banner 728x250

Danantara Himpun Pelaku Teknologi untuk Perkuat Industri Berbasis Inovasi

Danantara Himpun Pelaku Teknologi untuk Perkuat Industri Berbasis Inovasi
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Danantara menyelenggarakan Technology Innovation Investment Forum (TIIF) 2026 di Jakarta selama tiga hari sebagai ruang pertemuan bagi berbagai pihak yang berkepentingan terhadap perkembangan teknologi dan investasi inovasi. Sekitar 1.500 orang tercatat mendaftar untuk mengikuti forum tersebut. Selain para pendaftar, sejumlah undangan dari dalam maupun luar negeri turut hadir. Skala partisipasi ini menunjukkan bahwa forum menarik perhatian berbagai kalangan, baik dari ekosistem nasional maupun dari luar Indonesia. Kehadiran peserta dengan latar belakang beragam menjadi bagian penting dari penyelenggaraan acara, karena isu inovasi dan pengembangan industri melibatkan banyak pemangku kepentingan dengan peran yang berbeda.

Peserta yang terlibat mencakup pelaku industri, unsur pemerintah, lembaga, serta perguruan tinggi. Komposisi tersebut mempertemukan pihak yang menjalankan kegiatan usaha dan mengembangkan teknologi dengan institusi yang memiliki fungsi kebijakan, kelembagaan, dan pendidikan. Dengan demikian, TIIF 2026 tidak hanya menjadi ajang bagi satu kelompok tertentu, melainkan wadah lintas sektor untuk bertemu dan bertukar pandangan. Keikutsertaan perguruan tinggi juga menghadirkan perspektif dunia akademik, sementara pelaku industri membawa sudut pandang terkait kebutuhan dan dinamika usaha. Unsur pemerintah dan lembaga melengkapi pertemuan dengan keterlibatan pihak-pihak yang berperan dalam ekosistem yang lebih luas.

banner 325x300

Keterwakilan beragam kalangan tersebut memberi forum ruang untuk mempertemukan pemikiran dari sisi teknologi, industri, pemerintahan, kelembagaan, dan pendidikan tinggi. Partisipasi undangan dalam maupun luar negeri turut memperluas cakupan pertemuan, tanpa mengubah fokus utamanya pada hubungan inovasi dan investasi. Jumlah pendaftar yang mencapai sekitar 1.500 orang juga menggambarkan minat terhadap forum yang menghimpun pelaku dari berbagai latar. Dalam konteks penguatan industri berbasis inovasi, keterlibatan banyak pihak menjadi relevan karena pengembangan teknologi tidak berlangsung secara terpisah dari kegiatan usaha dan dukungan ekosistem. TIIF 2026 menghadirkan kesempatan bagi kalangan tersebut untuk berada dalam satu forum di Jakarta selama tiga hari.

Chief Technology Officer Danantara, Sigit Puji Santosa, menjelaskan bahwa sejumlah nota kesepahaman dan kesepakatan tengah disiapkan untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan kemampuan perusahaan serta perguruan tinggi. Rencana tersebut mencakup calon mitra dari dalam negeri maupun luar negeri. Dengan melibatkan berbagai pihak, Danantara berharap kerja sama dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih terarah dalam pengembangan teknologi dan penguatan industri berbasis inovasi.

Namun, rencana penandatanganan itu perlu dibedakan dari kerja sama yang telah resmi disepakati. Sigit menyampaikan bahwa sejumlah dokumen akan ditandatangani bersama para mitra, sehingga penyebutan rencana tersebut tidak berarti seluruh nota kesepahaman atau kesepakatan sudah berlaku. Proses penyiapan dan penandatanganan masih menjadi bagian dari langkah yang ditempuh untuk membangun kemitraan. Adapun pihak-pihak yang terlibat berasal dari ekosistem berbeda, termasuk perusahaan dan institusi pendidikan tinggi, dengan kemungkinan partisipasi mitra internasional.

Pada tahap awal, fokus kerja sama adalah memetakan kebutuhan yang ada di industri dan mencocokkannya dengan keahlian, teknologi, serta kapasitas calon mitra. Pemetaan ini diperlukan agar kolaborasi tidak sekadar berupa penandatanganan dokumen, tetapi berangkat dari persoalan dan peluang yang nyata. Perusahaan dapat menyampaikan kebutuhan operasional maupun tantangan teknis, sementara perguruan tinggi dan pelaku teknologi dapat menawarkan riset, sumber daya manusia, atau solusi yang relevan. Pencocokan tersebut juga membantu mengidentifikasi mitra yang paling sesuai untuk setiap kebutuhan.

Pendekatan bertahap ini memberi dasar bagi kerja sama yang lebih terukur. Setelah kebutuhan dan mitra dipetakan, para pihak dapat menelaah bentuk kolaborasi yang sesuai serta ruang lingkup pekerjaan yang mungkin dilakukan. Dengan demikian, nota kesepahaman yang direncanakan dapat menjadi pintu masuk bagi pembahasan lebih lanjut, bukan klaim bahwa proyek atau hasil tertentu telah terlaksana. Keterlibatan perusahaan domestik dan asing bersama kampus diharapkan memperluas pertukaran pengetahuan sekaligus mendorong solusi teknologi yang dapat digunakan industri. Kejelasan agenda yang masih disiapkan dan kesepakatan yang sudah ditandatangani juga penting agar perkembangan kemitraan dapat dipahami secara akurat oleh publik dan calon peserta ekosistem inovasi.

