Jakarta | Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia menunjukkan bahwa aktivitas usaha di Indonesia tetap terjaga pada kuartal III 2026. Secara umum, pelaku usaha mencatat perkembangan yang positif, dengan seluruh lapangan usaha melaporkan kinerja positif selama periode survei. Hasil tersebut memberi gambaran bahwa kegiatan ekonomi berlangsung dengan daya tahan yang cukup baik di tengah dinamika yang dihadapi dunia usaha. Bank Indonesia menggunakan saldo bersih tertimbang (SBT) sebagai salah satu indikator untuk merangkum hasil survei dan membaca arah perkembangan kegiatan usaha.
Pada kuartal III 2026, SBT kegiatan usaha tercatat sebesar 11,46 persen. Angka ini menggambarkan lebih banyaknya respons pelaku usaha yang menyatakan kegiatan meningkat dibandingkan dengan yang menyatakan menurun, setelah jawaban ditimbang sesuai bobot masing-masing sektor. Dengan demikian, SBT membantu menyajikan kecenderungan umum dari berbagai tanggapan perusahaan dalam satu ukuran. Nilai positif tersebut sejalan dengan laporan bahwa seluruh lapangan usaha mencatat kinerja positif, sehingga hasil survei tidak hanya bertumpu pada perkembangan satu sektor tertentu.
Temuan SKDU ini penting sebagai potret kondisi dunia usaha pada suatu periode, sekaligus menjadi salah satu bahan untuk memantau perkembangan ekonomi. Namun, SBT perlu dibaca sebagai indikator survei yang merangkum penilaian dan pengalaman responden, bukan sebagai ukuran langsung pertumbuhan produk domestik bruto. Hasilnya menunjukkan arah kegiatan usaha yang terjaga pada kuartal III, sementara rincian kinerja tiap lapangan usaha dapat memberikan konteks tambahan mengenai sebaran perkembangan tersebut. Secara keseluruhan, angka 11,46 persen dan laporan positif dari seluruh lapangan usaha menegaskan bahwa aktivitas dunia usaha tetap berada dalam kondisi yang mendukung kegiatan ekonomi nasional selama kuartal tersebut.
Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha Bank Indonesia untuk kuartal III 2026 menyebut sejumlah lapangan usaha sebagai penopang aktivitas usaha yang tetap positif. Bidang yang tercantum meliputi industri pengolahan; administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib; pengadaan listrik dan gas; konstruksi; serta real estat. Penyebutan ini menunjukkan bahwa kinerja positif tercatat di beberapa bagian kegiatan ekonomi, bukan hanya pada satu jenis usaha. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci besaran sumbangan setiap bidang ataupun urutannya, sehingga daftar tersebut sebaiknya dipahami sebagai sektor-sektor yang disebut dalam hasil survei.
Industri pengolahan merupakan salah satu lapangan usaha yang masuk dalam daftar penopang tersebut. Bersama itu, administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib juga dicatat sebagai bagian dari kegiatan yang mendukung kondisi usaha pada periode survei. Pengadaan listrik dan gas turut disebut, mencakup kegiatan penyediaan energi yang dibutuhkan oleh rumah tangga maupun pelaku usaha. Survei mengidentifikasi bidang-bidang ini dalam gambaran aktivitas usaha kuartal III, tetapi tidak memberikan rincian mengenai subsektor, jenis produk, maupun faktor khusus yang menjelaskan kinerjanya. Karena itu, penyebutan sektoral tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa satu bidang tumbuh lebih kuat daripada bidang lainnya.
Konstruksi dan real estat melengkapi daftar sektor yang menopang kegiatan usaha menurut survei. Keduanya berkaitan dengan aktivitas pembangunan dan properti, tetapi hasil yang dirujuk tidak menjelaskan proyek, wilayah, atau jenis transaksi tertentu. Secara keseluruhan, daftar tersebut memberikan gambaran mengenai ragam lapangan usaha yang terkait dengan aktivitas positif pada kuartal III 2026. Angka atau penjelasan tambahan diperlukan untuk membandingkan perkembangan antarsektor, mengukur kontribusi masing-masing, atau menetapkan pemicu kinerja. Dengan membatasi uraian pada sektor yang memang disebut, pembaca dapat memahami cakupan laporan tanpa menarik kesimpulan yang tidak didukung data yang tersedia.
Pada Juli–September 2026, kapasitas produksi terpakai dunia usaha tercatat tetap terjaga pada 73,75 persen. Angka ini menunjukkan bahwa kegiatan produksi berlangsung dengan tingkat pemanfaatan kapasitas yang relatif stabil di tengah dinamika usaha. Indikator tersebut memberikan gambaran mengenai kemampuan perusahaan menggunakan fasilitas produksi yang tersedia untuk memenuhi kegiatan operasional dan permintaan pasar. Terjaganya kapasitas produksi juga sejalan dengan kondisi aktivitas usaha yang tetap positif pada kuartal III 2026, sebagaimana tercermin dalam survei Bank Indonesia.
Di sejumlah lapangan usaha, kapasitas produksi bahkan mengalami peningkatan. Perbaikan terutama terlihat pada industri pengolahan, pengadaan listrik dan gas, serta pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang. Perkembangan ini mencerminkan penguatan pemanfaatan kapasitas pada sektor-sektor tersebut selama periode laporan. Kenaikan pada industri pengolahan dapat berkaitan dengan meningkatnya kegiatan produksi, sedangkan penguatan di sektor utilitas dan pengelolaan lingkungan menunjukkan perkembangan aktivitas pada layanan pendukung perekonomian. Meski demikian, tingkat kapasitas dapat berbeda antarlapangan usaha sesuai kebutuhan dan karakteristik masing-masing sektor.
Selain indikator produksi, kondisi keuangan dunia usaha secara umum juga menunjukkan perbaikan. Perbaikan tersebut terlihat dari sisi likuiditas dan rentabilitas perusahaan. Likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek, sementara rentabilitas menunjukkan kemampuan menghasilkan keuntungan dari kegiatan usaha. Kondisi yang membaik pada kedua aspek ini dapat membantu perusahaan menjaga kelancaran operasional dan mendukung keberlanjutan aktivitas produksi. Pada saat yang sama, akses terhadap kredit tetap dinilai mudah. Kemudahan tersebut memberi ruang bagi dunia usaha untuk memperoleh pembiayaan ketika diperlukan, baik untuk kebutuhan modal kerja maupun pengembangan kegiatan usaha. Secara keseluruhan, kapasitas produksi yang terjaga, peningkatan pada beberapa lapangan usaha, serta kondisi keuangan dan akses pembiayaan yang mendukung menggambarkan fondasi operasional perusahaan yang tetap cukup kuat pada kuartal III 2026.
Responden Survei Kegiatan Dunia Usaha Bank Indonesia memperkirakan aktivitas usaha tetap tumbuh positif pada kuartal berikutnya. Prakiraan tersebut tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 10,77 persen. Angka ini menunjukkan bahwa pelaku usaha yang memandang kegiatan usahanya meningkat diperkirakan lebih banyak dibandingkan mereka yang memperkirakan penurunan, setelah memperhitungkan bobot masing-masing sektor. Dengan demikian, meskipun kondisi usaha dapat berbeda antarbidang, arah umum kegiatan ekonomi pada periode mendatang masih menunjukkan penguatan.
Sejumlah lapangan usaha diperkirakan menjadi penopang pertumbuhan tersebut. Responden memperkirakan peningkatan aktivitas pada sektor transportasi dan pergudangan, seiring kebutuhan pergerakan orang maupun distribusi barang. Prospek positif juga terlihat pada informasi dan komunikasi, real estat, serta jasa perusahaan. Di bidang perdagangan, kegiatan perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan motor, turut diperkirakan meningkat. Perkiraan lintas sektor ini menggambarkan bahwa prospek usaha tidak hanya bertumpu pada satu bidang, tetapi didukung oleh kegiatan jasa, distribusi, properti, dan perdagangan.
Perkiraan kenaikan aktivitas usaha juga berkaitan dengan momentum hari besar keagamaan nasional Natal dan libur akhir tahun. Pada periode tersebut, mobilitas masyarakat dan kebutuhan terhadap berbagai barang maupun jasa umumnya meningkat. Kondisi ini berpotensi mendorong permintaan layanan transportasi, pergudangan, komunikasi, serta aktivitas perdagangan. Pelaku usaha di sektor terkait dapat menyesuaikan kapasitas dan persediaan untuk mengantisipasi perubahan permintaan, sementara sektor jasa lainnya berpeluang memperoleh manfaat dari meningkatnya kegiatan masyarakat dan bisnis. Namun, besarnya dampak dapat bervariasi bergantung pada kondisi setiap usaha dan realisasi permintaan. Prakiraan SBT 10,77 persen tetap perlu dibaca sebagai gambaran ekspektasi responden, bukan kepastian hasil yang akan terjadi. Perkembangan aktual pada kuartal mendatang akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk daya beli, kelancaran distribusi, dan dinamika kegiatan ekonomi. Secara keseluruhan, hasil survei menunjukkan optimisme yang terukur: aktivitas usaha diperkirakan berlanjut positif, dengan dukungan sejumlah sektor dan dorongan musiman dari perayaan Natal serta libur akhir tahun.
Baca juga: Kembali Normal: Aktivitas Sekolah di Jakarta Tanpa PJJ












