banner 728x250

Di Balik Emosi Rigen Rakelna Saat Membintangi Film Kedua Trio GJLS

Di Balik Emosi Rigen Rakelna Saat Membintangi Film Kedua Trio GJLS
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | GJLS: Berapi-api menandai film layar lebar kedua yang dibintangi trio komedian Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir. Setelah dikenal lewat karakter dan interaksi mereka yang lekat dengan dunia komedi, ketiganya kembali hadir dalam cerita yang memberi ruang bagi sisi persahabatan serta perjuangan mengejar cita-cita. Film produksi Amadeus Sinemagna ini memadukan humor dengan kisah yang menyentuh, sehingga tidak hanya mengandalkan kelucuan, tetapi juga mengajak penonton mengikuti perjalanan emosional para tokohnya.

Di dalam film, persahabatan bukan sekadar latar bagi rangkaian adegan komedi. Hubungan antartokoh berkembang seiring ambisi dan persoalan yang mereka hadapi, termasuk upaya untuk mewujudkan mimpi masing-masing. Perbedaan tujuan, tekanan, dan pilihan hidup menghadirkan dinamika yang dapat terasa akrab bagi penonton. Unsur komedi menjaga cerita tetap menghibur, sementara momen-momen yang lebih serius memperlihatkan bagaimana dukungan dan kedekatan dapat diuji ketika seseorang berusaha mencapai sesuatu yang penting baginya.

banner 325x300

Menurut Rigen, gagasan tentang perjuangan tersebut memiliki kemiripan dengan pengalaman nyata dirinya bersama Rispo dan Hifdzi. Ketiganya telah melewati perjalanan panjang sebagai sahabat sekaligus rekan berkarya, dengan ambisi dan tantangan yang menyertai langkah mereka. Karena itu, dinamika dalam film terasa memiliki hubungan dengan kehidupan mereka, meski kisah yang ditampilkan tetap hadir sebagai cerita fiksi. Rigen melihat semangat para tokoh untuk terus mengejar mimpi sebagai sesuatu yang mengingatkannya pada perjalanan trio GJLS sendiri.

Kedekatan tema film dan pengalaman para pemain turut memberi lapisan personal pada penampilan mereka. Persahabatan yang dibangun melalui waktu, kerja bersama, serta cita-cita yang ingin dicapai menjadi titik temu cerita dan kehidupan nyata. Bagi Rigen, ambisi tidak selalu berjalan mulus; prosesnya dapat menghadirkan keraguan maupun perubahan dalam hubungan. Namun, perjalanan itu juga memperlihatkan pentingnya saling memahami dan bertahan sebagai teman. Perpaduan komedi, persahabatan, dan perjuangan tersebut menjadi dasar cerita GJLS: Berapi-api sekaligus memberi penonton kesempatan melihat trio ini dalam nuansa yang lebih emosional.Bagi Rigen Rakelna, menjalani adegan emosional dalam film kedua Trio GJLS bukan semata-mata perkara memainkan perasaan sesuai kebutuhan cerita. Ada bagian yang menyentuh dirinya secara pribadi, terutama menjelang akhir film yang memiliki nuansa sedih. Ia merasa emosi yang muncul saat menjalani bagian tersebut tidak sepenuhnya dibuat-buat. Perasaan itu berhubungan dengan bayangan tentang kemungkinan kehilangan orang-orang terdekatnya, yakni sahabat-sahabatnya. Karena itu, pengalaman tersebut terasa dekat baginya dan memberi ruang untuk merespons adegan dengan sungguh-sungguh.

Bayangan kehilangan sahabat menjadi hal yang membuat Rigen terbawa perasaan. Ia tidak hanya memikirkan apa yang perlu ditampilkan sebagai pemain, tetapi juga merasakan kedekatan emosional dengan kemungkinan tersebut. Ketika seseorang membayangkan perpisahan dengan kawan-kawan yang berarti dalam hidupnya, kesedihan dapat terasa nyata. Bagi Rigen, keterhubungan pengalaman batin dan adegan itulah yang membantu emosinya hadir secara alami. Ia menyampaikan bahwa perasaan yang muncul berkaitan dengan dirinya sendiri, bukan sekadar upaya untuk menunjukkan kesedihan di hadapan kamera.

Nuansa sedih pada bagian akhir film membuat pengalaman itu semakin berkesan bagi Rigen. Ia menghadapi adegan tersebut dengan membawa pemikiran tentang persahabatan dan kemungkinan kehilangan. Dengan demikian, respons emosionalnya berangkat dari sesuatu yang ia rasakan sungguh-sungguh. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa proses berakting dapat bersinggungan dengan perasaan pribadi seorang pemain. Dalam kasus Rigen, bayangan kehilangan sahabat-sahabatnya menjadi jembatan yang menghubungkan dirinya dengan emosi yang perlu ia hadirkan, tanpa harus memisahkan sepenuhnya peran dari perasaan yang nyata.

