banner 728x250

Diduga Anti Kritik, Oknum Lurah Pasar Atas Geram Disorot Warga dan Media Soal Proyek Rabat Beton Bermasalah

Diduga Anti Kritik, Oknum Lurah Pasar Atas Geram Disorot Warga dan Media Soal Proyek Rabat Beton Bermasalah
banner 120x600
banner 468x60

Merangin – Polemik di Kelurahan Pasar Atas, Kecamatan Bangko, Merangin semakin memanas setelah oknum Lurah MY secara emosional mengancam akan melaporkan media kepada Bupati Merangin, Syukur, hanya karena tidak nyaman dengan pemberitaan kritis yang menyoroti dugaan ketidaksesuaian proyek rabat beton senilai Rp 95 juta di wilayahnya.

Ancaman itu disampaikan MY pada 4 Desember 2025 sekitar pukul 18.06 WIB ketika menelpon pihak media yang sebelumnya mempublikasikan desakan warga RT 15 agar dilakukan pengecekan ulang volume pekerjaan proyek tersebut.

banner 325x300

“Kalau diberitakan terus aku jadi dak nyaman, aku laporkan ke Syukur,” ucap MY dalam nada tinggi.

Pernyataan ini memantik kritik luas. Banyak pihak mempertanyakan mengapa seorang pejabat publik justru alergi terhadap fungsi kontrol media dan keberatan terhadap kritik yang wajar disuarakan masyarakat.

Pertanyaan Publik: Dasar Apa oknum Lurah Laporkan Media ke Bupati?

Tindakan MY dianggap tidak etis dan bertentangan dengan prinsip keterbukaan informasi publik. Dalam sistem demokrasi, media merupakan pilar pengawasan yang sah, terlebih ketika pemberitaan menyangkut penggunaan anggaran negara.

Ancaman tersebut memunculkan dugaan bahwa ada upaya membungkam pemeriksaan publik terhadap proyek rabat beton yang kini jadi sorotan.

Tak hanya itu, publik juga mempertanyakan keberanian MY menggunakan nama Bupati Syukur sebagai tameng.

Apakah hal ini menunjukkan adanya keyakinan bahwa dirinya “terlindungi” figur tertentu sehingga merasa kebal terhadap kritik?

Atau justru mengindikasikan adanya potensi “kongkalikong” dalam pelaksanaan proyek?

Proyek Rabat Beton Rp 95 Juta: Warga Nilai Hasil Tidak Wajar

Di balik kegaduhan ancaman kepada media, terdapat persoalan utama yang memicu kritik: dugaan ketidaksesuaian volume pekerjaan proyek rabat beton.

Warga RT 15, terutama yang bermukim di belakang TK Pembina 1, meminta penghitungan ulang karena perbandingan antara anggaran dan hasil pekerjaan dinilai janggal.

Menurut warga bernama Mujibur Rahman, spesifikasi proyek saat ini terlalu kecil dibandingkan proyek serupa dengan anggaran hampir sama di tahun sebelumnya.

Spesifikasi Proyek Saat Ini (Rp 95 Juta):

  • Panjang: ± 54 meter
  • Lebar: 2,5 meter
  • Ketebalan: 15 cm

Proyek Terdahulu dengan Anggaran Serupa:

  • Panjang: 100 meter lebih hingga ke sungai
  • Lebar: 3 meter
  • Ketebalan: 15 cm

Jauh sekali perbedaannya. Perlu dihitung ulang apakah pekerjaan ini sudah sesuai dana,” tegas Mujibur.

Perbandingan mencolok ini memunculkan dugaan kuat terjadinya penyimpangan, mark-up, atau pengurangan volume yang merugikan keuangan negara.

Dukungan Ketua RT yang Misterius dan Janji Lurah yang Tak Jelas

Dalam penjelasannya, MY mengaku mendapat dukungan dari sejumlah Ketua RT yang menyuruhnya “maju terus” menghadapi pihak yang disebutnya “ngacau”. Tetapi ketika diminta menyebut nama-nama RT tersebut, ia menolak.

Sikap ini justru memperkuat anggapan bahwa klaim dukungan itu tak lebih dari upaya defensif tanpa dasar.

Di sisi lain, MY berjanji akan turun ke lapangan setelah pulang dari kegiatan keluarga di Jambi. Namun janji ini dinilai warga sebagai bentuk ketidakseriusan dalam merespons keluhan yang sudah sejak lama disampaikan langsung ke kantor kelurahan.

LSM Sapurata Tantang oknum Lurah: “Jangan Sedikit-Sedikit Bawa Nama Bupati!”

Sikap MY yang langsung mengaitkan masalah ini dengan Bupati juga menuai kritik dari aktivis lembaga swadaya masyarakat.

Rama Sanjaya, perwakilan LSM Sapurata, mengecam keras pernyataan oknum Lurah Pasar Atas.

“Jangan gampang nian nyebut nak melaporkan ke Syukur bupati. Jangan cak itu, dikit-dikit bupati. Jabatan bupati bukan tameng untuk membungkam benar atau salah,” tegas Rama.

LSM Sapurata menyatakan siap mendampingi warga RT 15, bahkan siap mengawal jika persoalan ini harus dibawa ke tingkat kabupaten. Mereka juga membuka diri untuk bekerja sama dengan media nasional dan Tim Perkumpulan Pimpinan Redaksi Indonesia Maju (Prima) apabila oknum Lurah benar-benar nekat melaporkan.

Sayo tunggu. Kalau perlu, kito buek heboh Merangin ini,” tambah Rama.

Bumerang bagi oknum Lurah: Sorotan Publik Kian Tajam

Ancaman oknum Lurah Pasar Atas terhadap media malah menimbulkan efek sebaliknya. Alih-alih meredam kritik, pernyataan itu membuat perhatian publik terhadap dugaan penyimpangan proyek rabat beton semakin besar.

Kini masyarakat menunggu apakah oknum Lurah Pasar Atas akan benar-benar melaporkan media ke Bupati, atau ancaman itu hanyalah gertak sambal yang menunjukkan ketidaksiapan seorang pejabat publik dalam menghadapi transparansi.

Isu utama tetap sama:
Apakah proyek rabat beton Rp 95 juta telah dilaksanakan sesuai spesifikasi dan peraturan?
Publik berhak mendapatkan jawabannya.

(Edi D/PRIMA/**)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *