Pada perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Jombang, pada tanggal 23-25 September 2021, KH Abdul Hakim Mahfudz, lebih dikenal dengan panggilan Gus Kikin, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmah 2026-2031. Muktamar ini dihadiri oleh ribuan peserta, termasuk sejumlah tokoh NU, kiai, serta para jamaah yang datang dari berbagai daerah. Suasana keagamaan yang kental, dikombinasikan dengan semangat persatuan dan kebangkitan NU, menyelimuti seluruh rangkaian pertemuan tersebut.
Pemilihan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU tidak lepas dari perjalanan panjang dan dedikasi yang telah ia tunjukkan dalam organisasi, terutama dalam konteks yang kian kompleks di era modern. Keputusan ini mencerminkan keinginan banyak pengurus dan anggota NU untuk menghadirkan sosok muda yang energik dan visioner dalam memimpin organisasi besarmu ini. Gus Kikin, yang sebelumnya dikenal sebagai tokoh nahdliyin yang konsisten dalam membangun dialog tradisi dan modernitas, dianggap mampu meneruskan perjuangan NU dalam menghadapi tantangan masa depan.
Dalam pidato pertamanya setelah terpilih, Gus Kikin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung pencalonannya. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dan musyawarah dalam menjalankan amanah ini. Banyak harapan yang diungkapkan oleh para pengurus dan santri, yang menantikan kepemimpinan Gus Kikin untuk mendorong NU menuju arah yang lebih progresif dan inklusif. Dengan pengalaman dan pemahaman mendalam tentang kondisi dunia saat ini, banyak yang yakin bahwa kepemimpinan Gus Kikin mampu mengarahkan PBNU dalam menghadapi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, serta mengokohkan eksistensi NU di tengah-tengah perkembangan zaman.
Gus Kikin lahir dalam sebuah keluarga yang memiliki akar kuat di dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi islam yang didirikan pada tahun 1926. Keluarganya adalah keturunan langsung dari pendiri NU yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan pendidikan agama di Indonesia. Latar belakang keluarga ini tidak hanya memberikan Gus Kikin fondasi yang solid dalam ajaran Islam tetapi juga mengajarinya nilai-nilai kebangsaan dan toleransi yang sangat diperlukan di era modern ini.
Pendidikan Gus Kikin dimulai di lingkungan keluarga yang sangat mendukung. Sejak usia dini, dia sudah diperkenalkan dengan ilmu agama melalui bimbingan langsung dari para ulama di pesantren-pesantren terkemuka. Lingkungan yang kaya akan tradisi pesantren ini membentuk karakternya, memberikan kesempatan untuk memahami ajaran Islam lebih mendalam. Dalam masa-masa ini, Gus Kikin menunjukkan ketertarikan yang besar dalam mempelajari kitab-kitab klasik yang menjadi rujukan para santri.
Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren, Gus Kikin melanjutkan studinya ke sekolah formal. Keterlibatannya dalam kedua sistem pendidikan ini—tradisional dan modern—memberikan keuntungan kompetitif. Di sekolah formal, ia tidak hanya belajar mata pelajaran umum, tetapi juga meneruskan kecintaannya pada sastra dan sejarah Islam. Hubungan Gus Kikin dengan para ulama, baik di keluarga maupun di luar, sangat strategis; ini membantunya dalam menggapai wawasan yang luas dan mendalam mengenai pemikiran Islam di tanah air.
Pendidikan yang dijalani Gus Kikin secara keseluruhan, baik di pesantren maupun di sekolah formal, telah membekalinya dengan pengetahuan dan wawasan yang diperlukan untuk mengambil peran penting dalam kepemimpinan NU di masa depan. Dengan latar belakang yang unik dan luar biasa ini, Gus Kikin tidak hanya diharapkan menjadi penerus tradisi, tetapi juga pelopor perubahan yang positif dalam masyarakat.
Gus Kikin, yang merupakan sosok yang tak asing dalam lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), memiliki latar belakang karir yang cukup unik dan menarik. Memulai perjalanan dari dunia pelayaran, ia menjelajahi samudera dan mengeksplorasi berbagai kebudayaan yang ada. Melalui pengalaman ini, Gus Kikin bukan hanya mengasah kemampuannya dalam beradaptasi, tetapi juga mengembangkan rasa kepemimpinan yang tangguh, yang kelak akan sangat berharga dalam kepemimpinannya di PBNU.
Selama bertahun-tahun aktif dalam industri pelayaran, Gus Kikin belajar banyak mengenai dinamika kerja tim, pengambilan keputusan, dan pentingnya komunikasi yang efektif. Hal ini menempatkannya pada posisi yang strategis, di mana ia dapat memimpin berbagai proyek dan membangun jaringan profesional yang luas. Keterampilan-keterampilan ini tidak hanya bermanfaat di dunia usaha, tetapi juga memberikan fondasi yang kuat untuk kembali ke dunia keagamaan.
Setelah mengenal seluk beluk dunia pelayaran, Gus Kikin memutuskan untuk kembali ke akar keluarganya, yaitu di lingkungan pesantren. Peralihan ini bukanlah hal yang mudah; namun, Gus Kikin menyadari bahwa pengalaman yang didapatkan di dunia usaha sangat penting untuk diterapkan dalam kepemimpinan NU. Ia secara aktif terlibat dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial, membawa perspektif baru yang segar dan inovatif berdasarkan pengalamannya di luar pesantren.
Kombinasi pengalaman di dunia pelayaran dan pengabdian di lingkungan pesantren ini mengukuhkan posisi Gus Kikin sebagai salah satu pemimpin muda yang mampu memadukan nilai-nilai tradisi dengan inovasi. Dengan semangat dan wawasan yang luas, Gus Kikin telah membuktikan bahwa kerja keras dan dedikasi yang tinggi dapat membawa perubahan nyata dalam lingkungan keagamaan sekaligus menciptakan sinergi dunia usaha dan dunia spiritual.
Setelah terpilih sebagai ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Gus Kikin memaparkan visi dan misinya yang bertujuan untuk memajukan organisasi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Nahdliyin. Ia percaya bahwa PBNU harus dapat menjadi motor penggerak yang mampu menjawab tantangan zaman serta mengakomodasi aspirasi jemaahnya. Satu dari visi utama Gus Kikin adalah modernisasi pendidikan agama, yang diharapkan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat melalui berbagai metode pendidikan yang lebih inovatif dan inklusif.
Dalam hal ini, Gus Kikin menekankan pentingnya integrasi nilai-nilai tradisional dengan kebutuhan zaman modern. Ia berharap agar Nahdliyin dapat memahami dan mengimplementasikan prinsip-prinsip keagamaan yang relevan dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, pemahaman yang mendalam tentang agama serta keahlian yang memadai akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kalangan masyarakat Nahdlatul Ulama.
Selanjutnya, Gus Kikin juga menggagas berbagai program sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi Nahdliyin. Program-program seperti pengembangan usaha mikro, pelatihan keterampilan, dan koperasi yang berbasis komunitas menjadi salah satu prioritasnya. Dia meyakini, dengan peningkatan taraf hidup ekonomi, masyarakat Nahdliyin akan lebih mandiri dan mampu berkontribusi lebih besar terhadap pembangunan bangsa.
Selain itu, Gus Kikin ingin memastikan adanya kesinambungan generasi tua dan muda di Nahdlatul Ulama. Ia berupaya menciptakan dialog yang konstruktif para senior dan generasi muda, sehingga program-program yang diusung tidak hanya sesuai dengan harapan masa kini tetapi juga dapat mewakili aspirasi masa depan. Konsep inklusivitas ini diharapkan dapat memperkuat solidaritas di anggota Nahdlatul Ulama.
Dengan visi yang jelas dan program yang terarah, Gus Kikin optimis bahwa PBNU di bawah kepemimpinannya dapat menjadi lebih progresif dan bersinergi dengan dinamika sosial yang ada. Harapannya adalah bahwa masyarakat Nahdliyin akan tetap menjadi pelopor dalam keberagaman dan toleransi beragama di Indonesia, sejalan dengan semangat Nahdlatul Ulama yang telah ada sejak dahulu kala.













