Jakarta | Pada awal abad ke-20, Toko Populer menjadi salah satu gerai penting di kawasan Pasar Baru, Jakarta. Toko ini dimiliki oleh Tio Tek Hong dan mulai beroperasi pada 1902 di Jalan Pasar Baru No. 93. Kehadirannya berlangsung ketika Pasar Baru berkembang sebagai kawasan perdagangan yang ramai, dikunjungi penduduk setempat maupun kalangan yang mencari barang-barang dari luar negeri. Letaknya di salah satu jalan utama membuat toko tersebut mudah dijangkau dan menjadi bagian menonjol dari kehidupan belanja kawasan itu. Dalam perjalanan waktu, Toko Populer dikenal bukan sekadar tempat menjual kebutuhan sehari-hari, tetapi juga gerai dengan pilihan barang yang beragam untuk berbagai keperluan.
Ragam dagangan pada masa awal mencakup alat musik dan kebutuhan rumah tangga, serta perlengkapan berburu seperti senapan, amunisi, dan topi. Barang-barang impor dari Eropa turut mengisi persediaannya, mencerminkan selera dan pola konsumsi masyarakat perkotaan pada masa tersebut. Pilihan yang luas membantu menjelaskan mengapa Toko Populer disebut sebagai toko paling lengkap pada zamannya. Gerai ini juga kerap dikenang sebagai department store pertama di Indonesia, sebuah sebutan yang menggambarkan konsep penjualan beragam jenis barang dalam satu tempat. Bagi pengunjung, toko itu menawarkan pengalaman berbelanja yang berbeda dari gerai khusus yang hanya menjual satu kelompok produk.
Keberadaan Toko Populer juga berkaitan erat dengan reputasi Pasar Baru sebagai pusat belanja barang-barang Eropa. Kawasan ini dikenal dengan citra tersebut sejak akhir 1800-an hingga 1950-an, ketika deretan toko dan kegiatan perdagangan menjadikannya tujuan belanja yang penting. Dalam konteks itu, Toko Populer memperkuat karakter Pasar Baru sebagai tempat untuk menemukan produk lokal maupun impor. Bangunannya memiliki luas sekitar 1.700 meter persegi, menandakan skala usaha yang besar untuk sebuah toko pada masa itu. Lokasinya berada tepat di depan toko buku Gramedia Pasar Baru, sehingga penanda tersebut membantu pengunjung masa kini mengenali letak bangunan bersejarah ini di tengah kawasan yang terus berubah.
Salah satu pembaruan yang membedakan Toko Populer dari banyak toko lain di Pasar Baru ialah penerapan sistem harga tetap, atau vaste prijs. Tio Tek Hong memperkenalkan kebijakan ini bersama saudaranya, Tio Tek Tjoe, agar harga barang sudah ditentukan dan diketahui pembeli sejak awal. Pelanggan tidak perlu menawar untuk memperoleh harga yang dianggap wajar, sebagaimana lazim dilakukan di tempat perdagangan lain. Cara tersebut memberi transaksi lebih jelas dan praktis, sekaligus membangun kepercayaan toko dan pembeli. Kebijakan harga tetap juga mencerminkan pendekatan perdagangan yang lebih teratur, pada masa ketika tawar-menawar masih menjadi bagian umum dari kegiatan berbelanja.
Toko itu menerapkan aturan lain yang tergolong baru bagi lingkungan usaha setempat: tutup setiap hari Minggu dan pada hari-hari besar keagamaan. Keputusan tersebut mengatur waktu kerja dengan lebih pasti, sekaligus memberi kesempatan bagi pemilik dan pekerja untuk beristirahat atau menjalankan kegiatan keagamaan. Pada awalnya, kebiasaan ini mungkin terasa berbeda bagi pelanggan yang terbiasa mendapati toko buka setiap hari. Namun, langkah Tio Tek Hong dan Tio Tek Tjoe kemudian diikuti oleh pengusaha lain. Dengan demikian, pengaruh mereka tidak hanya terlihat dalam cara menentukan harga, tetapi juga dalam pengaturan hari operasional toko.
Perdagangan Toko Populer berkembang pula ke bidang musik dan perangkat pemutar rekaman. Sejak 1904, Tio Tek Hong mulai mengimpor fonograf, gramofon, serta piringan hitam dari Eropa. Kehadiran barang-barang tersebut membuka akses masyarakat Hindia Belanda terhadap teknologi hiburan yang saat itu masih terbilang baru. Toko Populer juga menjual rekaman lagu Melayu, keroncong, dan tambulan, sehingga pilihan musik dapat dinikmati melalui media rekaman, bukan hanya pertunjukan langsung. Penjualan alat musik dan rekaman membantu memperluas minat terhadap musik di Hindia Belanda. Dalam konteks sejarah rekaman Indonesia, kegiatan perdagangan ini menjadi bagian dari suasana yang memungkinkan lagu-lagu lokal direkam, diedarkan, dan dikenal oleh pendengar yang lebih luas.
