banner 728x250

Emas Tertekan Prospek Suku Bunga AS, Harga Perak Bergerak Berlawanan

Emas Tertekan Prospek Suku Bunga AS, Harga Perak Bergerak Berlawanan
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Pergerakan harga emas dan perak menunjukkan arah yang berbeda pada penutupan Selasa, meskipun kondisi tersebut berubah kembali pada perdagangan Rabu pagi. Berdasarkan data Refinitiv, emas ditutup di level US.124,34 per troy ons pada Selasa, turun 0,07%. Penurunan itu memperpanjang pelemahan emas menjadi tiga hari berturut-turut. Sementara itu, harga perak mencatat penguatan selama dua sesi beruntun dan mengakhiri perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026, pada US,98 per troy ons. Perbedaan kinerja kedua logam mulia tersebut menempatkan emas dalam tren turun, sedangkan perak sempat bergerak lebih kuat.

Tekanan terhadap emas masih terlihat dalam perdagangan berikutnya. Pada Rabu, 21 Oktober 2026 pukul 06.59 WIB, harga emas kembali turun 0,26% menjadi US$4.113,7 per troy ons. Dengan pergerakan tersebut, harga emas melanjutkan koreksi yang telah berlangsung sejak beberapa sesi sebelumnya. Data pada pagi hari itu menunjukkan bahwa pelemahan tidak berhenti setelah penutupan Selasa, melainkan berlanjut ketika perdagangan memasuki hari berikutnya. Perubahan ini memperlihatkan bahwa arah harga emas tetap berada di bawah tekanan dalam rentang pengamatan tersebut, sementara nilai per troy onsnya turun dari posisi penutupan sebelumnya.

banner 325x300

Berbeda dari emas, perak sempat menguat hingga penutupan Selasa, dengan kenaikan 1,57% selama dua hari berturut-turut dan harga mencapai US$57,98 per troy ons. Namun, penguatan tersebut tidak berlanjut pada perdagangan Rabu pagi. Pada pukul 07.02 WIB, perak melemah 0,4% ke US$57,75 per troy ons. Dengan demikian, arah pergerakan kedua logam pada penutupan Selasa tidak sepenuhnya bertahan ke sesi berikutnya: emas meneruskan penurunannya, sedangkan perak berbalik melemah setelah mencatat kenaikan. Perubahan harga pagi hari ini menegaskan bahwa perak pun mengalami koreksi, meskipun penurunannya terjadi setelah dua sesi penguatan dan tidak menghapus fakta bahwa logam tersebut ditutup lebih tinggi pada Selasa dibandingkan sesi sebelumnya.

Kekhawatiran bahwa suku bunga Amerika Serikat dapat kembali naik menekan harga emas menjelang rapat kebijakan Federal Reserve pada pekan berikutnya. Investor mencermati apakah tekanan inflasi yang masih bertahan akan mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan ketat lebih lama, atau bahkan memberi sinyal kenaikan tambahan. Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar berhati-hati terhadap logam mulia, yang tidak menghasilkan bunga maupun pembayaran berkala. Karena itu, perubahan ekspektasi mengenai arah kebijakan The Fed dapat segera memengaruhi minat terhadap emas dan pergerakan harganya di pasar.

Ketika suku bunga diperkirakan tetap tinggi, aset berbunga cenderung menawarkan daya tarik lebih besar. Obligasi pemerintah AS, atau US Treasury, misalnya, memberikan imbal hasil yang dapat meningkat seiring dengan prospek suku bunga, sementara pemegang emas tidak memperoleh pendapatan bunga. Perbedaan ini mendorong sebagian investor mengalihkan dana ke instrumen yang memberikan imbal hasil, terutama ketika mereka menilai risiko inflasi dan kebijakan moneter masih belum pasti. Meski emas kerap dipilih sebagai aset lindung nilai, biaya peluang untuk memegangnya menjadi lebih besar saat imbal hasil obligasi naik. Faktor tersebut dapat membatasi permintaan, bahkan ketika kekhawatiran ekonomi dan inflasi tetap mendukung kebutuhan akan perlindungan nilai.

Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior StoneX, menilai inflasi dan kebijakan suku bunga The Fed menjadi isu utama yang membayangi emas. Menurutnya, US Treasury untuk sementara tampak lebih menarik sebagai aset lindung nilai dibandingkan emas, khususnya dalam lingkungan suku bunga tinggi. Ia juga menyoroti US$4.000 per troy ons sebagai level penting bagi harga emas. Kemampuan logam mulia tersebut untuk bertahan di atas ambang itu, menurut Haberkorn, akan bergantung pada sinyal kebijakan yang disampaikan The Fed. Jika pernyataan bank sentral mengisyaratkan suku bunga lebih tinggi atau bertahan tinggi lebih lama, tekanan terhadap emas dapat berlanjut. Sebaliknya, sinyal yang lebih lunak berpotensi mengurangi daya tarik obligasi dan membantu menopang harga emas. Dengan demikian, rapat mendatang menjadi perhatian utama bagi investor yang menilai prospek pasar logam mulia.

Pergerakan emas dan perak belakangan ini berlangsung di tengah perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Pada September, Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sepanjang tahun itu dan memperkuat perhatian investor terhadap kemungkinan langkah lanjutan. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya meningkatkan imbal hasil aset berbasis dolar, sehingga dapat mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan bunga. Karena itu, perubahan pandangan mengenai waktu dan besaran pengetatan kebijakan berpotensi memengaruhi harga emas maupun perak.

Meski demikian, sinyal dari sejumlah pejabat The Fed belum menunjukkan adanya urgensi untuk kembali memperketat kebijakan dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut meredam perkiraan bahwa suku bunga akan dinaikkan lagi pada rapat 27–28 Oktober. Sikap yang lebih berhati-hati memberi ruang bagi bank sentral untuk menilai perkembangan ekonomi dan inflasi sebelum mengambil keputusan tambahan. Namun, hal itu tidak serta-merta menghapus kemungkinan pengetatan pada akhir tahun. Pelaku pasar masih memperhitungkan kenaikan pada Desember, sehingga prospek suku bunga tetap menjadi salah satu faktor utama yang membentuk arah perdagangan logam mulia.

Menurut CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai 92%. Angka tersebut mencerminkan ekspektasi pasar, bukan kepastian keputusan The Fed, dan dapat berubah ketika data ekonomi baru dirilis atau pejabat bank sentral menyampaikan pandangan terbaru. Investor kini menanti data indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Amerika Serikat pekan depan. PCE merupakan salah satu indikator inflasi andalan The Fed dan akan membantu pasar menilai apakah tekanan harga masih cukup kuat untuk mendorong pengetatan lebih lanjut. Jika data menunjukkan inflasi bertahan tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat menguat dan menekan logam mulia. Sebaliknya, tanda pelonggaran tekanan harga dapat mengurangi dorongan bagi kenaikan suku bunga dan memengaruhi prospek emas serta perak secara berbeda.

Harga emas masih berada jauh di bawah puncaknya setelah mengalami penurunan tajam dalam beberapa bulan terakhir. Logam mulia tersebut telah merosot sekitar 26% dari rekor US$5.594,82 per troy ons yang tercatat pada Januari. Dibandingkan level sebelum perang Iran pecah, harganya juga turun sekitar 22%. Skala koreksi ini menunjukkan betapa cepatnya perubahan ekspektasi kebijakan moneter dapat memengaruhi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Kekhawatiran mengenai lonjakan inflasi energi setelah konflik pecah turut memperkuat perkiraan bahwa suku bunga dapat dinaikkan. Kenaikan biaya energi berpotensi mendorong harga barang dan jasa secara lebih luas, sehingga bank sentral mungkin perlu mempertahankan kebijakan ketat atau mengambil langkah tambahan untuk mengendalikan inflasi. Ekspektasi tersebut dapat menopang imbal hasil obligasi pemerintah dan meningkatkan biaya peluang memegang emas. Ketika instrumen berbunga menawarkan pendapatan yang lebih besar, sebagian investor dapat mengalihkan dana dari logam mulia ke aset tersebut.

Secara historis, emas kerap digunakan sebagai sarana untuk melindungi nilai kekayaan dari inflasi dan menjaga daya beli ketika harga-harga meningkat. Namun, fungsi lindung nilai itu tidak serta-merta membuat harganya selalu naik saat inflasi menguat. Daya tarik emas cenderung berkurang ketika suku bunga tinggi, terutama jika obligasi pemerintah menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif.

Baca juga: Penurunan Harga Emas Antam Hari Ini: Apakah Saatnya Membeli? | Penurunan Harga Emas Perhiasan di Jakarta | Fluktuasi Harga Emas Perhiasan di Jakarta pada Pertengahan September 2026

banner 325x300