Jakarta | Harga minyak sawit mentah (CPO) melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026, setelah mencatat penutupan positif sehari sebelumnya. Perkembangan ini menunjukkan bahwa harga masih bergerak naik dalam rangkaian perdagangan terbaru, meskipun arah pergerakan selanjutnya tetap bergantung pada dinamika pasar. Pada Kamis, 22 Oktober, kontrak CPO ditutup di MYR4.792 per ton, meningkat 0,52% dibandingkan penutupan Rabu yang berada di MYR4.767 per ton. Kenaikan tersebut menjadi landasan bagi perdagangan Jumat dan menambah perhatian pelaku pasar terhadap peluang harga mempertahankan momentum positif.
Dalam perdagangan Jumat, harga CPO tercatat sekitar MYR4.816 per ton pada pukul 11.00 WIB. Posisi itu naik 0,50% dibandingkan penutupan Kamis di MYR4.792 per ton. Dengan demikian, harga bergerak lebih tinggi pada sesi perdagangan pagi, meneruskan tren penguatan yang telah terlihat sehari sebelumnya. Selisih harga pada waktu pemantauan tersebut dan penutupan sebelumnya mencapai MYR24 per ton. Namun, angka pada pukul 11.00 WIB merupakan catatan sementara selama perdagangan masih berlangsung, bukan harga penutupan final untuk hari itu. Karena itu, pergerakan selanjutnya hingga akhir sesi tetap perlu dicermati sebelum kinerja harian dapat dipastikan.
Penguatan pada Jumat juga membuka peluang bagi CPO untuk mencatat kenaikan selama tiga pekan berturut-turut. Peluang tersebut mencerminkan keberlanjutan tren positif dalam beberapa pekan terakhir, tetapi belum dapat dianggap sebagai hasil akhir yang pasti. Harga masih dapat berubah seiring berlangsungnya transaksi dan respons pasar terhadap perkembangan yang memengaruhi komoditas. Perbandingan dengan penutupan hari-hari sebelumnya memberikan gambaran mengenai arah pergerakan, sementara data penutupan Jumat kelak akan menentukan apakah rangkaian kenaikan itu benar-benar berlanjut. Untuk sementara, posisi MYR4.816 per ton menunjukkan CPO berada di atas level penutupan Kamis, dengan kenaikan intrahari sebesar 0,50%. Perhatian berikutnya tertuju pada apakah harga mampu mempertahankan level tersebut hingga sesi berakhir dan mengukuhkan tren positif tiga pekan.
Pergerakan minyak sawit mentah (CPO) berlangsung di tengah persaingan dengan minyak nabati lain yang sama-sama memasok kebutuhan pangan, energi, dan industri global. Karena pembeli dapat menyesuaikan pilihan berdasarkan harga relatif, ketersediaan, serta kebijakan setempat, perubahan harga minyak kedelai berpotensi memengaruhi daya tarik CPO. Kenaikan pada komoditas pesaing dapat memberi dukungan bagi sentimen pasar sawit, meskipun arah pergerakan tidak selalu seragam karena dipengaruhi kondisi pasokan dan permintaan masing-masing.
Pada perdagangan yang menjadi perhatian pelaku pasar, kontrak minyak kedelai paling aktif di bursa Dalian menguat 1,78%. Di Chicago Board of Trade, minyak kedelai naik 0,55%. Sebaliknya, kontrak minyak sawit di Dalian turun 0,19%. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan antarkomoditas dapat berlawanan dalam satu sesi. Penguatan minyak kedelai dapat memperbaiki posisi kompetitif CPO secara relatif, tetapi pelemahan kontrak sawit di Dalian menandakan bahwa dukungan itu belum tercermin merata pada seluruh acuan perdagangan.
Selain dinamika harga pesaing, perhatian pasar tertuju pada prospek pengiriman Malaysia. Perusahaan survei kargo memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia selama 1–20 Oktober 2026 meningkat 58,5% hingga 78,4% dibandingkan periode yang sama pada bulan sebelumnya. Rentang perkiraan yang lebar mencerminkan perbedaan hasil pemantauan atau cakupan pengiriman yang digunakan masing-masing survei. Angka tersebut merupakan estimasi untuk periode pengamatan, bukan realisasi final ekspor, sehingga perlu dibaca sebagai petunjuk awal mengenai aktivitas perdagangan, bukan sebagai data resmi yang telah dikukuhkan.