Toko Populer di Pasar Baru, Jakarta Pusat, menempati tempat penting dalam kisah awal lagu Indonesia Raya. Rekaman asli lagu tersebut dibuat di toko itu pada 1927, sebelum lagu ini diperdengarkan dalam Kongres Pemuda II pada 1928. Urutan waktu ini menunjukkan bahwa rekaman telah dibuat setahun sebelum Indonesia Raya hadir di hadapan peserta kongres. Dengan demikian, Toko Populer bukan hanya bagian dari kawasan perdagangan Pasar Baru, tetapi juga terkait langsung dengan salah satu jejak awal lagu kebangsaan Indonesia.
Proses perekaman berlangsung menggunakan piringan hitam. W.R. Supratman menyanyikan Indonesia Raya dengan iringan Orkes Musik Populer. Keterangan ini menghubungkan pencipta lagu, kelompok musik, dan tempat perekaman dalam satu peristiwa pada 1927. Rekaman tersebut menjadi bagian dari sejarah perjalanan Indonesia Raya sebelum lagu itu diperdengarkan dalam Kongres Pemuda II. Hubungan toko dan peristiwa tersebut memberi konteks pada bagaimana lagu itu direkam, tanpa mengubah fakta bahwa tonggak berikutnya adalah pemutaran atau penyampaian lagu dalam kongres pada tahun berikutnya.
Riwayat toko juga dikaitkan dengan perubahan kepemilikan. Setelah Toko Populer berpindah tangan kepada Yo Kim Tjan, Orkes Musik Populer turut disebut dalam kaitannya dengan proses rekaman Indonesia Raya. Kaitan ini memperlihatkan bahwa sejarah rekaman tidak hanya melekat pada alamat toko, tetapi juga pada orang dan kelompok musik yang terlibat. Pemandu wisata Muti menyampaikan bahwa Tio Tek Hong membawa alat pemutarnya ke mana-mana karena khawatir pada masa penjajahan. Keterangan tersebut memberi gambaran mengenai kekhawatiran yang menyertai alat pemutar itu. Kisah ini melengkapi hubungan Toko Populer dengan rekaman awal, sekaligus menempatkan piringan hitam dan Orkes Musik Populer sebagai unsur penting dalam jejak Indonesia Raya pada 1927.
Nama Toko Populer menyimpan gambaran tentang masa ketika tempat ini dikenal luas dalam kehidupan perdagangan Pasar Baru. Sebutan “populer” bukan sekadar nama yang bertahan, melainkan penanda reputasi yang pernah melekat pada toko tersebut. Seiring perubahan zaman dan kegiatan niaga di kawasan itu, fungsi serta barang yang dijual ikut berubah. Namun, jejak lamanya tidak sepenuhnya hilang: bangunan Toko Populer masih berdiri hingga kini, sementara kegiatan jual beli tetap berlangsung di dalamnya. Pengunjung sekarang dapat menjumpai berbagai jenis tas, berbeda dari suasana perdagangan yang mungkin pernah dikenal pada masa sebelumnya. Peralihan itu memperlihatkan bagaimana sebuah alamat dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan baru tanpa terputus dari riwayatnya.
Keberlanjutan bangunan ini memberi kesempatan untuk melihat sejarah bukan hanya sebagai kisah yang tersimpan dalam arsip, tetapi juga sebagai bagian dari ruang kota yang masih digunakan. Toko tersebut menghubungkan dua lapisan waktu: kegiatan perdagangan yang berlangsung sekarang dan kenangan tentang masa ketika namanya memiliki daya tarik tersendiri. Dalam konteks Pasar Baru, kisah toko juga bersinggungan dengan sejarah Tio Tek Hong, tokoh yang dikenal melalui buku Keadaan Jakarta Tempo Doeloe: Sebuah Kenangan 1882-1959. Buku itu menjadi salah satu jalan untuk mengenali kembali kehidupan Jakarta pada rentang masa tersebut, termasuk dunia perdagangan dan hiburan yang tumbuh di kota. Hubungan ini mengingatkan bahwa toko, musik, dan kehidupan sehari-hari dapat bertemu dalam sejarah sebuah kawasan.
Nama Tio Tek Hong turut dikenang dalam pembahasan mengenai rekaman awal lagu “Indonesia Raya”.












