banner 728x250

Dari Sapu Ijuk untuk Masa Depan: Kisah Ahmad Jamaludin Dirikan Sekolah Gratis di Pedalaman Cianjur

banner 120x600
banner 468x60

 

Image

banner 325x300

Image

CIANJUR – Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya akses pendidikan di wilayah pelosok, seorang mantan guru honorer di Kabupaten Cianjur memilih melawan keadaan dengan cara yang tak biasa. Bermodal tekad dan hasil penjualan sapu ijuk, Ahmad Jamaludin mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Sekolah itu bernama SMP IT Pancuh Tiluh atau Pancuh Tilu, berdiri sejak tahun 2020 di Kampung Karang Muda, Desa Jayagiri, Kecamatan Sindangbarang. Di lokasi yang jauh dari kemewahan, bangunan sederhana beratap genteng tanpa plafon dengan dinding triplek itu justru menjadi tumpuan harapan bagi puluhan anak untuk tetap mengenyam pendidikan.

Ahmad Jamaludin bukan sosok pengusaha besar ataupun pejabat dengan akses anggaran melimpah. Ia hanya mantan guru honorer yang pernah merasakan getirnya dunia pendidikan di daerah terpencil. Selama kurang lebih 10 tahun mengabdi sebagai tenaga pendidik honorer, ia menyaksikan langsung banyak anak terpaksa berhenti sekolah akibat persoalan biaya dan jauhnya akses pendidikan.

Kondisi itulah yang kemudian menggugah dirinya untuk bergerak.

“Kalau menunggu bantuan terus, anak-anak keburu putus sekolah,” demikian prinsip yang kerap disampaikan Ahmad kepada warga sekitar.

Dengan kemampuan seadanya, Ahmad mulai membangun sekolah secara bertahap. Tidak ada ruang kelas mewah, pendingin ruangan, ataupun fasilitas modern. Namun di balik bangunan sederhana itu, terdapat semangat besar untuk memastikan pendidikan tetap dapat dijangkau oleh masyarakat kecil.

Saat ini, SMP IT Pancuh Tiluh menampung sekitar 78 siswa. Seluruh siswa dibebaskan dari biaya masuk maupun iuran bulanan. Kebijakan itu sengaja diterapkan agar anak-anak dari keluarga tidak mampu tetap memiliki kesempatan belajar.

Keputusan menggratiskan pendidikan tentu bukan perkara mudah. Operasional sekolah tetap membutuhkan biaya, mulai dari perlengkapan belajar, kebutuhan bangunan, hingga aktivitas pendidikan sehari-hari. Namun Ahmad memilih mencari jalan keluar sendiri.

Ia memproduksi sapu ijuk untuk menopang kebutuhan sekolah.

Setiap hari, Ahmad bersama beberapa warga mampu membuat sekitar 100 batang sapu ijuk. Hasil penjualan sapu itulah yang kemudian digunakan untuk membiayai operasional sekolah. Tidak hanya menjadi sumber pendanaan, usaha tersebut juga dijadikan sarana pembelajaran keterampilan bagi para siswa.

Di sela aktivitas belajar, para siswa dikenalkan pada proses pembuatan sapu ijuk sebagai bentuk pendidikan kemandirian dan keterampilan hidup. Ahmad ingin anak-anak tidak hanya mendapatkan pelajaran akademik, tetapi juga memiliki kemampuan bertahan hidup dan jiwa kerja keras.

Langkah tersebut mendapat perhatian masyarakat sekitar. Di tengah kondisi ekonomi desa yang terbatas, keberadaan sekolah gratis itu dianggap menjadi solusi nyata bagi keluarga yang selama ini kesulitan menyekolahkan anak.

Bagi sebagian warga di Kampung Karang Muda, SMP IT Pancuh Tiluh bahkan menjadi satu-satunya harapan agar anak-anak mereka tidak berhenti di jenjang sekolah dasar.

Perjuangan Ahmad tidak berhenti di tingkat sekolah menengah pertama. Ia juga mendirikan PAUD Karang Muda untuk membantu pendidikan anak usia dini di wilayah tersebut. Upaya itu dilakukan karena ia meyakini pendidikan harus dibangun sejak dini, terutama di daerah yang akses pendidikannya masih terbatas.

Kisah Ahmad Jamaludin menjadi potret nyata bahwa kepedulian sosial tidak selalu lahir dari kemapanan ekonomi. Di tengah berbagai persoalan pendidikan di daerah, langkah sederhana dari seorang mantan guru honorer justru menghadirkan perubahan konkret bagi masyarakat.

Di saat banyak sekolah berlomba menghadirkan fasilitas modern, Ahmad memilih memperjuangkan sesuatu yang lebih mendasar: memastikan anak-anak tetap bisa sekolah.

Dan dari sapu ijuk yang setiap hari dibuat dengan tangan sendiri, harapan itu terus dirawat di pelosok Cianjur. (Edi D/Red/**)

📚 Artikel Terkait:
banner 325x300

Respon (3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *