banner 728x250

Jejak Karier Iwan Setiawan dari Ekspedisi Everest hingga Pangkostrad

Jejak Karier Iwan Setiawan dari Ekspedisi Everest hingga Pangkostrad
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta, Rabu—Letjen TNI Iwan Setiawan akan mendapat penugasan baru sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Penunjukan tersebut dikonfirmasi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak saat ditemui di Istana Negara, Jakarta. Pernyataan itu memastikan bahwa Iwan akan memimpin salah satu komando utama dalam struktur Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).

Pangkostrad merupakan jabatan strategis dengan tanggung jawab besar dalam pembinaan dan kesiapan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Satuan ini memiliki peran penting dalam menjaga kesiapan operasional serta mendukung pelaksanaan tugas pertahanan negara. Dalam hierarki TNI AD, Pangkostrad termasuk salah satu posisi tertinggi setelah KSAD. Karena itu, penunjukan seorang perwira untuk menduduki jabatan tersebut kerap menjadi perhatian, baik di lingkungan militer maupun publik.

banner 325x300

Jabatan Pangkostrad juga memiliki catatan penting dalam perjalanan karier sejumlah tokoh militer nasional. Salah satunya adalah Prabowo Subianto, yang pernah dipercaya memimpin Kostrad ketika masih berdinas di TNI AD. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa posisi ini biasanya diberikan kepada perwira dengan rekam jejak kepemimpinan, pengalaman komando, serta pemahaman yang kuat mengenai strategi pertahanan.

Bagi Iwan Setiawan, penugasan ini menambah rangkaian perjalanan kariernya di lingkungan TNI. Namanya sebelumnya dikenal melalui berbagai penugasan, termasuk keterlibatan dalam ekspedisi menuju Everest. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari rekam pengabdiannya sebelum menerima amanah untuk memimpin Kostrad. Konfirmasi dari KSAD menjadi dasar utama kabar penunjukan ini, sementara rincian mengenai waktu pelantikan dan serah terima jabatan dapat menunggu keputusan resmi berikutnya. Dengan jabatan baru itu, Iwan diharapkan mampu menjalankan tanggung jawab strategis sekaligus menjaga kesiapan satuan di bawah komandonya.

Iwan Setiawan memulai pengabdiannya sebagai perwira TNI setelah menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer pada 1992. Ia merupakan bagian dari satu angkatan dengan Maruli Simanjuntak, yang kelak juga menempati posisi penting dalam perjalanan karier militer Indonesia. Latar belakang pendidikan tersebut menjadi dasar bagi Iwan untuk menapaki berbagai penugasan di lingkungan TNI Angkatan Darat.

Setelah lulus dari Akademi Militer, Iwan mengawali karier di kecabangan infanteri. Dalam perjalanan awalnya sebagai prajurit, ia kemudian bergabung dengan Korps Komando Pasukan Khusus atau Kopassus. Bergabungnya Iwan dengan satuan tersebut menjadi bagian penting dari pembentukan pengalaman dan rekam jejaknya sebagai perwira. Kopassus dikenal memiliki tuntutan tinggi terhadap kemampuan fisik, mental, disiplin, serta kesiapan anggotanya dalam menjalankan tugas.

Lima tahun setelah menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer, Iwan Setiawan terpilih menjadi bagian dari tim ekspedisi Gunung Everest. Ekspedisi tersebut berada di bawah pengarahan dan komando langsung Prabowo Subianto, yang pada saat itu menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus. Keterlibatan itu menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan pengabdiannya.

Dalam ekspedisi tersebut, Iwan tercatat sebagai salah satu prajurit TNI pertama yang berhasil mencapai puncak Gunung Everest. Keberhasilan mencapai titik tertinggi itu menunjukkan ketangguhan dan kesiapan yang dituntut dalam penugasan tersebut. Pencapaian ini kemudian menjadi bagian menonjol dari jejak kariernya, jauh sebelum ia menjalankan tanggung jawab pada posisi-posisi strategis di lingkungan TNI Angkatan Darat.

Selain dikenal melalui pencapaiannya dalam ekspedisi Everest, Iwan juga dikenal dengan yel-yel “pam pam pam”. Sebutan tersebut melekat pada sosoknya dalam perjalanan pengabdian sebagai prajurit. Dengan demikian, fase awal karier Iwan tidak hanya ditandai oleh latar belakangnya sebagai lulusan Akademi Militer 1992 dan kiprahnya di infanteri serta Kopassus, tetapi juga oleh keberhasilannya mencapai puncak Gunung Everest bersama tim ekspedisi yang dipimpin di bawah komando Prabowo Subianto.

