banner 728x250

Kisah Pak Da: Pendapatan Hilang Setelah Area Parkir Didatangi Kelompok Diduga Mengatasnamakan Ormas

Kisah Pak Da: Pendapatan Hilang Setelah Area Parkir Didatangi Kelompok Diduga Mengatasnamakan Ormas
banner 120x600
banner 468x60

Probolinggo – Seorang petugas kebersihan yang selama bertahun-tahun mengabdi di sebuah musholla dan area Stadion Gelora Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, mengaku kehilangan mata pencaharian usai lahan parkir yang biasa ia kelola didatangi sekelompok orang yang disebut warga mengatasnamakan sebuah organisasi masyarakat (ormas). Peristiwa itu memunculkan sorotan warga sekaligus keprihatinan dari kelompok pemerhati sosial.

Petugas tersebut, dikenal dengan panggilan Pak Da, selama ini menjalankan sejumlah pekerjaan penting yang mendukung kenyamanan fasilitas publik. Ia membersihkan musholla, mencuci sarung serta mukena, merawat perlengkapan ibadah, hingga menjaga kebersihan toilet stadion. Selain itu, sejak pagi buta ia juga mengelola parkir bagi warga yang datang berolahraga.

banner 325x300

Rutinitasnya dimulai sejak pukul 06.00 hingga 10.00 WIB, dan kembali bekerja pada pukul 14.00 hingga 17.00 WIB. Dari pengelolaan parkir itu, ia mendapatkan penghasilan sekitar Rp100.000 hingga Rp150.000 per hari, yang menjadi sumber nafkah utama untuk menghidupi keluarganya.

Namun, dalam beberapa hari terakhir, situasi mendadak berubah. Area parkir yang selama ini ia kelola disebut-sebut diambil alih oleh sekelompok orang yang oleh warga diidentifikasi membawa nama “Laskar GH”. Seorang pria berinisial RD juga turut disebut dalam kejadian tersebut. Kendati demikian, hingga laporan ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari pihak yang bersangkutan. Tim media masih berupaya meminta keterangan dan klarifikasi dari pihak-pihak terkait.

Sejumlah warga sekitar mengaku heran dan menyayangkan pengambilalihan tersebut, sebab dilakukan tanpa koordinasi dengan pengelola lama maupun dengan pihak pengurus stadion. Mereka menilai tindakan itu dapat memicu keresahan karena bersinggungan langsung dengan sumber pendapatan masyarakat kecil.

“Pak Da ini sudah lama mengurus musholla dan area stadion. Orangnya tekun, pekerjaannya jelas. Kalau tiba-tiba diambil alih tanpa musyawarah, tentu menimbulkan masalah,” ujar salah seorang warga yang enggan disebut namanya.

Seruan Aliansi L3GAM: Pemerintah Harus Hadir

Menanggapi kejadian itu, Aliansi L3GAM ikut bersuara. Perwakilan aliansi, Didit Laksana, mendesak pemerintah daerah untuk turun tangan agar pekerja informal seperti Pak Da mendapat perlindungan hukum dan sosial.

“Rakyat kecil yang bekerja dari pagi hingga sore, membersihkan musholla dan stadion dengan pendapatan terbatas, tidak boleh dirugikan oleh pihak mana pun,” tegas Didit.

Ia menyoroti munculnya pihak-pihak yang mengatasnamakan organisasi tertentu untuk mengambil alih lahan pekerjaan tanpa mekanisme yang jelas.

“Verifikasi harus dilakukan. Pemerintah perlu memastikan apakah benar ada ormas yang terlibat atau hanya oknum yang memanfaatkan nama organisasi. Ini penting untuk mencegah intimidasi dan penyalahgunaan identitas,” ujarnya.

Didit menambahkan bahwa penertiban dan klarifikasi dari pihak berwenang sangat mendesak untuk menghindari konflik horizontal dan menjaga kenyamanan masyarakat.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi dari pengelola Stadion Gelora Kraksaan maupun pihak pemerintah daerah terkait sengketa pengelolaan parkir tersebut. Warga berharap persoalan ini segera dituntaskan agar tidak semakin merugikan pekerja kecil seperti Pak Da yang mengandalkan pendapatan harian untuk kebutuhan hidupnya.

(Bambang/)*

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *