Semarang | Tasripin dikenal sebagai pengusaha asal Semarang yang berhasil membangun kekayaan besar pada masa kolonial Belanda. Ia lahir pada 1834, ketika kehidupan ekonomi di Jawa berlangsung di bawah pemerintahan kolonial dan peluang usaha modern mulai berkembang di sejumlah kota. Di tengah perubahan tersebut, Tasripin menekuni perdagangan es, komoditas yang semakin dibutuhkan untuk menjaga bahan makanan tetap segar dan memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun usaha.
Usaha es menjadi sumber utama yang mengantarkannya ke jajaran orang pribumi terkaya pada zamannya. Perdagangan ini menuntut kemampuan mengelola produksi, penyimpanan, dan distribusi, sebab es harus tersedia bagi konsumen di wilayah beriklim tropis. Keberhasilan Tasripin menunjukkan bahwa pengusaha lokal dapat memanfaatkan kebutuhan sehari-hari yang tumbuh seiring perkembangan kota. Ia bukan sekadar menjual barang, melainkan membangun usaha yang menjawab permintaan pasar dan memperluas jangkauan perdagangan.
Besarnya kekayaan Tasripin tercatat dalam surat kabar De Nieuwe Vorstenlanden pada 8 September 1919. Koran tersebut menyebut bahwa hartanya mencapai 45 juta gulden ketika ia meninggal pada tahun yang sama. Angka itu kerap menarik perhatian karena menggambarkan skala kekayaan yang luar biasa bagi seorang pengusaha pribumi pada masa kolonial. Namun, catatan tersebut perlu dibaca sebagai angka yang dilaporkan pada zamannya, bukan ukuran yang dapat langsung disetarakan dengan nilai uang saat ini.
Perkiraan yang menyebut kekayaan itu setara hampir Rp10 triliun merupakan perbandingan yang bertumpu pada harga beras, bukan konversi pasti dari gulden ke rupiah masa kini. Nilai mata uang, daya beli, struktur ekonomi, dan harga barang telah berubah besar selama lebih dari satu abad. Karena itu, angka tersebut lebih tepat dipahami sebagai ilustrasi kasar untuk membantu pembaca membayangkan besarnya harta Tasripin, bukan penilaian akurat atas kekayaannya dalam rupiah modern. Kisahnya tetap penting sebagai contoh bagaimana usaha es dapat menjadi jalan menuju kemakmuran dan menempatkan seorang pengusaha Semarang dalam catatan sejarah ekonomi Jawa.Pada masa Tasripin menjalankan usahanya, kulkas dan mesin pendingin belum tersedia secara luas. Es bukan barang yang mudah diproduksi, disimpan, atau diangkut; penyediaannya bergantung pada fasilitas khusus dan jaringan distribusi yang terbatas. Kelangkaan ini membuat es memiliki nilai jual tinggi, terutama di tengah masyarakat yang belum dapat mendinginkan makanan dan minuman dengan peralatan rumah tangga. Bagi kalangan berada, es memberi kenyamanan yang langka, sedangkan bagi pelaku usaha, ketersediaannya dapat mendukung kegiatan yang memerlukan suhu rendah. Dengan demikian, perdagangan es beroperasi dalam kondisi ketika permintaan cukup kuat, tetapi pasokan tidak mudah ditambah. Kombinasi kelangkaan, kebutuhan, dan kemampuan memasok barang tersebut membuka peluang keuntungan besar bagi pengusaha yang mampu membangun serta mengelola usaha secara konsisten.
Besarnya kekayaan Tasripin kerap dinyatakan sekitar 45 juta gulden. Untuk memahami nilai tersebut, salah satu pendekatan adalah membandingkannya dengan daya beli barang kebutuhan pokok, bukan langsung mengubah gulden menjadi rupiah berdasarkan kurs. Pada masa itu, satu liter beras disebut berharga sekitar 6 sen. Jika 45 juta gulden dipadankan dengan nilai 45 juta gulden dalam hitungan sen yang digunakan pada perbandingan ini, jumlah tersebut setara dengan daya beli sekitar 750 juta liter beras. Perbandingan berbasis beras memberi gambaran yang lebih konkret tentang skala kekayaan: beras merupakan bahan pangan utama dan dapat dipakai sebagai tolok ukur daya beli lintas masa. Namun, hasilnya tetap bergantung pada ketepatan angka harga dan satuan yang dijadikan acuan.
