Palembang | Selama dua bulan terakhir, sejumlah warga Palembang mengeluhkan paparan asap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di beberapa daerah Sumatera Selatan. Asap tersebut terasa mengganggu kehidupan sehari-hari, terutama ketika warga menjalankan kegiatan di luar rumah. Sebagian warga menyebut udara terasa kurang nyaman dan menimbulkan keluhan sulit bernapas. Ada pula yang merasakan mata perih setelah terpapar asap. Pengalaman ini tidak berarti semua warga mengalami gejala serupa, tetapi menunjukkan bahwa kabut asap telah menjadi persoalan yang dirasakan sebagian masyarakat. Keluhan tersebut muncul di tengah paparan asap yang berulang dan membuat aktivitas rutin terasa lebih berat daripada biasanya.
Dampaknya dapat terlihat dari cara warga menyesuaikan kegiatan harian saat kondisi udara berasap. Aktivitas yang biasanya dilakukan tanpa banyak pertimbangan, seperti bepergian atau menyelesaikan urusan di luar, bisa terasa lebih sulit ketika asap mengurangi kenyamanan. Bagi mereka yang mengalami sesak atau kesulitan bernapas, paparan itu menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Mata yang terasa pedih juga dapat mengganggu konsentrasi dan kenyamanan saat beraktivitas. Namun, tingkat gangguan dan keluhan berbeda-beda pada setiap orang. Laporan mengenai pengalaman sejumlah warga perlu dipahami sebagai kesaksian tentang dampak yang mereka rasakan, bukan gambaran bahwa seluruh penduduk Palembang mengalami kondisi kesehatan yang sama.
Situasi ini memperlihatkan bahwa kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera Selatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi lingkungan, tetapi juga memengaruhi keseharian masyarakat yang terpapar asap. Keluhan sulit bernapas dan iritasi mata menjadi alasan bagi sebagian warga untuk lebih memperhatikan keadaan udara serta membatasi paparan apabila memungkinkan. Informasi mengenai kondisi asap dan imbauan dari pihak berwenang dapat membantu warga mempertimbangkan kegiatan sehari-hari dengan lebih cermat. Pada saat yang sama, keluhan yang dirasakan warga patut menjadi perhatian, terutama jika gangguan pernapasan atau iritasi berlangsung atau memburuk. Paparan selama berbulan-bulan membuat persoalan ini terasa dekat bagi masyarakat yang terdampak.
Aji, 40 tahun, tetap menjalani rutinitasnya di luar rumah meski asap karhutla menyelimuti Palembang. Dalam kesehariannya, ia banyak bepergian menggunakan sepeda motor, sehingga sulit menghindari paparan kabut asap di jalan. Ia telah berupaya melindungi diri dengan memakai masker dan kacamata. Namun, perlengkapan tersebut belum sepenuhnya menghalangi asap yang terhirup maupun rasa tidak nyaman ketika kondisi udara memburuk. Terutama saat kabut sedang pekat, ia masih merasakan paparan selama berkendara dan beraktivitas.
Menurut Aji, kondisi biasanya terasa sejak pagi dan dapat berlangsung hingga menjelang siang. Kabut yang menggantung membuat suasana jalan tampak samar, sementara jarak pandang berubah mengikuti pekatnya asap. Saat udara dipenuhi kabut, pengendara harus lebih karena objek di depan tidak selalu terlihat jelas. Masker dan kacamata memang ia kenakan sebagai langkah perlindungan, tetapi keduanya tidak menghapus kesulitan yang muncul ketika pandangan terhalang. Aktivitas di luar rumah tetap harus dilakukan, sehingga ia berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan di jalan.
Ketika kabut semakin tebal, jarak pandang dapat terganggu hingga Aji mengandalkan lampu kendaraan yang berada di depannya sebagai penanda arah. Cahaya itu membantunya memperkirakan posisi kendaraan lain, tetapi tidak serta-merta membuat jalan terlihat terang dan jelas. Ia menggambarkan pengalaman tersebut dengan mengatakan, “Kalau kabut pekat, susah melihat jalan.” Keterangan itu menunjukkan bahwa dampak asap tidak hanya dirasakan melalui paparan saat bernapas atau rasa perih pada mata, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap keselamatan dan kenyamanan perjalanan. Bagi warga yang harus tetap berkendara, kondisi pagi hingga menjelang siang dapat menuntut konsentrasi lebih besar. Meski telah mengenakan masker dan kacamata, Aji masih menghadapi kabut yang membatasi pandangan selama beraktivitas di luar rumah.
