Kabupaten Musi Rawas | Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti wilayah Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, pada Senin pagi, 12 Oktober. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gangguan akibat asap belum berakhir, meskipun telah dirasakan warga sekitar selama dua minggu. Lapisan kabut tampak menutupi lingkungan permukiman dan kawasan di sekitarnya, sehingga suasana pagi terlihat berbeda dari biasanya.
Salah satu wilayah yang terpantau mengalami kabut cukup tebal adalah Kecamatan Tugu Mulyo. Pandangan warga di kawasan itu terganggu oleh asap yang menggantung di udara. Kabut tidak hanya terlihat di sekitar rumah dan jalan, tetapi juga menutupi bentang alam yang biasanya dapat diamati dari kejauhan. Bukit Barisan, yang menjadi bagian dari pemandangan wilayah tersebut, tidak terlihat karena tertutup asap.
Keadaan ini membuat kondisi lingkungan sekitar Musi Rawas masih berada dalam suasana berkabut dari hari ke hari. Warga terus merasakan keberadaan asap yang belum sepenuhnya menghilang, sementara jarak pandang di sejumlah lokasi tampak terbatas. Pemandangan alam yang tertutup kabut juga memperlihatkan luasnya dampak asap terhadap kehidupan sehari-hari di wilayah tersebut. Pada pagi itu, Musi Rawas kembali diselimuti asap, dengan Tugu Mulyo menjadi salah satu kawasan yang mengalami kondisi paling terlihat. Situasi yang berlangsung selama berhari-hari ini menjadi bagian dari gangguan lingkungan yang dirasakan masyarakat setempat hingga Senin pagi.
Kabut asap karhutla mengganggu kegiatan sehari-hari warga di Musi Rawas, terutama masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari pekerjaan sebagai petani. Asap paling terasa pada pagi dan sore hari. Pada waktu tersebut, suasana di sekitar permukiman dan lahan pertanian tampak lebih gelap, sementara jarak pandang menjadi terbatas. Kondisi ini membuat warga harus lebih berhati-hati ketika beraktivitas di luar rumah maupun saat menuju kebun dan sawah.
Bagi petani, penurunan jarak pandang menyulitkan kegiatan yang biasanya dilakukan sejak pagi. Warga tidak dapat leluasa mengamati keadaan lahan, berjalan menuju lokasi kerja, atau menjalankan pekerjaan seperti pada hari-hari biasa. Ketika sore tiba, kabut kembali mengganggu aktivitas karena lingkungan terlihat lebih redup dan pandangan ke sekitar menjadi tidak jelas. Pekerjaan di luar ruangan pun terasa kurang nyaman, sehingga kegiatan masyarakat harus menyesuaikan keadaan kabut yang berlangsung selama berhari-hari.
Selain menghambat pergerakan dan pekerjaan, warga juga menyampaikan keluhan fisik selama kabut asap menyelimuti wilayah mereka. Sebagian warga mengaku mengalami gangguan pernapasan, sedangkan yang lain merasakan mata perih ketika berada di tengah asap. Keluhan tersebut turut memengaruhi kenyamanan saat bekerja, bepergian, dan melakukan kegiatan rumah tangga. Dengan jarak pandang yang menurun serta suasana yang gelap pada pagi dan sore hari, kabut asap menjadi gangguan langsung bagi rutinitas masyarakat, khususnya petani yang perlu beraktivitas di lahan terbuka.
Kabut asap yang menyelimuti wilayah Musi Rawas mulai mengganggu aktivitas petani, terutama ketika mereka harus berada di sawah sejak pagi hingga siang hari. Kondisi tersebut tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga menimbulkan rasa tidak nyaman pada mata dan tubuh. Bagi petani, pekerjaan di lahan tetap harus dilakukan, meskipun udara di sekitar sawah terasa semakin sulit dihirup.
Sutri mengatakan, asap di Musi Rawas sudah berlangsung sekitar dua minggu. Namun, dalam lima hari terakhir, kepulan asap dirasakannya semakin tebal dibandingkan sebelumnya. Ia menyebut kondisi itu paling terasa pada waktu-waktu tertentu. Pada siang hari, matanya menjadi perih ketika berada di tengah kepungan asap. Sementara itu, suasana pada pagi dan sore hari terasa gelap akibat kabut yang menutupi lingkungan sekitar.
Keadaan tersebut membuat aktivitas di sawah terasa lebih berat. Pandangan yang terbatas dan rasa perih pada mata mengharuskan petani lebih berhati-hati ketika bekerja. Sutri tetap menyampaikan pengalamannya berdasarkan kondisi yang ia rasakan selama kabut asap bertahan di wilayah tersebut. Bagi dirinya, perubahan ketebalan asap dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa gangguan itu belum juga berakhir.
Keluhan serupa disampaikan Purdianto. Ia mengaku ragu pergi ke sawah karena matanya terasa pedih ketika terpapar asap. Selain itu, badannya terasa tidak enak, seperti hendak demam. Hidungnya juga tersumbat sehingga ia merasa tidak nyaman untuk beraktivitas di luar rumah maupun di lahan pertanian.
Purdianto menggambarkan sensasi pada hidungnya seperti sedang menghirup minyak angin. Pernyataan itu digunakan untuk menjelaskan rasa yang muncul ketika ia menghirup udara bercampur asap. Keluhan pada mata, tubuh, dan hidung tersebut membuatnya mempertimbangkan kembali keperluan pergi ke sawah. Meski pekerjaan pertanian perlu tetap berjalan, kabut asap membuat petani harus memperhitungkan kondisi kesehatan sebelum melanjutkan kegiatan di lahan.
Warga di Musi Rawas berharap kabut asap yang menyelimuti lingkungan mereka selama berhari-hari segera menipis dan menghilang. Kabut tersebut diketahui berasal dari kebakaran hutan dan lahan yang berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk petani yang tetap berupaya menjalankan pekerjaan di tengah jarak pandang yang terganggu. Bagi warga, berakhirnya kabut menjadi harapan agar suasana sehari-hari dapat kembali lebih nyaman.
Hujan menjadi salah satu hal yang dinantikan masyarakat untuk membantu meredakan kabut asap. Namun, warga hanya dapat berharap bahwa turunnya hujan akan berlangsung dan membawa perubahan terhadap kondisi udara di wilayah mereka. Harapan itu disampaikan sebagai keinginan agar kabut tidak lagi bertahan dari hari ke hari, terutama setelah masyarakat merasakan gangguan dalam menjalankan kegiatan di sekitar tempat tinggal dan lahan pertanian.
Selama kabut masih terlihat, warga Musi Rawas menunggu keadaan kembali seperti semula. Mereka berharap hujan segera turun, meskipun belum ada kepastian mengenai waktu kedatangannya maupun seberapa cepat kabut akan berkurang. Bagi masyarakat, hujan dan hilangnya kabut asap akan menjadi penanda bahwa gangguan yang dirasakan selama beberapa hari mulai mereda.
Dengan demikian, harapan warga saat ini tetap sederhana: kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan dapat segera menghilang seiring turunnya hujan. Keinginan tersebut mencerminkan penantian masyarakat agar aktivitas petani dan kehidupan sehari-hari di Musi Rawas tidak lagi terganggu oleh kabut yang bertahan selama berhari-hari.
Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | TNI intensifkan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Melawi Kalbar | Satgas Karhutla TNI Mediasi Masyarakat dan Korporasi di Melawi






