Jakarta | Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah telah terdepresiasi sekitar 7,9% di tengah memburuknya kondisi global. Tekanan tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya volatilitas pasar keuangan internasional, yang turut memengaruhi mata uang berbagai negara, terutama kelompok negara berkembang. Meski demikian, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menilai pergerakan rupiah masih relatif lebih baik dibandingkan mata uang sejumlah negara lain.
Penilaian itu disampaikan Destry dalam paparannya pada Rapimnas Kadin 2026, Kamis, 29 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa rupiah dan sejumlah mata uang negara berkembang sama-sama menghadapi tekanan serta koreksi akibat dinamika global. Perbandingan kinerja tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa meskipun rupiah mengalami pelemahan, volatilitasnya relatif lebih terkendali daripada yang terjadi pada beberapa mata uang lain. Kondisi itu menjadi perhatian di tengah ketidakpastian eksternal yang terus membayangi pasar.
Pergerakan rupiah pada Kamis juga menunjukkan penguatan setelah mata uang tersebut tertekan selama beberapa hari. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah mencatat penutupan terlemah sepanjang masa. Berdasarkan data yang disampaikan, rupiah ditutup di level Rp18.125 per dolar AS, menguat 0,28% dibandingkan penutupan Rabu, 28 Oktober 2026, sebesar Rp18.175 per dolar AS. Penguatan harian ini terjadi setelah tekanan beruntun, tetapi belum menghapus depresiasi yang tercatat dalam periode lebih luas.
Data tersebut menggambarkan dua sisi perkembangan nilai tukar: tekanan akumulatif yang tercermin dalam pelemahan sekitar 7,9%, serta perbaikan terbatas pada perdagangan terakhir. Karena itu, perubahan harian perlu dibaca bersama tren dan situasi pasar global, bukan sebagai tanda bahwa tekanan telah sepenuhnya mereda. Pernyataan BI juga menempatkan kinerja rupiah dalam perbandingan regional, dengan menekankan bahwa mata uang negara berkembang lainnya turut terkoreksi. Di tengah lingkungan eksternal yang menantang, penilaian mengenai volatilitas relatif menjadi bagian penting dalam membaca daya tahan rupiah dan kondisi ekonomi Indonesia.
Destry menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya bersumber dari dalam negeri, tetapi juga dipengaruhi perubahan kondisi eksternal yang meningkatkan ketidakpastian di pasar global. Salah satu faktor yang masih membayangi adalah suku bunga tinggi atau higher for longer. Pesan bahwa suku bunga dapat bertahan pada level tinggi lebih lama membuat pelaku pasar berhati-hati, terutama ketika arah kebijakan moneter Amerika Serikat belum sepenuhnya pasti. Situasi tersebut mendorong investor menilai ulang risiko dan daya tarik aset di berbagai negara, termasuk di pasar negara berkembang.
Tekanan juga berkaitan dengan inflasi Amerika Serikat yang masih berada di atas 3,5%, sementara target Federal Reserve ditetapkan sebesar 2%. Jarak inflasi aktual dan sasaran itu menjadi alasan bagi bank sentral AS untuk tetap mempertimbangkan kebijakan moneter ketat. Karena itu, peluang kenaikan suku bunga pada Desember kembali terbuka. Prospek tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar dan memperkuat minat terhadap aset berdenominasi dolar AS. Ketika arus investasi bergerak ke aset yang dianggap lebih menarik atau aman, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berpotensi menghadapi tekanan lebih besar.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turut menjadi perhatian. Angkanya sempat mencapai 5,3%, tingkat yang mencerminkan perubahan ekspektasi pasar sekaligus menambah tekanan pada pasar keuangan global. Kenaikan imbal hasil dapat membuat obligasi AS lebih menarik bagi investor, serta mendorong penyesuaian portofolio di berbagai negara. Di sisi lain, harga minyak meningkat akibat konflik geopolitik. Kenaikan ini menambah ketidakpastian karena perkembangan konflik dapat mengganggu pasokan dan memengaruhi biaya energi. Kombinasi suku bunga tinggi, inflasi AS yang belum kembali ke target, imbal hasil obligasi yang meningkat, dan harga minyak yang terdorong konflik memperbesar risiko eksternal. Faktor-faktor tersebut, menurut Destry, memperkuat ketidakpastian global dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ketidakpastian di pasar global dapat mengubah cara investor mengelola risiko. Ketika prospek ekonomi dan arah kebijakan sulit diperkirakan, sebagian pelaku pasar cenderung mengurangi paparan terhadap aset yang dinilai lebih berisiko. Dana kemudian dialihkan ke instrumen yang dianggap lebih aman dan likuid, sebuah pola yang dikenal sebagai flight to quality. Perubahan aliran modal tersebut dapat memengaruhi nilai tukar berbagai mata uang, termasuk rupiah, terutama ketika terjadi dalam skala besar atau berlangsung dalam waktu lama.
Dalam kondisi seperti itu, dolar Amerika Serikat masih menjadi salah satu pilihan utama. Mata uang ini digunakan secara luas dalam perdagangan, pembiayaan, dan transaksi internasional, sehingga ketersediaannya dibutuhkan oleh banyak pelaku ekonomi di berbagai negara. Peran tersebut turut menopang permintaan terhadap dolar ketika investor mencari aset yang mudah diperdagangkan dan diterima secara global. Dengan demikian, arus menuju aset aman tidak selalu berarti investor hanya mempertimbangkan situasi ekonomi di negara penerbit mata uang tersebut; likuiditas dan fungsi dolar dalam sistem keuangan dunia juga menjadi pertimbangan.
Destry menyoroti bahwa meskipun persoalan yang menjadi perhatian pasar berada di Amerika Serikat, investor tetap memegang dolar. Sikap tersebut dapat berlangsung karena kebutuhan terhadap dolar dalam transaksi global serta persepsi bahwa mata uang itu tetap menawarkan likuiditas di tengah ketidakpastian. Dampaknya tercermin pada indeks dolar AS atau DXY, yang terus bergerak naik. Kenaikan indeks ini menunjukkan penguatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama, sekaligus memberi gambaran mengenai kuatnya permintaan di pasar. Bagi rupiah, penguatan dolar dapat menambah tekanan, khususnya ketika investor juga mengalihkan dana dari pasar negara berkembang menuju aset yang dinilai lebih aman. Namun, perubahan nilai tukar turut dipengaruhi faktor domestik dan respons kebijakan, sehingga pergerakan dolar merupakan salah satu unsur dalam dinamika pasar, bukan satu-satunya penentu.
Di tengah tekanan dari luar negeri, Destry menilai sejumlah indikator ekonomi domestik masih menunjukkan daya tahan. Perekonomian Indonesia tumbuh 5,45% pada semester I-2026, sementara inflasi tercatat sebesar 3,28%. Angka-angka tersebut menjadi bagian dari gambaran kondisi dalam negeri yang tetap terjaga ketika rupiah menghadapi tekanan global. Penilaian ini menempatkan kinerja ekonomi dan kestabilan harga sebagai unsur penting dalam melihat kemampuan Indonesia menghadapi dinamika eksternal. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menghapus tantangan yang masih dihadapi, terutama dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah perubahan lingkungan global.
Inflasi inti berada di level 2,8%, melengkapi gambaran bahwa tekanan harga domestik masih menjadi salah satu indikator yang diperhatikan. Destry juga menilai defisit fiskal masih terjaga, dengan rasio utang berada di sekitar 41%. Posisi fiskal tersebut disebut sebagai bagian dari kondisi ekonomi yang dinilai cukup kuat untuk menghadapi tekanan eksternal. Penyebutan indikator pertumbuhan, inflasi, serta fiskal memberi konteks pada penilaian mengenai ketahanan ekonomi Indonesia. Namun, angka-angka itu tidak berarti bahwa semua risiko telah hilang; tekanan terhadap rupiah tetap berlangsung dan perlu dicermati bersama dengan perkembangan ekonomi global.
Penilaian Destry mengenai daya tahan ekonomi Indonesia bertumpu pada kondisi sejumlah indikator domestik tersebut, bukan pada pengabaian terhadap tekanan yang sedang terjadi. Pertumbuhan semester I-2026, inflasi umum dan inti, serta defisit fiskal dan rasio utang menjadi bagian dari gambaran yang ia sampaikan. Dalam konteks itu, kestabilan ekonomi di dalam negeri berjalan beriringan dengan tantangan menjaga nilai tukar. Rupiah tetap berada di bawah tekanan, sehingga perkembangan global masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Destry mengakui bahwa stabilitas rupiah masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu ditangani bersama.
Baca juga: Rupiah Hadapi Tekanan di Tengah Kebijakan Moneter The Fed | Pesan Ketua Dewan Ekonomi Nasional : Berikan Keteladanan dan Loyalitas | Prospek IHSG di Tengah Tekanan Pasar