Aji merasakan kondisi kesehatannya menurun setelah terpapar asap kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti wilayah Palembang. Keluhan yang ia alami terutama berkaitan dengan pernapasan dan mata. Ia mengaku sulit bernapas dan merasa sesak, sehingga aktivitas sehari-hari terasa lebih berat ketika keluhan tersebut muncul. Pengalaman itu membuat paparan asap tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran mengenai kondisi tubuhnya.
Selain kesulitan bernapas, Aji menyebut matanya terasa perih dan tampak memerah. Rasa perih tersebut menjadi keluhan yang jelas ia rasakan setelah terpapar asap. Ia kemudian memeriksakan kondisi matanya kepada dokter. Menurut keterangan Aji, dokter menyampaikan bahwa matanya mengalami iritasi. Keterangan itu merujuk pada kondisi mata yang ia keluhkan, sementara gejala lain tetap dijelaskan berdasarkan apa yang dirasakannya sendiri.
Keluhan sesak, sulit bernapas, mata perih, dan mata merah menggambarkan dampak yang dialami Aji selama asap berada di sekitarnya. Namun, informasi mengenai kondisinya terbatas pada pengakuan tersebut dan penjelasan dokter tentang iritasi pada mata. Karena itu, keluhan pernapasannya tidak dapat ditafsirkan sebagai diagnosis tertentu tanpa keterangan medis tambahan. Tidak ada pula dasar untuk menyimpulkan gangguan kesehatan lain di luar gejala yang ia sebutkan.
Pengalaman Aji memperlihatkan bagaimana asap dapat menjadi persoalan langsung bagi warga yang terpapar, terutama ketika muncul keluhan pada pernapasan dan mata. Dalam kasus ini, yang dapat dipastikan dari keterangannya adalah ia merasa sulit bernapas dan sesak, sementara matanya terasa perih serta memerah. Dokter, sebagaimana disampaikan Aji, menyebut adanya iritasi pada mata. Rincian tersebut memberi gambaran tentang keluhan yang dialami tanpa melebih-lebihkan kondisi maupun menarik kesimpulan medis yang tidak disampaikan. Dengan menyampaikan gejala sesuai sumbernya, pembaca dapat memahami pengalaman Aji secara jelas, sekaligus membedakan keluhan yang ia rasakan dan keterangan dokter yang ia terima.Herman, 30 tahun, warga Sekip, Palembang, mengatakan masih mencium aroma asap yang tajam meskipun rutin menggunakan masker. Pengalaman itu menggambarkan bahwa asap karhutla tetap terasa dalam kesehariannya. Masker yang ia pakai tidak membuat bau asap hilang, sehingga ia masih menyadari keberadaan asap di udara melalui indera penciumannya. Keluhan tersebut menjadi bagian dari dampak yang dirasakan warga ketika asap menyelimuti lingkungan tempat tinggal mereka.
Pengalaman Herman disampaikan di tengah catatan pemantauan kualitas udara di Stasiun Talang Betutu, Palembang. Pada hari pemberitaan, 16 Oktober 2026, konsentrasi partikulat halus PM2.5 tercatat berada pada kisaran 265,7 hingga 668,9 mikrogram per meter kubik. Rentang pengukuran itu berlangsung sejak pukul 00.00 sampai 08.00 WIB. Kualitas udara pada periode tersebut disebut berada pada level berbahaya.
Angka pemantauan tersebut memberi konteks terhadap keluhan warga yang masih mencium asap tajam, termasuk Herman. Data PM2.5 di Talang Betutu menunjukkan bahwa kualitas udara pada rentang waktu yang dicatat berada pada tingkat berbahaya, sementara pengalaman Herman memperlihatkan bahwa penggunaan masker rutin tidak menghilangkan aroma asap yang ia rasakan. Kedua hal ini—catatan partikulat dan keluhan warga—menjadi gambaran kondisi pada hari itu di Palembang. Informasi yang tersedia mencakup kisaran konsentrasi serta waktu pengukuran, bukan rincian perubahan dari jam ke jam. Karena itu, angka tersebut disajikan sesuai rentang pemantauan yang tercatat, tanpa menyimpulkan pola tambahan. Bagi Herman, aroma asap tetap tercium meski ia memakai masker secara rutin; sementara catatan Stasiun Talang Betutu memberikan ukuran konsentrasi PM2.5 untuk periode 00.00–08.00 WIB pada 16 Oktober 2026.
Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Satgas Karhutla TNI Kawal Penyaluran Bantuan Korporasi untuk Desa Terdampak di Melawi | Sinergi Polsek Bungkal Bersama Tim Gabungan Berhasil Jinakkan Karhutla di Ponorogo












