banner 728x250

Noken Jadi Simbol Tuntutan Mahasiswa Papua soal Layanan Kesehatan

Noken Jadi Simbol Tuntutan Mahasiswa Papua soal Layanan Kesehatan
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Pada Kamis, 29 Oktober 2026, seorang mahasiswa asal Papua dari Universitas Trisakti ikut menyampaikan tuntutan dalam aksi unjuk rasa di Jakarta. Di hadapan Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara, Binbin Firman Tresnadi, ia mengangkat sebuah noken saat berbicara mengenai kebutuhan masyarakat Papua terhadap layanan kesehatan yang layak. Aksi tersebut menempatkan pengalaman dan aspirasi warga sebagai pokok pembicaraan, sekaligus menghadirkan benda tradisional yang membawa makna budaya. Noken yang tampak dalam demonstrasi itu bukan sekadar pelengkap visual; kehadirannya menjadi bagian dari pesan yang disampaikan mahasiswa kepada pejabat pemerintah.

Noken adalah tas tradisional khas Papua, umumnya dibuat dengan keterampilan merajut atau menganyam serat dan digunakan untuk membawa berbagai barang. Dalam kehidupan sehari-hari, tas ini memiliki fungsi praktis, tetapi nilai noken tidak berhenti pada kegunaannya. Noken lekat dengan pengetahuan, kebiasaan, serta identitas masyarakat Papua dan diwariskan lintas generasi. Karena itu, benda tersebut dapat menyampaikan makna yang lebih luas ketika dibawa ke ruang publik. Dalam aksi di Jakarta, mahasiswa itu memaknainya bukan hanya sebagai wadah untuk mengangkut barang, melainkan sebagai simbol kehidupan. Pesan tersebut menghubungkan tuntutan akan pelayanan kesehatan dengan nilai kemanusiaan dan keberlangsungan hidup masyarakat.

banner 325x300

Penggunaan noken memberi penekanan pada tuntutan agar persoalan kesehatan di Papua mendapat perhatian nyata. Simbol itu mengingatkan bahwa layanan kesehatan menyangkut kebutuhan dasar: akses terhadap tenaga medis, fasilitas yang memadai, obat-obatan, serta penanganan yang dapat dijangkau masyarakat. Dengan mengangkat noken ketika menyampaikan aspirasi kepada Binbin Firman Tresnadi, mahasiswa tersebut membawa identitas dan pesan dari Papua ke hadapan pemerintah di ibu kota. Aksi itu menunjukkan bagaimana simbol budaya dapat memperkuat penyampaian tuntutan tanpa menggantikan substansi persoalan. Di balik sebuah tas tradisional, terdapat seruan mengenai hak hidup dan pentingnya pelayanan yang merata, sehingga suara mahasiswa dan masyarakat yang mereka wakili dapat didengar serta ditindaklanjuti.

Mahasiswa Papua menjelaskan bahwa noken bukan sekadar tas tradisional, melainkan benda yang lekat dengan peran ibu dan perjalanan hidup masyarakat. Noken dibuat oleh ibu-ibu di Papua melalui keterampilan yang diwariskan antargenerasi. Proses pembuatannya membutuhkan ketekunan, sementara bahan dan cara merajutnya mencerminkan pengetahuan yang tumbuh dari lingkungan setempat. Karena itu, noken memiliki nilai praktis sekaligus makna sosial dan budaya bagi masyarakat Papua.

Dalam penjelasan mereka kepada Binbin, mahasiswa menekankan bahwa noken digunakan untuk menggendong anak sejak lahir. Benda itu menyertai ibu dalam merawat dan membawa anak, sehingga noken dipandang sebagai bagian dari proses menjaga kehidupan. Inti pernyataan tersebut ialah bahwa noken memelihara kehidupan: dari tangan ibu yang membuatnya, hingga fungsinya mendampingi anak sejak awal kehidupan. Makna ini tidak hanya merujuk pada kegunaan noken sebagai wadah, tetapi juga pada hubungan ibu, anak, dan kesinambungan kehidupan dalam keluarga serta komunitas.

Penjelasan tersebut memberi konteks bagi pilihan mahasiswa untuk menghadirkan noken dalam penyampaian aspirasi mengenai layanan kesehatan. Mereka menggunakan simbol yang dikenal dan dekat dengan pengalaman sehari-hari masyarakat Papua, bukan sekadar menyampaikan tuntutan melalui kata-kata. Keterkaitan noken dengan perawatan anak dan peran ibu membuat pesan tentang kesehatan terasa lebih nyata: layanan kesehatan menyangkut keselamatan, kesejahteraan, dan kehidupan warga, termasuk ibu serta anak.

