banner 728x250

Jejak Pengungkapan Laboratorium Sabu Skala Besar di Pidie

Jejak Pengungkapan Laboratorium Sabu Skala Besar di Pidie
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Pidie | Operasi gabungan Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Bea Cukai mengungkap sebuah laboratorium narkotika rahasia di Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Aceh. Penggerebekan berlangsung pada Jumat, 23 Oktober, dengan sasaran dua rumah toko (ruko) yang diduga digunakan untuk mengolah sabu. Pengungkapan tersebut menjadi perhatian karena lokasi itu disebut sebagai laboratorium sabu terbesar yang pernah dibongkar di Indonesia. Aparat mendatangi dan memeriksa kedua bangunan sebagai bagian dari penelusuran kasus narkoba dengan barang bukti yang dilaporkan mencapai 1,2 ton.

Dalam penggeledahan, petugas menemukan 20 drum berisi sabu cair dan sekitar 500 gram sabu dalam bentuk kristal. Selain itu, total barang bukti dalam perkara tersebut dicatat mencapai 1,2 ton secara bruto. Angka bruto merujuk pada keseluruhan bobot barang bukti sebagaimana dilaporkan, sehingga tidak dengan sendirinya menjelaskan berat bersih kandungan narkotika. Temuan berupa bahan cair dalam jumlah besar menguatkan dugaan bahwa ruko-ruko tersebut dipakai untuk kegiatan pengolahan, meskipun rincian proses dan peran setiap orang masih menjadi bagian dari penanganan perkara.

banner 325x300

Sejumlah orang juga diamankan dalam pengungkapan ini. Sumber pemberitaan mencatat para tersangka dengan inisial LJ, F, MY, AK, dan AY. Identitas lengkap, dugaan peran, serta status hukum masing-masing belum dapat disimpulkan hanya dari inisial tersebut; keterangan resmi aparat menjadi rujukan untuk perkembangan lebih lanjut. Keterlibatan Polri, BNN, dan Bea Cukai menunjukkan bahwa penanganan dilakukan secara lintas lembaga, mulai dari penggerebekan hingga pemeriksaan barang bukti dan pihak-pihak yang diamankan. Penyebutan kasus narkoba sebanyak 1,2 ton dan skala laboratorium dalam laporan menggambarkan besarnya temuan, tetapi proses penyidikan tetap diperlukan untuk memastikan asal bahan, jalur distribusi, dan hubungan tersangka dengan fasilitas itu. Pengungkapan di Pidie dengan demikian tidak hanya menyoroti jumlah barang bukti, tetapi juga pentingnya koordinasi aparat dalam membongkar fasilitas tersembunyi serta mengembangkan perkara berdasarkan hasil pemeriksaan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menyampaikan bahwa dua warga negara China berinisial LJ, 45 tahun, dan XM, 42 tahun, turut diamankan dalam pengungkapan laboratorium sabu skala besar di Pidie. Keterangan mengenai keduanya disampaikan dalam konferensi pers di Pidie pada Jumat, 23 Oktober. Dalam pemaparan tersebut, Kapolri menyebut mereka didatangkan secara khusus dan disebut sebagai ahli kimia atau peracik utama sabu. Informasi ini menjadi salah satu bagian dari keterangan resmi mengenai orang-orang yang diamankan dalam perkara tersebut.

Pernyataan Kapolri menggambarkan dugaan peran LJ dan XM berdasarkan keterangan yang disampaikan kepada publik. Istilah “ahli kimia” atau “peracik utama” merujuk pada penyebutan dalam konferensi pers, bukan uraian terperinci mengenai tindakan masing-masing orang. Karena itu, keterangan tersebut perlu dipahami sesuai batas informasi yang tersedia: kedua warga negara China itu diamankan dan disebut didatangkan khusus untuk menjalankan fungsi tersebut. Tidak ada rincian tambahan dalam keterangan yang dirangkum di sini mengenai tugas, aktivitas, ataupun kontribusi spesifik mereka.

Penyebutan nama samaran, usia, dan dugaan fungsi keduanya memberi gambaran tentang aspek yang disoroti dalam penjelasan Kapolri. Namun, keterangan singkat itu tidak dengan sendirinya menjelaskan keseluruhan proses pengungkapan maupun hubungan mereka dengan setiap orang lain yang diamankan. Peran tersangka lain tidak dijabarkan dalam informasi ini, sehingga tidak tepat untuk menambahkan dugaan mengenai keterlibatan atau pembagian tugas di mereka. Dengan menjaga atribusi secara jelas, pemberitaan dapat membedakan apa yang dinyatakan Kapolri dari kesimpulan yang belum diterangkan. Keterangan mengenai LJ dan XM dengan demikian tetap berada pada konteks konferensi pers, yakni sebagai dua orang yang diamankan dan disebut sebagai ahli kimia atau peracik utama sabu dalam kasus laboratorium di Pidie.

