banner 728x250

Pemadaman Karhutla Berlanjut, Ribuan Hektare di Kalimantan Masih Terdampak

Pemadaman Karhutla Berlanjut, Ribuan Hektare di Kalimantan Masih Terdampak
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Kotabaru | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 3.392 hektare lahan dan hutan di tiga provinsi Kalimantan masih dalam proses pemadaman. Dari jumlah tersebut, Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan area terdampak terbesar, yakni sekitar 2.458 hektare. Kalimantan Barat menyusul dengan sekitar 884 hektare, sedangkan Kalimantan Selatan mencatat sekitar 52 hektare.

Data tersebut menunjukkan bahwa upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung di berbagai lokasi. Api belum sepenuhnya padam, sehingga petugas perlu melanjutkan pemadaman dan pengendalian di lapangan. Luas area yang tercatat terdampak menggambarkan besarnya tantangan yang harus ditangani, terutama di Kalimantan Tengah, yang menyumbang bagian terbesar dari total luasan pada tiga provinsi tersebut.

banner 325x300

Penanganan karhutla melibatkan kerja bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta relawan. Koordinasi antarpihak diperlukan agar upaya di lokasi kebakaran dapat berjalan berkelanjutan dan sumber daya yang tersedia bisa digunakan sesuai kebutuhan. Petugas terus melakukan langkah pemadaman, sementara instansi terkait memantau perkembangan kondisi dan mendukung operasi di daerah terdampak.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa penanganan dilakukan melalui sejumlah upaya, termasuk operasi modifikasi cuaca. Dalam kegiatan tersebut, dry ice digunakan sebagai bagian dari operasi untuk mendukung penanganan karhutla. Langkah ini melengkapi upaya yang dilakukan tim di darat, bukan menggantikan pemadaman langsung di area terdampak.

Besarnya luasan di Kalimantan Tengah membuat perkembangan situasi di provinsi itu menjadi perhatian utama dalam operasi yang sedang berlangsung. Meski demikian, penanganan juga tetap dilakukan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan karena api masih memerlukan penanganan di ketiga wilayah. BNPB bersama unsur pemerintah dan relawan melanjutkan koordinasi serta pemadaman, sembari mengikuti perubahan kondisi di lapangan. Angka luasan terdampak dapat menjadi dasar untuk melihat skala pekerjaan yang masih harus diselesaikan, sedangkan keberlanjutan operasi menjadi penting selama titik api belum seluruhnya padam.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilakukan melalui jalur darat dan udara agar upaya pemadaman dapat menjangkau titik api dengan lebih luas. Di darat, sebanyak 57.050 personel disiagakan di enam provinsi yang terdampak. Kalimantan Tengah menempatkan 16.387 personel, disusul Kalimantan Barat dengan 14.458 orang dan Sumatera Selatan sebanyak 12.285 orang. Kesiapan tersebut menjadi bagian penting dari respons berkelanjutan ketika ribuan hektare lahan masih terdampak kebakaran.

Di provinsi lainnya, jumlah personel yang disiapkan meliputi 7.927 orang di Kalimantan Selatan, 5.984 orang di Jambi, serta sembilan orang di Lampung. Sebaran personel ini memungkinkan pengerahan tim sesuai kondisi dan kebutuhan di lapangan. Petugas darat menjalankan pemadaman langsung, membantu mencegah api menjalar, dan mendukung pemantauan lokasi rawan. Koordinasi antartim diperlukan agar sumber daya yang tersedia dapat digunakan secara efektif, terutama pada wilayah yang sulit dijangkau atau memiliki risiko penyebaran api.

BNPB juga menyebut dukungan peralatan untuk menunjang pekerjaan personel, lain selang, nozel, sepatu bot, pompa, pemukul api, dan radio komunikasi. Perlengkapan tersebut membantu petugas menyalurkan air, memadamkan api secara manual, menjaga keselamatan, serta berkomunikasi selama operasi. Sementara itu, armada udara yang dikerahkan berjumlah 61 unit. Jumlah tersebut terdiri atas 24 unit untuk patroli, pesawat CASA, dan operasi modifikasi cuaca, serta 37 helikopter water bombing. Patroli udara membantu mengidentifikasi titik panas, sedangkan helikopter menurunkan air ke area yang memerlukan penanganan. Operasi modifikasi cuaca turut menjadi bagian dari dukungan udara. Penggabungan langkah darat dan udara diharapkan memperkuat respons terhadap karhutla, dengan pengerahan personel, peralatan, dan armada disesuaikan dengan perkembangan situasi di masing-masing provinsi.

