi selesai. Pendekatan ini penting agar informasi yang disampaikan kepada publik berlandaskan hasil kajian, sekaligus memberi ruang bagi pihak terkait untuk meninjau kebutuhan pelatihan dan perlindungan relawan secara cermat. Upaya memperhatikan kesiapan personel tetap relevan bagi operasi penanganan karhutla berikutnya, dengan mempertimbangkan risiko dan kondisi lapangan yang dihadapi.
Baca juga: Lanud Sjamsudin Noor Dukung Operasi Modifikasi Cuaca, Perkuat Upaya Penanganan Karhutla Kalimantan | Bromo Kembali Dibuka untuk Wisatawan, Polres Probolinggo Beri Atensi Khusus Pencegahan Karhutla | Pemadaman Lampu Serentak di Jakarta untuk Peringati Hari Ozon Sedunia