Menurut kronologi yang disampaikan sumber, aparat mulai mendeteksi pergerakan jaringan narkotika yang diduga berasal dari China sejak Februari 2026. Pemantauan tersebut disebut menjadi bagian dari penelusuran awal terhadap aktivitas jaringan lintas negara, sebelum penyidik memperoleh petunjuk lebih terperinci mengenai perjalanan sejumlah orang yang diduga terkait. Informasi ini menggambarkan proses pengamatan yang berlangsung bertahap, bukan bukti bahwa setiap orang yang disebut telah terbukti melakukan tindak pidana. Pada Juni 2026, dua orang berinisial LJ dan XM dilaporkan berada di Aceh selama sekitar 10 hari. Keduanya diduga memetakan wilayah sebelum kembali ke Malaysia. Perjalanan itu, menurut sumber, kemudian menjadi salah satu bagian yang ditelusuri aparat dalam menghubungkan pergerakan para terduga dengan dugaan kegiatan produksi narkotika di Pidie.

Perkembangan berikutnya disebut terjadi pada 15 Oktober 2026. Pada tanggal tersebut, LJ dan XM terdeteksi melakukan penerbangan dari Kunming menuju Kuala Lumpur. Sumber menyebut tujuan perjalanan itu adalah menemui seorang warga negara Indonesia berinisial B, yang berstatus tersangka. Rincian tersebut menjadi bagian dari rangkaian pemantauan yang mengaitkan pergerakan lintas negara dengan dugaan persiapan kegiatan di Aceh. Namun, hubungan pertemuan itu dan aktivitas laboratorium tetap merupakan dugaan yang perlu diuji melalui proses penyidikan serta pembuktian. Aparat, sebagaimana dikutip dalam kronologi, kemudian mengembangkan informasi mengenai komunikasi LJ dengan dua atasannya di China, masing-masing berinisial LX dan NX. Komunikasi tersebut disebut terendus pada 18 Oktober, ketika aktivitas produksi mulai terdeteksi.

Dalam komunikasi yang dilaporkan sumber, LJ menyampaikan bahwa produksi sabu telah dimulai. LX dan NX disebut meminta agar proses produksi dipercepat dan barang segera dikirim. Percakapan itu menjadi petunjuk yang dikaitkan dengan dugaan beroperasinya laboratorium skala besar, tetapi isi komunikasi dan tafsir atas peran tiap orang tetap harus dinilai berdasarkan bukti yang sah. Berdasarkan rangkaian perjalanan dan komunikasi tersebut, laboratorium di Pidie diduga memiliki afiliasi dengan jaringan internasional yang melibatkan sindikat dari China, Malaysia, dan Indonesia. Penyebutan tiga negara itu menunjukkan arah dugaan penyidikan mengenai kemungkinan pembagian peran lintas batas, bukan kesimpulan hukum yang telah dipastikan. Sampai seluruh perkara diperiksa, kronologi tersebut sebaiknya dipahami sebagai informasi yang dinisbatkan kepada sumber dan masih memerlukan verifikasi serta pembuktian di pengadilan.Pengungkapan laboratorium sabu skala besar di Pidie diikuti pengembangan penyidikan ke sejumlah lokasi lain. Penggerebekan dilakukan secara serentak di sebuah rumah toko (ruko) di Pidie dan beberapa titik di Bireuen, Aceh Utara, serta Lhokseumawe. Langkah serentak tersebut menjadi bagian dari penanganan perkara yang melibatkan dugaan produksi dan jaringan peredaran narkotika. Aparat masih menelusuri keterkaitan lokasi-lokasi itu dengan para pihak yang dicari, tanpa menyatakan bahwa seluruh hubungan dalam jaringan telah terungkap.

Kapolri menyampaikan bahwa pengejaran terhadap lima orang yang masuk daftar pencarian orang (DPO) masih berlangsung. Mereka masing-masing berinisial Z, ES, J, BR, dan SS. Penyebutan status DPO menunjukkan bahwa aparat masih berupaya menemukan dan memeriksa para pihak tersebut dalam rangka penyidikan. Hingga informasi yang disampaikan, belum ada keterangan mengenai keberhasilan penangkapan mereka ataupun hasil pemeriksaan terhadap masing-masing orang.

Selain memburu kelima DPO, aparat berkoordinasi dengan NC City di China untuk mencari pengendali utama berinisial LS. Koordinasi lintas negara itu disebut sebagai bagian dari upaya menelusuri pihak yang diduga mengendalikan jaringan. Pencarian terhadap LS masih berlangsung, sehingga peran dan keterlibatannya tetap perlu dipastikan melalui proses penyidikan. Keterangan tersebut belum menyatakan bahwa LS telah ditemukan atau bahwa komunikasi dengan pihak di China telah menghasilkan perkembangan tertentu.

Penyidik juga merencanakan pemeriksaan terhadap enam unit ponsel.

Baca juga: Pengungkapan Jaringan Narkoba Etomidate di Jakarta Barat | Operasi Tangkap Tangan KPK: Pengungkapan Suap Hak Guna Bangunan di Bogor

banner 325x300