Menurut Sigit, perguruan tinggi yang dilibatkan dalam kerja sama diharapkan dapat mendukung kebutuhan industri BUMN di bawah Danantara. Peran kampus tidak ditentukan semata-mata oleh statusnya sebagai institusi pendidikan tinggi, tetapi juga oleh kesesuaian kemampuan yang dimiliki dengan kebutuhan industri. Dengan begitu, kolaborasi dapat diarahkan pada persoalan yang benar-benar relevan bagi perusahaan, sekaligus memanfaatkan pengetahuan, tenaga ahli, dan kapasitas riset yang tersedia di lingkungan akademik.

Pemetaan mitra perlu memperhatikan dua pertimbangan yang saling melengkapi. Pertama, keahlian perguruan tinggi perlu dicocokkan dengan kebutuhan industri, sehingga kampus yang memiliki kompetensi relevan dapat memberikan dukungan yang sesuai. Kedua, lokasi perguruan tinggi juga menjadi pertimbangan, terutama ketika kampus berada di wilayah tempat industri beroperasi. Kedekatan ini dapat membantu membangun hubungan kerja yang lebih erat dan memahami konteks setempat, tanpa mengesampingkan kompetensi sebagai dasar utama pemilihan mitra.

Melalui pendekatan pemetaan dan pencocokan tersebut, Danantara dapat mempertemukan kebutuhan perusahaan dengan kemampuan perguruan tinggi secara lebih terarah. Prosesnya bukan sekadar mengumpulkan daftar kampus, melainkan mengenali apa yang dibutuhkan industri dan siapa yang memiliki keahlian untuk menjawabnya, sambil mempertimbangkan kedekatan lokal apabila relevan. Pencocokan yang jelas juga membantu memastikan bahwa keterlibatan kampus memiliki tujuan dan ruang kontribusi yang dapat dipahami bersama.

Dengan demikian, kerja sama diharapkan tidak hanya bertumpu pada satu jenis perguruan tinggi. Kampus dengan keahlian yang sesuai dapat dilibatkan meskipun pertimbangannya terutama terletak pada kompetensi, sedangkan perguruan tinggi di sekitar lokasi operasi industri dapat mendukung melalui kedekatan wilayah dan pemahaman atas konteks lokal. Keduanya dapat berperan sesuai kecocokan dengan kebutuhan yang telah dipetakan. Sigit menekankan pentingnya pendekatan yang mempertimbangkan kemampuan sekaligus lokasi agar dukungan akademik bagi industri BUMN lebih terarah dan selaras dengan kebutuhan masing-masing perusahaan.

Penekanan Sigit dalam forum ini menunjukkan bahwa pengembangan industri perlu melihat lebih dari satu jalur pertumbuhan. Sektor padat karya tetap menjadi bagian penting dari pembahasan, tetapi tidak menjadi satu-satunya perhatian. Menurut arah yang disampaikan, industri berbasis teknologi dan inovasi juga perlu memperoleh konsentrasi serta prioritas. Dengan pendekatan tersebut, agenda pengembangan industri dapat mencakup kebutuhan sektor yang menyerap tenaga kerja sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi dan pembaruan dalam kegiatan usaha. Pernyataan ini menjadi alasan strategis bagi pelaksanaan forum: mempertemukan para pelaku teknologi dengan pihak lain agar pembicaraan mengenai masa depan industri tidak berhenti pada satu jenis sektor atau kebutuhan saja. Fokus yang lebih berimbang membuka ruang bagi beragam pelaku untuk bertukar pandangan mengenai peran inovasi dalam pengembangan industri.

Arah tersebut juga menempatkan teknologi dan inovasi sebagai perhatian yang perlu dibicarakan secara khusus, bukan sekadar pelengkap bagi industri yang telah berkembang. Dalam konteks forum, perhatian itu berkaitan dengan upaya menghubungkan gagasan dan kapasitas para pelaku teknologi dengan kebutuhan industri. Sigit menyampaikan bahwa pengembangan industri tidak hanya berfokus pada sektor padat karya, melainkan turut memberi konsentrasi dan prioritas kepada industri yang bertumpu pada teknologi dan inovasi. Penekanan ini menggambarkan orientasi yang lebih luas dalam melihat potensi industri, tanpa mengesampingkan sektor padat karya. Forum menjadi ruang untuk membahas bagaimana berbagai pihak dapat berperan dalam orientasi tersebut, sekaligus mengenali peluang kerja bersama yang relevan bagi pengembangan industri. Dengan demikian, pembahasan tidak hanya berkisar pada arah yang ingin dituju, tetapi juga pada pentingnya keterhubungan antarpelaku.

Kolaborasi menjadi penghubung.

Baca juga: Hari Tani Nasional, Polres Kediri Perkuat Gerakan Pangan Berbasis Petani | NGAJI KEBANGSAAN, KAPOLRI AJAK POLRI DAN ULAMA PERKUAT PERSATUAN BANGSA | Inovasi Terkini dalam Kendali Rumah Pintar

banner 325x300