Rigen pun menggambarkan adegan itu sebagai momen yang membuat dirinya larut secara emosional. Yang menonjol dari pengalamannya bukan rincian kejadian dalam cerita, melainkan sumber perasaan yang ia bawa ketika memerankannya. Ia membayangkan kehilangan sahabat, lalu merasakan kesedihan yang terkait dengan bayangan tersebut. Karena emosi itu terasa personal, ia dapat menjalani bagian bernuansa sedih dengan keterlibatan batin yang kuat. Pengalaman itu memperlihatkan bagaimana kedekatan dengan tema persahabatan dapat membuat sebuah adegan terasa lebih bermakna bagi pemainnya, khususnya ketika perasaan yang hadir berakar pada hal yang sungguh ia rasakan.

Bagi Rigen Rakelna, Rispo, dan Hifdzi, kesempatan untuk kembali membuat film bersama bukan sekadar pekerjaan baru, melainkan langkah yang dekat dengan impian mereka selama berkarier di dunia hiburan. Ketiganya telah menapaki perjalanan sebagai trio GJLS melalui berbagai bentuk hiburan, dan layar lebar memberi ruang berbeda untuk mengembangkan karya bersama. Karena itu, hadirnya film kedua memiliki arti tersendiri. Mereka tidak hanya kembali berkolaborasi, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk memperlihatkan perkembangan dan kesungguhan sebagai pelaku hiburan. Bagi Rigen, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang patut disyukuri, terlebih karena perjalanan menuju film kedua kembali melibatkan kepercayaan pihak yang mendukung karya mereka.

Rigen menyebut bahwa mereka kembali mendapat kepercayaan dari Amadeus untuk menggarap film. Kepercayaan itu menjadi bagian penting dari pengalaman membuat proyek kedua, sekaligus menunjukkan bahwa kolaborasi mereka di layar lebar berlanjut setelah film pertama. Kesempatan tersebut juga memberi ruang bagi Rigen, Rispo, dan Hifdzi untuk membawa gagasan mereka ke tahap berikutnya. Membuat film bersama merupakan salah satu impian yang mereka miliki sejak berkarier di dunia hiburan, sehingga kesempatan ini terasa bermakna secara personal maupun profesional. Bagi trio GJLS, kepercayaan untuk kembali berkarya bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa. Mereka perlu menjawabnya dengan menunjukkan bahwa kerja bersama mereka mempunyai arah dan komitmen.

Tujuan kedua film itu pun berbeda menurut penuturan Rigen. Film pertama, GJLS: Ibuku Ibu-ibu, yang dirilis pada 2025, menjadi cara untuk memperkenalkan GJLS kepada masyarakat luas. Film tersebut membuka kesempatan bagi penonton yang mungkin belum mengenal mereka untuk melihat karya trio ini melalui medium layar lebar. Sementara itu, lewat film kedua, mereka ingin menunjukkan keseriusan dalam berkarya. Perbedaan tujuan tersebut menandai perubahan fokus: dari memperkenalkan nama GJLS menjadi memperlihatkan komitmen mereka dalam membuat film. Dengan demikian, kesempatan kedua bukan hanya kelanjutan dari pengalaman sebelumnya, tetapi juga ruang bagi Rigen, Rispo, dan Hifdzi untuk membangun kepercayaan penonton terhadap karya mereka. Impian membuat film bersama kini berlanjut dengan harapan yang lebih matang.

Menurut Rigen Rakelna, salah satu tantangan dalam proses syuting film kedua Trio GJLS muncul ketika ia harus menjalani adegan drama bersama Hifdzi Khoir. Keduanya bukan hanya rekan kerja, melainkan juga sahabat, sehingga membangun suasana yang dibutuhkan untuk adegan tersebut terasa berbeda dari beradu akting dalam bagian yang lebih ringan. Rigen menyampaikan bahwa kedekatan mereka menjadi hal yang perlu disadari saat bersiap memasuki momen emosional. Untuk dapat menjalani adegan dengan kesiapan yang sesuai, mereka berusaha menjaga suasana dan mengambil jarak dari kebiasaan berinteraksi sebagai teman.

Sebelum adegan berlangsung, Rigen dan Hifdzi memilih untuk tidak saling menatap dan tidak berbincang. Mereka juga mengambil jarak satu sama lain agar masing-masing dapat mempersiapkan diri. Cara tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kesiapan emosional, bukan karena ada persoalan di mereka. Dalam pengalaman Rigen, menahan interaksi sebelum adegan membantu mereka tidak kembali terbawa suasana pertemanan yang biasanya terjalin. Keduanya berusaha memberi ruang bagi diri sendiri untuk memasuki kebutuhan adegan drama.

banner 325x300