Kabupaten Lumajang | Gunung Semeru, yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengalami tiga kali erupsi pada Sabtu (17/10). Letusan pertama tercatat pada pukul 04.52 WIB, disusul erupsi kedua pada pukul 06.35 WIB, kemudian letusan ketiga pada pukul 10.42 WIB. Rangkaian kejadian tersebut berlangsung dalam rentang kurang dari enam jam, dengan tinggi kolom letusan yang tercatat berbeda pada setiap erupsi.
Pada erupsi pertama, kolom letusan teramati mencapai sekitar 700 meter di atas puncak. Beberapa jam kemudian, erupsi kedua menghasilkan kolom dengan ketinggian sekitar 800 meter. Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan pengamatan pada letusan sebelumnya. Erupsi ketiga, yang terjadi pada pukul 10.42 WIB, memiliki kolom letusan tertinggi dalam rangkaian kejadian hari itu, yakni sekitar 1.000 meter di atas puncak Gunung Semeru.
Dengan demikian, tinggi kolom letusan meningkat secara bertahap dari sekitar 700 meter menjadi 800 meter, sebelum mencapai sekitar 1.000 meter pada erupsi terakhir. Urutan waktu dan ketinggian itu memberikan gambaran mengenai tiga aktivitas erupsi yang tercatat pada hari yang sama, tanpa menyamakan besaran kolom di tiap kejadian. Catatan waktu menunjukkan jeda sekitar satu jam 43 menit erupsi pertama dan kedua, lalu sekitar empat jam tujuh menit hingga letusan ketiga. Seluruh ketinggian yang disebutkan dihitung dari atas puncak gunung, bukan dari permukaan laut. Informasi ini menempatkan erupsi pukul 10.42 WIB sebagai kejadian dengan kolom tertinggi di tiga letusan yang tercatat pada Sabtu tersebut. Adapun dua letusan sebelumnya masing-masing memiliki kolom lebih rendah, yaitu sekitar 700 meter dan 800 meter. Rangkaian itu mencakup erupsi pagi hari yang terjadi pada tiga waktu berbeda di Semeru, gunung api di Jawa Timur tersebut.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Agastya Rajendra, mencatat perbedaan karakter pada tiga erupsi yang terjadi dalam sehari. Pada kejadian pertama, abu berwarna kelabu teramati dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat. Rekaman seismograf menunjukkan amplitudo maksimum 22 milimeter, sedangkan durasi getarannya mencapai 125 detik. Data tersebut menggambarkan kejadian pertama dalam rangkaian aktivitas yang dilaporkan, termasuk arah sebaran abu dan parameter yang tercatat pada alat pemantau.
Erupsi kedua menghasilkan kolom abu berwarna putih hingga kelabu, dengan intensitas tebal. Abu terpantau bergerak ke barat, sama seperti pada kejadian pertama. Namun, catatan seismograf memperlihatkan amplitudo maksimum yang lebih tinggi, yakni 25 milimeter, sementara durasinya lebih singkat, yaitu 90 detik. Perbedaan angka ini menjelaskan variasi dalam rekaman masing-masing erupsi, tanpa mengubah keterangan mengenai warna, ketebalan, dan arah pergerakan abu yang diamati petugas.
Pada erupsi ketiga, kolom abu teramati mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak. Abu berwarna putih hingga kelabu dan kembali mengarah ke barat. Seismograf mencatat amplitudo maksimum 25 milimeter, setara dengan angka pada erupsi kedua, tetapi durasinya mencapai 137 detik. Dengan demikian, kejadian ketiga memiliki durasi rekaman paling panjang di tiga erupsi yang disebutkan, sementara tinggi kolomnya menjadi ciri yang menonjol dalam laporan.
Rangkaian catatan tersebut menunjukkan bahwa ketiga erupsi sama-sama disertai abu yang bergerak ke arah barat, meskipun warna yang dilaporkan pada erupsi pertama hanya kelabu, sedangkan dua kejadian berikutnya berwarna putih hingga kelabu. Intensitas tebal secara khusus disebut pada dua erupsi pertama. Untuk kejadian ketiga, laporan menonjolkan tinggi kolom sekitar 1.000 meter di atas puncak serta nilai amplitudo dan durasi. Seluruh rincian pengamatan dan rekaman seismograf itu disampaikan oleh Agastya Rajendra dari Pos Pengamatan Gunung Semeru.
Aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. Status ini menandakan bahwa potensi bahaya perlu diwaspadai dan masyarakat harus mengikuti perkembangan informasi resmi dari pihak berwenang. Tiga kali erupsi dalam sehari, dengan kolom letusan tertinggi mencapai 1.000 meter, menjadi pengingat bahwa kondisi gunung dapat berubah dan aktivitas erupsi berisiko terjadi kembali. Warga yang tinggal di kawasan sekitar Semeru maupun pengunjung diminta tidak mengabaikan peringatan serta arahan keselamatan yang disampaikan petugas.
Masyarakat diimbau mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan, termasuk pembatasan kegiatan di kawasan rawan bencana. Hindari mendekati kawah, aliran sungai, dan jalur yang berpotensi dilalui material erupsi. Abu vulkanik, lontaran material, serta aliran lahar dapat membahayakan keselamatan, terutama di wilayah yang berdekatan dengan alur sungai. Jangan memasuki zona yang dinyatakan tertutup meskipun kondisi tampak tenang, dan jangan berhenti atau berkumpul untuk menyaksikan erupsi. Informasi mengenai perubahan aktivitas sebaiknya diperoleh dari sumber resmi, bukan kabar yang belum terverifikasi.
Secara khusus, aktivitas masyarakat dilarang di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak. Kawasan tersebut mencakup pusat erupsi dan memiliki risiko terdampak langsung oleh material vulkanik. Masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi perluasan bahaya di sepanjang aliran sungai, terutama jika terjadi hujan yang dapat memicu lahar. Patuhi batas aman dan instruksi petugas, termasuk apabila diminta menjauh atau mengungsi. Pengelola kegiatan wisata dan warga setempat perlu memastikan tidak ada orang memasuki area terlarang. Dengan mengikuti rekomendasi, masyarakat dapat mengurangi risiko cedera dan membantu petugas menjaga keselamatan bersama selama Semeru berstatus Siaga.
Selain memperhatikan aktivitas gunung, masyarakat perlu mematuhi batas kawasan yang dinilai berbahaya. Agastya mengimbau warga dan pengunjung agar tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Area tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas guguran dan aliran lahar, yang dapat menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak. Batas ini penting diperhatikan meskipun kondisi di sekitar sungai tampak aman, sebab material vulkanik dapat bergerak mengikuti alur sungai dan berubah cepat.
Imbauan mengenai jarak dari sungai berlaku bagi kegiatan apa pun, termasuk berjalan, bekerja, mencari material, maupun menyaksikan aktivitas gunung. Warga yang berada di sekitar Besuk Kobokan sebaiknya segera menjauh ketika kondisi mengancam dan mengikuti arahan petugas. Aliran lahar dapat membawa material dari hulu, sementara awan panas guguran dapat meluas mengikuti lembah. Karena itu, tepi sungai bukan tempat yang aman untuk berkumpul atau melakukan pengamatan, terutama ketika terjadi peningkatan aktivitas atau hujan di kawasan puncak.
Agastya juga menyampaikan larangan beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Semeru. Kawasan tersebut berisiko terkena lontaran batu pijar, sehingga masyarakat diminta tidak memasuki atau mendekatinya. Pembatasan ini ditujukan untuk mengurangi paparan langsung terhadap bahaya erupsi. Warga dan wisatawan perlu memperhatikan informasi resmi serta tidak menerobos batas yang telah ditetapkan, termasuk untuk mengambil gambar atau melakukan kegiatan lain. Jika berada di sekitar kawasan, ikuti petunjuk petugas dan gunakan jalur yang dinyatakan aman.
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan terhadap awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sungai maupun lembah yang berhulu di puncak. Perhatian khusus diperlukan di Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta sungai-sungai kecil yang merupakan anak Besuk Kobokan. Hindari lembah dan alur sungai ketika ada potensi bahaya, serta jangan berasumsi bahwa aliran kecil bebas risiko. Masyarakat di sekitar jalur tersebut sebaiknya terus memantau pengumuman resmi, menyiapkan diri untuk menjauh bila diperlukan, dan mengikuti arahan petugas tanpa menunda.