Dengan memakai perkiraan harga beras masa kini sekitar Rp13 ribu per liter, 750 juta liter beras bernilai kurang lebih Rp9,75 triliun, atau dibulatkan menjadi sekitar Rp9,7 triliun. Angka ini membantu pembaca membayangkan besarnya kekayaan Tasripin dalam ukuran ekonomi modern, tetapi tidak boleh dipahami sebagai jumlah rupiah yang pernah tercatat atau diterima olehnya. Nilai tersebut merupakan hasil perbandingan daya beli beras pada dua periode yang sangat berbeda. Harga, pola konsumsi, struktur ekonomi, dan nilai mata uang telah berubah, sehingga perhitungan ini bukan konversi pasti maupun penilaian akuntansi atas asetnya. Meski demikian, pendekatan tersebut menunjukkan mengapa kekayaan 45 juta gulden dianggap luar biasa, sekaligus menempatkan keberhasilan usaha es dalam konteks kelangkaan dan tingginya nilai barang pada masa kolonial.
Perjalanan usaha Tasripin di bidang es menunjukkan bagaimana sebuah bisnis dapat berkembang melalui penambahan kapasitas dan lokasi. Menurut pemberitaan De Locomotief pada 25 Juli 1902, Tasripin telah memiliki pabrik es di Ungaran, Semarang. Delapan tahun kemudian, ia mendirikan pabrik es lain di kawasan Petelan. Kehadiran dua fasilitas tersebut menandai perluasan usahanya, sekaligus memperlihatkan bahwa produksi es telah menjadi bagian penting dari kegiatan ekonominya di wilayah Semarang.
Pabrik di Petelan mendapat perhatian pers pada 1910. Dalam laporan bertanggal 5 September, De Locomotief menyebutnya sebagai pabrik es terbesar di Semarang. Berita itu juga menerangkan bahwa Tasripin mengoperasikan pabrik tersebut secara langsung. Keterangan mengenai ukuran dan pengelolaannya memberi gambaran tentang skala bisnis yang dibangunnya, meskipun informasi yang tersedia tidak merinci kapasitas produksi, jumlah pekerja, ataupun jangkauan distribusi es. Dengan demikian, perkembangan pabrik dapat ditelusuri melalui catatan pers, sementara rincian operasional lainnya masih belum diketahui.
Kekayaan Tasripin tidak hanya bertumpu pada produksi es. Ia juga mengembangkan usaha rumah penjagalan serta jual-beli kulit hewan. Kegiatan-kegiatan ini memperluas sumber pendapatannya dan ikut menambah hartanya. Sumber yang mencatat perjalanan bisnisnya menyebut penghasilannya mencapai 30–40 ribu gulden per bulan. Ia juga memiliki banyak rumah, tanah, dan pabrik es yang tersebar. Angka pendapatan itu menggambarkan besarnya kekayaan yang dikaitkan dengannya, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan pembagian pemasukan di berbagai usahanya.
Tasripin meninggal pada 1919. Setelah itu, keluarganya meneruskan bisnis es, sehingga kegiatan usaha tersebut tidak langsung berhenti bersama pemiliknya. Namun, keterangan yang tersedia tidak menjelaskan secara lebih jauh berapa lama usaha itu bertahan, bagaimana pengelolaannya berubah, atau apakah seluruh fasilitas produksi tetap beroperasi. Jejak yang tercatat memperlihatkan seorang pengusaha yang memadukan pabrik es dengan usaha lain, lalu membangun kekayaan dari beragam aset. Kelanjutan bisnis oleh keluarga menjadi bagian akhir yang diketahui dari perjalanan usaha es Tasripin, sementara kisah sesudahnya masih belum terang.
Kisah Tasripin merupakan bagian dari perkembangan usaha es yang lebih luas di Jawa pada masa kolonial. Di Semarang, Kwa Wan Hong hidup sezaman dengannya dan dikenal sebagai “raja es”. Ia juga disebut sebagai perintis industri es pertama di Indonesia. Pada 1895, Kwa mendirikan pabrik Hoo Hien, yang menjadi salah satu usaha penting dalam penyediaan es di kota itu. Keberadaan pabrik tersebut menunjukkan bahwa produksi es mulai berkembang sebagai kegiatan bisnis, bukan semata barang langka yang hanya dapat dinikmati kalangan tertentu.
Menurut uraian sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya (1999), Kwa membuat es melalui reaksi kimia dengan mencampurkan garam dan amonia. Cara ini memungkinkan produksi es tanpa bergantung sepenuhnya pada pasokan es dari luar. Surat kabar De Nieuwe Vorstenlanden pada 17 Juli 1901 melaporkan bahwa pabrik Kwa membuat es lebih mudah dijangkau masyarakat. Ketersediaan yang semakin luas turut mengubah kebiasaan menikmati minuman dingin. Kwa juga dikaitkan dengan lahirnya industri es krim pertama pada masa kolonial, memperlihatkan bagaimana usaha es berkembang ke produk konsumsi lain.
Besarnya kekayaan Kwa tidak diketahui secara.
Baca juga: Kekayaan Tersembunyi di Lapas Cibinong