Berdasarkan data hingga 23 Oktober 2026, operasi modifikasi cuaca (OMC) dilaksanakan melalui total 15 sortie dengan penggunaan 14.300 kilogram bahan semai. Pelaksanaan kegiatan tersebut berlangsung di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Jumlah sortie dan bahan yang digunakan mencerminkan kegiatan di kedua wilayah, sedangkan hasil yang terpantau berbeda sesuai kondisi masing-masing. OMC merupakan salah satu upaya yang dilakukan dengan mempertimbangkan keadaan atmosfer serta kebutuhan wilayah sasaran, sehingga pelaksanaannya tidak dapat disamaratakan.

Di Kalimantan Tengah, tercatat delapan sortie dengan total 7.200 kilogram bahan semai. Bahan tersebut terdiri atas 5.200 kilogram dry ice dan 2.000 kilogram natrium klorida. Hingga laporan pada 23 Oktober 2026, belum terdapat laporan hujan di wilayah sasaran OMC di provinsi tersebut. Informasi ini menggambarkan kondisi yang tercatat pada waktu pelaporan, bukan kepastian mengenai keadaan cuaca setelahnya. Pemantauan tetap diperlukan untuk mengetahui perkembangan atmosfer dan kemungkinan hujan di area yang menjadi perhatian.

Sementara itu, di Sumatera Selatan telah dilaksanakan tujuh sortie dengan jumlah bahan semai 7.100 kilogram. Dalam pemantauan cuaca di wilayah ini, jarak pandang dilaporkan membaik menjelang siang. Perubahan jarak pandang tersebut merupakan kondisi yang terpantau, dan tidak dengan sendirinya menjelaskan dampak operasi ataupun memastikan penyebab perubahan. Data pelaksanaan OMC dan laporan pemantauan cuaca perlu dibaca sesuai lingkup informasinya, terutama karena kondisi atmosfer dapat berbeda antarlokasi dan berubah dari waktu ke waktu.

Laporan cuaca juga mencatat hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di tujuh kabupaten di Kalimantan Barat. Tiga dari wilayah tersebut termasuk sasaran OMC. Selain itu, hujan dilaporkan terjadi di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Informasi hujan di sejumlah wilayah ini melengkapi gambaran cuaca regional, tetapi tidak mengubah catatan bahwa belum ada laporan hujan di wilayah sasaran Kalimantan Tengah sampai waktu pelaporan. Pelaksanaan OMC disesuaikan dengan kondisi atmosfer dan kebutuhan masing-masing wilayah.

Selain wilayah Kalimantan, catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga masih berdampak di sejumlah provinsi di Sumatera. Luas area terdampak tercatat sekitar 990 hektare. Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan luasan terbesar, yakni sekitar 889 hektare, disusul Jambi seluas 89 hektare. Sementara itu, di Lampung, kebakaran tercatat berdampak pada 12 hektare kawasan Taman Nasional Way Kambas. BNPB tidak melaporkan adanya pemadaman karhutla yang terpantau di Riau. Data tersebut menggambarkan kondisi penanganan yang beragam antardaerah, sehingga pemantauan lapangan dan respons cepat tetap diperlukan untuk mencegah api meluas ke area lain.

Di Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur, petugas masih menghadapi titik api yang belum sepenuhnya padam. Tercatat 34 titik dengan luas sekitar 16 hektare masih memerlukan penanganan. Upaya pemadaman dilakukan dengan memperhatikan karakter lahan gambut, yang dapat menyimpan bara di bawah permukaan meskipun api tidak selalu terlihat dari atas. Untuk menemukan sumber panas tersembunyi, tim menggunakan drone termal dan melakukan pengawasan melalui pos pantau darat. Pemanfaatan kedua cara ini membantu petugas mengidentifikasi area yang perlu diperiksa lebih lanjut serta menentukan langkah pemadaman secara terarah. Deteksi dini menjadi penting agar bara tidak kembali menyala dan memicu penjalaran api, terutama ketika kondisi lahan kering dan akses menuju lokasi terbatas.

Peralatan pemadaman juga disesuaikan dengan kebutuhan di titik-titik kritis. Petugas menggunakan pompa jinjing dan membentangkan instalasi selang dengan panjang hampir tiga kilometer untuk mengalirkan air menuju lokasi api. Penyaluran tersebut mendukung pembasahan area dan penanganan bara, termasuk di bagian yang sulit dijangkau kendaraan. Sementara itu, di kawasan Arjuno-Welirang, Jawa Timur, penanganan kebakaran dilakukan melalui koordinasi antarpihak dan penyisiran wilayah terdampak.

Baca juga: Lanud Sjamsudin Noor Dukung Operasi Modifikasi Cuaca, Perkuat Upaya Penanganan Karhutla Kalimantan | Penghematan Energi melalui Pemadaman Lampu Sementara di Jakarta | Dalam Waktu Sepekan, Kodim Bojonegoro Salurkan 800 Ribu Liter Air Bersih ke Warga di 34 Desa Terdampak Kekeringan

banner 325x300