banner 728x250

Gus Falah Berharap Unas Kelak Melahirkan Presiden Republik Indonesia

Gus Falah Berharap Unas Kelak Melahirkan Presiden Republik Indonesia
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Nasyirul Falah Amru, Ketua Keluarga Alumni Universitas Nasional (Kalunas) yang dikenal sebagai Gus Falah, menyampaikan harapannya agar Universitas Nasional (Unas) kelak melahirkan presiden Republik Indonesia. Harapan itu ia sampaikan dalam pidato sambutan pada wisuda Unas Periode II Tahun Akademik 2025/2026, yang berlangsung di Jakarta Convention Center, Sabtu, 24 Oktober 2026. Dalam kesempatan tersebut, Gus Falah hadir sebagai perwakilan keluarga alumni sekaligus anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Pesan mengenai kemungkinan kontribusi lulusan Unas di tingkat nasional itu disampaikan di hadapan para wisudawan, keluarga, sivitas akademika, dan tamu undangan. Sebagai ketua organisasi alumni, Gus Falah mengaitkan harapannya dengan peran pendidikan tinggi dalam membentuk sumber daya manusia yang siap mengabdi kepada masyarakat. Ia juga menempatkan lulusan sebagai bagian dari perjalanan panjang universitas dan bangsa, dengan beragam kesempatan untuk mengambil peran dalam kehidupan publik.

banner 325x300

Pernyataan tersebut merupakan harapan pribadi yang disampaikan dalam suasana perayaan kelulusan. Hal itu tidak berarti bahwa Unas telah menetapkan sasaran resmi untuk menghasilkan presiden, ataupun bahwa pernyataan tersebut meramalkan siapa yang akan memimpin Indonesia pada masa mendatang. Harapan Gus Falah lebih tepat dipahami sebagai dorongan agar alumni terus mengembangkan kapasitas, menjaga integritas, dan membuka peluang untuk berkontribusi di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan kepemimpinan nasional.

Wisuda menjadi momen untuk merayakan capaian akademik sekaligus menandai awal tanggung jawab baru bagi para lulusan. Dalam konteks itu, ucapan Gus Falah menyoroti besarnya ruang pengabdian yang dapat dijajaki setelah menyelesaikan studi. Alumni Unas dapat berkiprah dalam profesi, komunitas, dunia usaha, maupun lembaga publik sesuai minat dan kompetensi masing-masing. Harapan tentang lahirnya seorang presiden dari lingkungan Unas memberi gambaran aspiratif mengenai kemungkinan kontribusi tersebut, tanpa mengurangi kenyataan bahwa masa depan setiap lulusan ditentukan oleh proses, pilihan, dan kerja mereka sendiri.

Gus Falah mengenang bahwa dirinya mulai kuliah di Universitas Nasional pada 1994. Ingatan tentang masa awal tersebut tertambat pada barang-barang sederhana yang dibawanya: sebuah tas berisi sikat gigi, dua buku, dan handuk. Bagi dirinya, kisah itu bukan sekadar daftar benda yang dibawa ketika memulai pendidikan. Kenangan tersebut menjadi cara untuk melihat kembali titik awal perjalanan sebagai mahasiswa dan menimbang arti pendidikan yang diterimanya di Unas. Ia mengisahkan pengalaman itu sebagai refleksi pribadi, dengan menempatkan masa kuliah sebagai bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Ketika mengenang awal kuliah, Gus Falah menyampaikan cerita tersebut dengan sederhana. Tas dan isinya menandai saat ia memulai kehidupan akademik di kampus, sementara dua buku mengingatkan pada kegiatan belajar yang menjadi bagian dari pendidikan. Ia tidak menggambarkan kisah itu sebagai sesuatu yang berlebihan, melainkan sebagai kenangan yang masih melekat. Dari sudut pandangnya, pengalaman menjadi mahasiswa Unas merupakan bagian dari proses yang kemudian mengantarkannya pada berbagai peran. Ingatan itu memberi konteks bagi pandangannya mengenai hubungan pendidikan dengan perjalanan seseorang.

Gus Falah mengaitkan pendidikan yang ia peroleh di Unas dengan perjalanannya hingga menjadi anggota DPR RI. Ia menyebut telah menjalani tiga periode sebagai anggota lembaga tersebut. Penyebutan itu memperlihatkan sejauh mana pengalaman pendidikan di kampus ia maknai dalam perjalanan dirinya, tanpa mengubah cerita tentang awal kuliah menjadi uraian tentang rincian karier. Bagi Gus Falah, kisah membawa tas sederhana pada 1994 dan perjalanan sebagai alumni berada dalam satu rangkaian kenangan. Ia memandang pengalaman tersebut sebagai refleksi tentang titik mula, pendidikan, dan perjalanan yang dijalani setelahnya. Kenangan itu juga mengandung penghargaan terhadap Unas sebagai tempat ia menempuh pendidikan, sekaligus pengingat bahwa sebuah perjalanan dapat dikenang dari hal-hal kecil yang menyertainya sejak awal. Melalui cerita singkat mengenai barang bawaannya, ia menghadirkan kembali masa ketika dirinya mulai menjadi mahasiswa, lalu menghubungkannya dengan pencapaian yang ia sebutkan sebagai alumni. Pengalaman itu tetap disampaikan sebagai kisah pribadi, bukan sebagai rincian lain mengenai kehidupan atau kariernya.

Gus Falah menilai alumni Universitas Nasional (Unas) memiliki peluang untuk melangkah lebih jauh dan mengambil peran penting di tingkat nasional. Menurutnya, perkembangan kampus, termasuk ketersediaan fasilitas yang semakin modern, menjadi salah satu modal untuk mendukung pendidikan berkualitas. Lingkungan belajar yang ditunjang sarana memadai dapat membantu mahasiswa memperluas wawasan, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan di berbagai bidang. Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap jajaran guru besar Unas, yang dinilai memiliki kapasitas untuk membimbing sekaligus memperkaya kehidupan akademik kampus.

Keberadaan fasilitas dan tenaga akademik yang mumpuni, dalam pandangan Gus Falah, sepatutnya menjadi bekal bagi mahasiswa dan lulusan untuk meraih cita-cita yang lebih besar. Alumni Unas tidak semestinya membatasi kontribusi pada lingkungan profesional masing-masing, tetapi juga dapat berkiprah dalam ruang publik dan kepemimpinan bangsa. Dari pemikiran tersebut, ia menyampaikan harapan agar Unas kelak mampu melahirkan seorang presiden Republik Indonesia. Harapan itu menempatkan kampus bukan semata sebagai tempat memperoleh gelar, melainkan juga sebagai ruang untuk menyiapkan calon pemimpin yang memiliki pengetahuan, kapasitas, serta kepedulian terhadap masyarakat.

Namun, Gus Falah menekankan bahwa pendidikan tidak cukup hanya mengasah kecerdasan intelektual. Proses pembelajaran di Unas juga perlu membentuk karakter, moral, dan integritas akhlak. Nilai-nilai tersebut penting agar kemampuan akademik dan profesional digunakan secara bertanggung jawab, terutama ketika seseorang memegang amanah publik. Pemimpin yang berpengetahuan luas, tetapi tidak berpegang pada moral dan integritas, akan sulit memperoleh kepercayaan masyarakat. Karena itu, cita-cita melahirkan presiden dari Unas berkaitan pula dengan pembinaan pribadi yang beretika dan berorientasi pada kepentingan bersama. Perpaduan fasilitas modern, bimbingan para guru besar, kecakapan intelektual, dan pembentukan karakter menjadi landasan yang diharapkan dapat mengantarkan alumni Unas berkontribusi lebih luas bagi bangsa.Pesan Gus Falah kepada para wisudawan dan wisudawati menegaskan bahwa kelulusan bukanlah garis akhir perjalanan, melainkan awal untuk menguji bekal ilmu dan kemampuan di tengah kehidupan yang terus berubah. Ia berharap para lulusan mampu “melenting” ketika menghadapi kesulitan: bangkit, menyesuaikan diri, dan kembali melangkah tanpa kehilangan arah. Tantangan setelah kampus dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari persaingan kerja hingga tuntutan untuk terus belajar. Karena itu, daya lenting menjadi bekal penting agar para lulusan tidak mudah menyerah ketika jalan yang ditempuh berbeda dari rencana.

Harapan tersebut juga mengandung ajakan agar pendidikan yang telah ditempuh memberi manfaat lebih luas. Para wisudawan dan wisudawati diharapkan menggunakan pengetahuan, keterampilan, serta pengalaman mereka secara bertanggung jawab, baik dalam pekerjaan maupun saat berkontribusi di lingkungan masing-masing. Keberhasilan pribadi tetap penting, tetapi dapat memiliki arti lebih besar apabila turut menjawab kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, capaian akademik tidak berhenti pada ijazah atau kebanggaan keluarga, melainkan berkembang menjadi karya dan pengabdian yang berdampak bagi nusa dan bangsa.

Gus Falah berharap para lulusan Unas kelak menjadi pribadi yang mampu bertahan sekaligus memberi sumbangsih nyata bagi Indonesia. Pesan ini menempatkan ketangguhan dan kemanfaatan sebagai dua hal yang saling melengkapi: kemampuan untuk bangkit membantu seseorang terus maju, sementara kepedulian terhadap bangsa memberi arah pada langkahnya. Dalam acara tersebut hadir Rektor Unas El Amry Bermawi Putera, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), serta Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor.

Baca juga: Berikan Materi Leadership Organization Dalam LDKS, Danramil Paiton Berharap Siswa Menjadi Agen Pelopor Perubahan | Presiden IAWP Tegaskan Kepedulian Polwan Dunia pada Kelestarian Alam Bali | Panglima TNI Ziarah ke Makam Presiden RI Ke-2 dan Panglima Besar Jenderal Soedirman

banner 325x300