Jakarta | Hingga kini, belum ada cara yang dapat memastikan kapan gempa bumi akan terjadi. Ilmu pengetahuan belum mampu memberikan ramalan waktu, lokasi, dan kekuatan gempa secara tepat sebelum peristiwa itu berlangsung. Pemantauan aktivitas seismik dan kondisi geologi dapat membantu para ahli memahami potensi bahaya serta memperkirakan risiko dalam jangka panjang, tetapi hasilnya bukan jadwal pasti terjadinya gempa. Karena itu, laporan tentang hewan yang berperilaku tidak biasa sebelum gempa perlu dipahami secara hati-hati.
Kisah mengenai anjing yang menggonggong, ternak yang gelisah, burung yang meninggalkan tempat bertengger, atau ikan yang bergerak tidak seperti biasanya kerap menarik perhatian setelah gempa terjadi. Sebagian cerita berasal dari pengalaman warga, sementara lainnya diberitakan atau dicatat dalam laporan tertentu. Pengamatan semacam ini dapat menjadi bahan pertanyaan dan penelitian, terutama ketika beberapa orang melihat perubahan perilaku pada waktu yang berdekatan. Namun, cerita yang menarik belum tentu merupakan bukti bahwa hewan mengetahui gempa akan datang.
Perilaku hewan dapat berubah karena banyak pemicu, seperti suara, getaran kecil, perubahan cuaca, gangguan dari manusia, penyakit, atau kondisi lingkungan lainnya. Sebagian faktor mungkin tidak mudah dikenali oleh manusia, sehingga perubahan itu kemudian dikaitkan dengan gempa yang menyusul. Setelah suatu bencana terjadi, ingatan terhadap perilaku yang tampak janggal juga dapat menjadi lebih kuat, sedangkan kejadian serupa yang tidak diikuti gempa mungkin terlupakan. Hal ini menyulitkan penilaian apakah hubungan tersebut benar-benar konsisten.
Agar suatu tanda dapat digunakan sebagai peringatan, pola tersebut perlu diuji berulang kali dengan pengamatan yang sistematis, dicatat sebelum gempa, dan dibandingkan dengan kejadian saat gempa tidak terjadi. Sejauh ini, perilaku hewan belum terbukti memenuhi syarat untuk menjadi sistem peringatan yang andal. Artinya, perubahan tingkah laku hewan tidak dapat dipakai untuk memastikan bahwa gempa akan terjadi, apalagi menentukan waktu atau lokasi kejadian. Kisah-kisah tersebut dapat dibahas sebagai pengamatan yang menarik, tetapi keputusan keselamatan sebaiknya tetap mengacu pada informasi resmi, kesiapsiagaan, dan panduan kebencanaan yang berlaku.
Haicheng, sebuah kota di Provinsi Liaoning, China, menjadi salah satu kisah yang kerap dibahas ketika orang menelusuri kemungkinan perubahan perilaku hewan sebelum gempa. Pada 4 Februari 1975, gempa bermagnitudo 7,3 mengguncang kawasan tersebut. Kerusakan yang ditimbulkannya sangat luas: sekitar 90 persen bangunan dilaporkan rusak. Sebelum guncangan utama, warga dan pengamat mencatat berbagai kejadian yang dianggap tidak biasa pada hewan, meskipun laporan semacam itu tidak selalu dapat diverifikasi secara seragam.
Di cerita yang beredar, ratusan ular disebut ditemukan mati di luar sarangnya, termasuk saat musim dingin. Beberapa ternak dikabarkan menolak masuk ke kandang, sementara ayam berlarian dengan gelisah. Anjing menggonggong tanpa terkendali, dan kucing enggan masuk ke rumah. Gambaran tersebut kemudian menjadi bagian penting dari narasi populer tentang Haicheng. Namun, catatan perilaku itu sebaiknya dipahami sebagai laporan pengamatan, bukan bukti bahwa semua hewan di kota memperlihatkan respons yang sama atau bahwa perilaku tersebut dengan sendirinya dapat meramalkan waktu dan lokasi gempa secara tepat.
Menjelang gempa, pejabat setempat mengambil langkah darurat dan mengevakuasi seluruh kota. Keputusan itu berlangsung dalam konteks kewaspadaan yang lebih luas, termasuk rangkaian gempa kecil atau guncangan pendahulu, perubahan yang diamati di lingkungan, serta upaya pemantauan dan penilaian risiko. Perilaku hewan menjadi salah satu hal yang diperhatikan dan diceritakan, tetapi tidak tepat menyatakan bahwa evakuasi dilakukan hanya karena hewan bertingkah aneh. Setelah warga dipindahkan, gempa besar benar-benar terjadi dan menghancurkan banyak bangunan. Kisah Haicheng sering disebut sebagai contoh evakuasi yang menyelamatkan banyak orang, sekaligus pengingat bahwa keputusan keselamatan bergantung pada gabungan tanda, pengamatan, dan tindakan manusia. Pengalaman ini menarik bagi penelitian, tetapi belum menyediakan metode andal untuk menjadikan hewan sebagai sistem peringatan gempa yang berdiri sendiri.