Keberhasilan Iwan Setiawan dalam ekspedisi Everest menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan profesionalnya. Pencapaian tersebut tidak hanya menunjukkan ketahanan fisik dan mental, tetapi juga memperkuat rekam jejaknya sebagai perwira pasukan khusus. Setelah ekspedisi itu, karier Iwan di lingkungan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) berkembang melalui serangkaian penugasan yang menuntut kemampuan kepemimpinan, pengambilan keputusan, serta penguasaan taktik operasi.

Pada tahap awal, Iwan dipercaya memegang sejumlah tanggung jawab sebagai komandan unit dan komandan tim. Kedua penugasan tersebut memberinya pengalaman langsung dalam mengarahkan personel, menjaga kesiapan satuan, dan melaksanakan tugas di lapangan. Pengalaman itu kemudian berlanjut ketika ia ditunjuk sebagai Komandan Kompi Batalyon 13 Grup 1 Kopassus. Posisi tersebut memperluas tanggung jawabnya karena mencakup pembinaan prajurit sekaligus pengelolaan operasi di tingkat kompi.

Perkembangan berikutnya terlihat pada 2008, saat Iwan menjabat sebagai Komandan Batalyon 22 Grup 2 Kopassus. Penugasan sebagai komandan batalyon menempatkannya pada lingkup kepemimpinan yang lebih besar. Ia tidak hanya dituntut memahami kebutuhan operasional, tetapi juga memastikan kesiapan organisasi, personel, dan perlengkapan dalam mendukung pelaksanaan tugas.

Kariernya kemudian berlanjut di bidang pendidikan dan pembinaan pasukan. Pada 2014 hingga 2015, Iwan mengemban tugas sebagai Komandan Pusat Pendidikan Pasukan Khusus. Dalam jabatan ini, perhatian utamanya berkaitan dengan proses pembentukan kemampuan prajurit, pengembangan profesionalisme, serta pemeliharaan standar latihan pasukan khusus.

Setelah melewati sejumlah jabatan strategis, Iwan mencapai salah satu posisi tertinggi di lingkungan Kopassus. Ia mengikuti jejak Prabowo dengan dipercaya menjadi Komandan Jenderal Kopassus pada 2022 hingga 2023. Rangkaian penugasan tersebut memperlihatkan perkembangan karier yang berlangsung bertahap, dari memimpin unsur kecil hingga mengarahkan organisasi pasukan khusus secara keseluruhan.

Di luar lingkup Kopassus, Iwan Setiawan melanjutkan pengabdiannya melalui sejumlah penugasan teritorial di berbagai wilayah Indonesia. Pada 2012, perwira kelahiran Bandung, Jawa Barat, pada 1968 tersebut dipercaya menjabat Komandan Brigif 22/Ota Manasa. Penugasan itu menjadi bagian dari perjalanan kariernya dalam memimpin satuan infanteri dan menjalankan tanggung jawab kewilayahan.

Tiga tahun kemudian, pada 2015, Iwan ditunjuk sebagai Danrindam Jaya. Jabatan tersebut memperkuat pengalamannya dalam bidang pendidikan dan pembinaan personel TNI Angkatan Darat. Pada 2016, ia kembali mendapat amanah sebagai Danrem 052/Wijayakrama. Setelah itu, Iwan menjalankan penugasan sebagai Danrem 173/Praja Vira Braja di Biak, Papua, pada periode 2020 hingga 2021.

Kariernya terus berkembang setelah ia dipercaya menjadi Pangdam XII/Tanjungpura pada 2023. Dalam jabatan tersebut, Iwan memimpin komando kewilayahan yang mencakup wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Pengalaman memimpin satuan serta komando teritorial di berbagai daerah kemudian menjadi bagian dari rekam jejak yang mengantarkannya pada penugasan berikutnya di tingkat pusat.

Dengan menyandang pangkat Letjen TNI, Iwan kemudian dipercaya sebagai Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri atau Danpussenif. Penugasan sebagai Pangkostrad selanjutnya melanjutkan perjalanan kariernya sebagai perwira tinggi bintang tiga. Dalam jabatan itu, ia menggantikan Letjen TNI Mohammad Fadjar, yang dikabarkan menjadi staf khusus KSAD. KSAD menyampaikan bahwa rotasi jabatan merupakan hal yang biasa dalam organisasi TNI Angkatan Darat.

banner 325x300