Probolinggo – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Gending bersinergi dengan Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI) Kabupaten Probolinggo menggelar pelatihan pelatih bridge bagi guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, Selasa hingga Kamis (3–5/2/2026), bertempat di SMAN 1 Gending, Kabupaten Probolinggo.
Pelatihan tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkenalkan olahraga bridge di lingkungan pendidikan sekaligus membangun sumber daya manusia pelatih bridge yang berangkat dari kalangan guru PJOK. Acara pembukaan pada Selasa (3/2/2026) dihadiri Dewan Pembina PGRI Cabang Gending Irawan, Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan dan Kebudayaan (Dikdaya) Kecamatan Gending Sri Wasis, Ketua GABSI Kabupaten Probolinggo Titus Probo Santoso, Ketua PGRI Cabang Gending Eka Wahyudi, serta Ketua Umum KONI Kabupaten Probolinggo Zainul Hasan.
Dewan Pembina PGRI Cabang Gending, Irawan, menegaskan pelatihan ini memiliki misi utama mengubah stigma negatif masyarakat terhadap permainan kartu. Menurutnya, bridge merupakan cabang olahraga resmi yang menitikberatkan pada kecerdasan, strategi, dan prestasi, bukan sekadar permainan hiburan.
“Melalui pelatihan ini, kami ingin mengubah mindset bahwa bridge bukan permainan negatif. Bridge adalah olahraga yang melatih daya pikir, strategi, serta sportivitas, dan sudah dipertandingkan secara resmi di berbagai ajang olahraga,” ujar Irawan.
Senada dengan itu, Korwil Bidang Dikdaya Kecamatan Gending, Sri Wasis, menyampaikan bahwa bridge memiliki nilai edukatif yang tinggi dan relevan dengan pengembangan kemampuan peserta didik. Bridge dinilai mampu melatih berpikir kritis, kerja sama tim, pengambilan keputusan, serta pengendalian emosi.
“Bridge sebagai cabang olahraga permainan kartu memiliki nilai edukatif yang sangat berharga. Melalui pelatihan ini, diharapkan guru PJOK mampu memahami aturan dasar, teknik bermain, dan strategi bridge, serta mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran PJOK sesuai jenjang pendidikan,” jelas Sri Wasis.
Ia menambahkan, peran guru PJOK tidak hanya terbatas pada pengembangan aktivitas fisik, tetapi juga pembentukan karakter dan kemampuan kognitif siswa. Dengan menguasai olahraga berbasis strategi seperti bridge, guru dapat memberikan alternatif pembelajaran yang lebih variatif dan bermakna.
Ketua GABSI Kabupaten Probolinggo, Titus Probo Santoso, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah awal dalam membangun fondasi pembinaan bridge di wilayah Kecamatan Gending melalui jalur pendidikan. Guru PJOK diharapkan menjadi ujung tombak dalam memperkenalkan dan mengembangkan olahraga bridge di sekolah.
“Tujuan utama pelatihan ini adalah membangun fundamental dan pondasi sumber daya manusia pelatih bridge. Ilmu yang diperoleh diharapkan dapat diaplikasikan oleh guru PJOK kepada siswa, sehingga pembinaan bisa berjalan berkesinambungan,” terangnya.
Titus juga mengungkapkan, sebagai tindak lanjut dari pelatihan, GABSI Kabupaten Probolinggo berencana menggelar kejuaraan bridge tingkat daerah. “Sekitar tiga bulan setelah pelatihan ini, kami akan menyelenggarakan event GABSI Cup sesuai arahan Ketua KONI Kabupaten Probolinggo sebagai ajang pembinaan dan pencarian bibit atlet,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua PGRI Cabang Gending, Eka Wahyudi, berharap pelatihan ini dapat memperluas wawasan guru mengenai olahraga bridge sebagai media pembinaan karakter, literasi berpikir, dan kegiatan positif di lingkungan sekolah.
“Kami berharap para guru tidak hanya mengenal bridge sebagai olahraga prestasi, tetapi juga mampu mengembangkannya sebagai sarana pembinaan karakter dan penguatan kemampuan berpikir siswa,” ujarnya.
Eka Wahyudi juga menyampaikan apresiasi atas sinergi lintas organisasi yang terbangun dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara PGRI, GABSI, dan KONI merupakan contoh konkret pentingnya kerja sama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang pendidikan dan olahraga.
Ketua Umum KONI Kabupaten Probolinggo, Zainul Hasan, dalam sambutannya menegaskan bahwa bridge merupakan cabang olahraga yang relatif baru di bawah naungan KONI. Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret dan berkelanjutan untuk memperkenalkan bridge kepada masyarakat luas.
“GABSI masih termasuk cabang olahraga baru di KONI. Maka, tiga bulan setelah pelatihan ini harus ada event GABSI Cup sebagai langkah pembinaan sekaligus pengenalan bridge kepada masyarakat dan pelajar,” tegasnya.
Melalui pelatihan ini, diharapkan olahraga bridge dapat berkembang di lingkungan sekolah, sekaligus melahirkan pelatih dan atlet bridge potensial yang mampu mengharumkan nama Kabupaten Probolinggo di tingkat regional maupun nasional.
*(Bambang)*