Pada tahun sebelumnya, laporan dari San Diego Zoo Safari Park menarik perhatian karena menggambarkan perilaku sekelompok gajah sebelum gempa bumi. Menurut kisah yang dilaporkan, beberapa gajah terlihat berkumpul dan membentuk lingkaran di sekitar dua anak gajah. Peristiwa itu berlangsung sebelum gempa bermagnitudo 5,2 terjadi di sana. Gambaran ini mudah dikenang: gajah dewasa berada mengelilingi anak-anak, seolah memberikan perlindungan ketika sesuatu yang tidak biasa sedang berlangsung. Karena waktunya berdekatan dengan gempa, kejadian tersebut dianggap sebagai contoh lain perilaku hewan yang tidak biasa menjelang guncangan. Namun, urutan waktu saja tidak menjelaskan mengapa gajah membentuk formasi itu atau apakah mereka merespons tanda alam tertentu. Untuk memahami kisah tersebut secara hati-hati, penting membedakan pengamatan yang dilaporkan dari penafsiran yang muncul setelah gempa terjadi.
Lingkaran yang terbentuk di sekitar anak gajah dapat menarik perhatian karena tampak sebagai tindakan terkoordinasi. Akan tetapi, perilaku berkelompok pada gajah juga dapat berkaitan dengan interaksi sosial dan perlindungan anggota yang lebih muda. Tanpa catatan terperinci mengenai kondisi kawanan, perilaku mereka sebelum kejadian, serta rangkaian waktu yang tepat, sulit menentukan alasan khusus di balik formasi tersebut. Laporan singkat mengenai apa yang terlihat tidak dengan sendirinya menunjukkan apa yang dirasakan hewan, apalagi memastikan bahwa mereka mengetahui gempa akan terjadi. Kemungkinan-kemungkinan itu perlu dipisahkan dari fakta utama dalam kisah ini: sekelompok gajah dilaporkan membentuk lingkaran mengelilingi dua anak gajah sebelum gempa bermagnitudo 5,2.
Kisah San Diego tersebut tetap menarik sebagai catatan perilaku hewan yang kemudian dikaitkan dengan gempa. Namun, kejadian tunggal tidak cukup untuk membuktikan bahwa gajah dapat meramalkan gempa atau bahwa lingkaran itu merupakan peringatan. Untuk mendukung kesimpulan semacam itu, diperlukan pengamatan yang konsisten dan terdokumentasi, termasuk perbandingan dengan perilaku kawanan saat tidak ada gempa. Tanpa bukti tambahan, penjelasan yang paling cermat adalah bahwa perilaku itu teramati sebelum gempa, sementara hubungannya dengan guncangan belum dapat dipastikan. Dengan cara ini, kisah tersebut dapat dibahas tanpa mengubah laporan menarik menjadi klaim sebab-akibat yang belum terbukti.
Berbagai teori mencoba menerangkan mengapa sebagian hewan tampak bereaksi sebelum gempa, tetapi mekanisme yang diajukan masih berupa dugaan dan belum dapat dianggap sebagai penjelasan yang pasti. Salah satu gagasan berangkat dari tekanan ekstrem pada batuan jauh di bawah permukaan bumi. Menurut teori ini, perubahan tekanan yang mendahului gempa mungkin memengaruhi kondisi elektromagnetik dan menghasilkan perubahan yang mencapai permukaan. Hewan yang peka terhadap isyarat tertentu berpotensi merasakannya lebih dahulu daripada manusia. Namun, kaitan langsung perubahan tersebut dan perilaku hewan belum dibuktikan secara konsisten. Karena itu, gagasan ini lebih tepat dipahami sebagai kemungkinan yang masih perlu diuji melalui pengamatan terukur dan berulang.
Penjelasan lain berfokus pada bunyi dan perubahan kimia di lingkungan. Patahan batuan akibat tekanan, misalnya, diduga dapat menghasilkan gemuruh berfrekuensi rendah, yang mungkin luput dari pendengaran manusia tetapi terdeteksi oleh sebagian spesies. Ada pula dugaan bahwa proses yang menyertai perkembangan gempa dapat membentuk atau melepaskan bahan kimia, seperti hidrogen di dalam air atau ozon di daratan. Sejumlah hewan mungkin mampu mengenali perubahan zat di air maupun udara melalui indera penciuman atau sensor biologis lain. Meski demikian, belum jelas apakah perubahan semacam itu muncul secara teratur sebelum gempa, seberapa jauh penyebarannya, atau apakah perubahan tersebut cukup kuat untuk memicu respons perilaku yang dapat diamati.
Sebagai contoh yang kerap dibahas sumber.












