Probolinggo – Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kraksaan menggandeng Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Probolinggo dalam kegiatan pembinaan keagamaan yang difokuskan pada penguatan pemahaman puasa dalam perspektif Islam, Rabu (25/2/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan mental dan spiritual bagi warga binaan menjelang bulan suci Ramadan.
Kepala Rutan Kraksaan, Galih Setiyo Nugroho, menegaskan bahwa pembinaan spiritual merupakan elemen penting dalam sistem pemasyarakatan. Menurutnya, proses pembinaan tidak hanya berorientasi pada aspek administratif dan keamanan, tetapi juga pada perubahan pola pikir serta karakter warga binaan.
“Puasa mengajarkan kesabaran, kejujuran, dan pengendalian diri. Nilai-nilai inilah yang sangat relevan dalam proses pembinaan warga binaan. Kami berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan kesadaran untuk berubah dan memperbaiki diri secara sungguh-sungguh,” ujar Galih dalam keterangan tertulisnya.
Ia menjelaskan, pendidikan karakter berbasis nilai keagamaan menjadi salah satu pendekatan yang dinilai efektif dalam membentuk kesadaran internal. Puasa, kata dia, bukan sekadar ritual ibadah tahunan, melainkan sarana pembelajaran untuk membangun integritas dan disiplin diri.
Dalam kegiatan tersebut, anggota Komisi Dakwah dan Ukhuwah Islamiyah MUI Kabupaten Probolinggo, KH. Masrur Rabitullah As’ad, menyampaikan tausiyah yang menekankan dimensi spiritual puasa sebagai “madrasah kehidupan”. Ia mengajak warga binaan memaknai masa pembinaan sebagai momentum refleksi dan hijrah menuju pribadi yang lebih baik.
“Puasa adalah madrasah kehidupan. Ia melatih kita menahan hawa nafsu, memperkuat empati, dan mendekatkan diri kepada Allah. Bagi warga binaan, ini adalah kesempatan emas untuk menjadikan masa pembinaan sebagai proses hijrah menuju pribadi yang lebih baik,” katanya.
Menurutnya, nilai puasa tidak berhenti pada aspek fikih, seperti syarat dan rukun, melainkan juga menyentuh aspek sosial dan moral. Pengendalian diri, empati terhadap sesama, serta kesadaran untuk bertanggung jawab atas perbuatan menjadi bagian integral dari ibadah tersebut.
Kegiatan pembinaan berlangsung interaktif, dengan sesi tanya jawab yang memberi ruang bagi warga binaan untuk menyampaikan pertanyaan seputar praktik puasa di lingkungan rutan, termasuk tantangan menjaga konsistensi ibadah di tengah keterbatasan ruang gerak.
Pihak rutan berharap sinergi dengan MUI dapat terus berlanjut melalui program keagamaan yang berkesinambungan. Pembinaan spiritual dinilai sebagai fondasi penting dalam menyiapkan warga binaan kembali ke masyarakat setelah menjalani masa pidana.
“Tujuan akhirnya adalah reintegrasi sosial. Kami ingin warga binaan keluar dari sini bukan hanya telah menjalani hukuman, tetapi juga memiliki keimanan yang lebih kuat dan karakter yang lebih baik,” ujar Galih.
Dengan pendekatan pembinaan yang komprehensif, Rutan Kraksaan menempatkan aspek spiritual sebagai salah satu pilar utama dalam proses pemasyarakatan. Harapannya, nilai-nilai yang ditanamkan melalui kegiatan keagamaan dapat menjadi bekal nyata bagi warga binaan dalam membangun kehidupan baru di tengah masyarakat.
(Bambang)