Dengan membawa noken sebagai lambang, mahasiswa menghubungkan tuntutan mereka dengan nilai yang telah hidup dalam masyarakat. Simbol itu membantu menyampaikan bahwa akses dan mutu layanan kesehatan bukan persoalan yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, melainkan kebutuhan mendasar untuk merawat manusia sejak awal kehidupannya. Pilihan tersebut juga memperlihatkan cara aspirasi publik dapat disampaikan melalui unsur budaya yang bermakna bagi komunitas. Noken menjadi pengingat tentang kerja merawat yang dilakukan ibu-ibu Papua sekaligus sarana untuk mengajak perhatian tertuju pada kebutuhan kesehatan masyarakat. Pesan itu bertumpu pada makna noken sebagai benda yang menjaga dan mengiringi kehidupan, bukan hanya sebagai penanda identitas budaya.Bagi mahasiswa Papua, noken bukan sekadar tas tradisional, melainkan benda yang lekat dengan alam dan kehidupan masyarakat. Bahan pembuatannya berasal dari lingkungan sekitar, sementara kegunaannya mencerminkan hubungan masyarakat dengan hutan, tanah, dan sumber daya alam. Noken dapat dimaknai sebagai wadah untuk membawa hasil kebun maupun kebutuhan sehari-hari. Karena itu, simbol noken dalam penyampaian tuntutan mereka juga mengingatkan bahwa alam merupakan sumber kehidupan yang perlu dijaga, sekaligus menjadi penopang kesejahteraan warga.

Berangkat dari makna tersebut, mahasiswa menghubungkan kelestarian alam dengan hak masyarakat untuk memperoleh layanan kesehatan. Kebakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan asap serta mengganggu aktivitas dan kesehatan orang-orang yang tinggal di wilayah terdampak. Mereka menyoroti keadaan warga di Papua, Kalimantan, dan pulau-pulau lainnya, lalu mempertanyakan apakah pemerintah telah menyiapkan jaminan layanan kesehatan gratis bagi para korban. Pertanyaan itu menyangkut kebutuhan nyata, seperti pemeriksaan, pengobatan, dan akses terhadap fasilitas kesehatan ketika dampak kebakaran dirasakan.

Mahasiswa menyampaikan pertanyaan tersebut secara langsung kepada Binbin. Mereka ingin memperoleh penjelasan yang jelas mengenai bentuk perlindungan kesehatan yang tersedia, siapa yang berhak menerima bantuan, dan bagaimana layanan itu dapat diakses oleh warga terdampak. Bagi mereka, perhatian tidak cukup disampaikan sebagai kepedulian umum; harus ada kepastian bahwa para korban dapat memperoleh perawatan tanpa terbebani biaya. Dengan membawa noken sebagai simbol, mahasiswa menegaskan keterkaitan alam, kehidupan masyarakat, dan tanggung jawab untuk melindungi kesehatan warga. Mereka meminta jaminan bagi korban kebakaran hutan dan lahan, baik di Papua, Kalimantan, maupun daerah kepulauan lainnya, agar tidak ada warga terdampak yang tertinggal dari layanan yang dibutuhkan. Jawaban atas pertanyaan itu diharapkan menjelaskan langkah konkret, termasuk ketersediaan tenaga medis dan fasilitas, sehingga kebutuhan korban dapat ditangani secara layak dan tepat waktu.

Bagi mahasiswa yang menyampaikan tuntutan tersebut, persoalan utama bukan sekadar adanya pernyataan mengenai layanan kesehatan, melainkan kepastian bahwa jaminan itu benar-benar dapat diperoleh. Ia menegaskan bahwa akses terhadap layanan kesehatan yang jelas dan dapat diandalkan merupakan hal yang ingin ia dapatkan. Karena itu, pembicaraan mengenai jaminan perlu memiliki makna nyata bagi mereka yang membutuhkan layanan, bukan berhenti sebagai ungkapan atau janji yang tidak diketahui kelanjutannya. Penegasan ini menempatkan kepastian sebagai inti tuntutan: mahasiswa ingin mengetahui bahwa hak atas layanan kesehatan akan dijamin, serta bahwa pernyataan yang disampaikan dapat dipegang. Dalam konteks tuntutan yang dibawanya, kebutuhan tersebut menjadi alasan penting untuk meminta kejelasan langsung.

Jaminan layanan kesehatan berkaitan dengan rasa aman ketika seseorang membutuhkan pertolongan. Tanpa kepastian, seseorang dapat menghadapi keraguan tentang apakah layanan tersedia dan dapat diakses saat dibutuhkan. Karena itu, mahasiswa tersebut menekankan bahwa yang hendak diperoleh bukan sekadar pengakuan atas persoalan, tetapi jaminan yang memberi kepastian. Sikap ini menunjukkan bahwa aspirasi yang disuarakan berorientasi pada sesuatu yang konkret bagi masyarakat. Pernyataan mengenai layanan kesehatan, menurut penekanan yang ia sampaikan, perlu diikuti kesanggupan untuk memberikan jaminan. Hal tersebut menjadi dasar bagi permintaannya agar pihak yang diajak berbicara memastikan komitmen itu secara langsung. Ia pun menyampaikan tantangan kepada Binbin dalam percakapan tersebut, dengan menempatkan kepastian sebagai pokok yang perlu dijawab.

Di akhir momen itu, mahasiswa tersebut menantang Binbin untuk bersalaman sebagai bentuk kesanggupan memberikan jaminan layanan kesehatan.

Baca juga: Fokus Baru pada Kesehatan: Festival Kesehatan di Jakarta | Kapolri: Mahasiswa UMSU Disiapkan Menjadi Pemimpin Indonesia Emas 2045 | Kapolri Ajak Mahasiswa Jadi Agen Perubahan dan Perekat Persatuan

banner 325x300