Jika perkiraan pengapalan itu terkonfirmasi oleh data berikutnya, kenaikan ekspor dapat mengisyaratkan permintaan luar negeri yang lebih kuat dan membantu menopang harga CPO. Namun, besarnya pengiriman juga perlu dinilai bersama ketersediaan stok, produksi, dan harga minyak nabati alternatif. Perbandingan tersebut penting karena peningkatan ekspor dalam suatu periode belum tentu berarti pasokan domestik mengetat secara berkelanjutan. Bagi pelaku pasar, kombinasi penguatan minyak kedelai dan prospek ekspor Malaysia memberi sinyal yang beragam: ada faktor pendukung, tetapi konfirmasi dari data final dan pergerakan harga lintas bursa tetap diperlukan.
Pasar energi turut memberi dukungan bagi penguatan harga minyak sawit mentah (CPO). Pada Kamis, 22 Oktober 2026, harga minyak Brent mencapai level tertinggi sejak Mei. Pergerakan tersebut menyusul serangan kelompok Houthi di Arab Saudi yang memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Ketidakpastian geopolitik dapat mendorong harga minyak mentah lebih tinggi apabila risiko terhadap jalur maupun fasilitas produksi energi meningkat.
Kenaikan harga minyak mentah berpotensi memperbesar daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel. Ketika energi fosil menjadi lebih mahal, bahan bakar berbasis nabati dapat memiliki daya saing relatif yang lebih baik, bergantung pada kebijakan, biaya produksi, dan kondisi pasar masing-masing negara. Hubungan ini mendukung permintaan untuk minyak sawit, khususnya ketika konsumsi biodiesel tetap tinggi. Dengan demikian, perkembangan di pasar energi menjadi salah satu faktor yang dapat menopang CPO, selain permintaan ekspor dan dinamika produksi.
Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memperkirakan harga CPO dapat bertahan di atas MYR4.600 per ton pada November 2026. Prospek tersebut ditopang permintaan ekspor, konsumsi biodiesel yang tetap kuat, serta penurunan produksi musiman. MPOC juga memperkirakan persediaan minyak sawit Malaysia menyusut dari November 2026 hingga Februari 2027 seiring penurunan produksi. Jika terjadi, pengurangan stok dapat memperketat pasokan yang tersedia dan memberikan dukungan tambahan bagi harga, terutama apabila permintaan tetap terjaga. Namun, perkembangan harga minyak mentah, kondisi geopolitik, volume ekspor, serta realisasi produksi dan persediaan tetap perlu dicermati karena perubahan pada faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi keseimbangan pasar dan prospek harga CPO dalam beberapa bulan mendatang.
Penguatan crude palm oil (CPO) hingga MYR4.816 per ton belum sepenuhnya meniadakan risiko koreksi dalam jangka pendek. Setelah harga sempat mencapai MYR4.852 per ton, analis teknikal Wang Tao menilai penurunan yang menyusul masih berpotensi berlanjut. Dengan demikian, level penguatan yang telah tercatat perlu dibedakan dari proyeksi teknikal: harga MYR4.816 merupakan catatan pasar, sedangkan area berikutnya yang mungkin diuji merupakan perkiraan berdasarkan pembacaan pola dan level grafik.
Dalam analisis tersebut, MYR4.736 per ton menjadi salah satu support yang berpeluang diuji apabila tekanan jual bertahan. Support adalah area yang dipantau karena dapat menahan penurunan, meski tidak menjamin harga akan berhenti di sana. Wang Tao juga mengemukakan skenario ketika CPO menembus ke bawah MYR4.773 per ton. Penembusan itu dapat membuka ruang bagi harga untuk bergerak dalam rentang MYR4.706–MYR4.773 per ton. Rentang tersebut merupakan kemungkinan teknikal, bukan kisaran transaksi yang sudah dipastikan terjadi.
Pelaku pasar juga perlu mencermati MYR4.836 per ton sebagai area resistansi penting. Jika harga bergerak naik, level ini dapat menjadi titik pengujian bagi kekuatan pembeli; kegagalan melewatinya berpotensi menjaga tekanan koreksi. Sebaliknya, pergerakan yang mampu bertahan di atas area tersebut dapat mengubah pembacaan momentum, tetapi tetap perlu dikonfirmasi oleh perkembangan harga selanjutnya. Karena itu, level support dan resistansi lebih tepat digunakan sebagai acuan pemantauan risiko, bukan kepastian arah. Pelaku pasar sebaiknya membandingkan skenario teknikal dengan dinamika ekspor, permintaan biodiesel, serta faktor pasar lain sebelum mengambil keputusan.












