banner 728x250

Asap Tebal Tunda Operasi Lima Helikopter Pemadam Karhutla Sumsel

Asap Tebal Tunda Operasi Lima Helikopter Pemadam Karhutla Sumsel
banner 120x600
banner 468x60

Palembang | Lima helikopter water bombing yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Udara Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Sumatera Selatan belum dapat menjalankan misi pemadaman di sejumlah titik. Armada bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut telah disiagakan di Palembang untuk mendukung penanganan kebakaran, terutama pada wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Penerbangan yang dijadwalkan pada Selasa, 13 Oktober 2026, harus dibatalkan karena jarak pandang di sekitar lokasi operasi menurun akibat kepulan asap karhutla. Kondisi tersebut membuat penerbangan tidak memenuhi aspek keselamatan yang diperlukan bagi kru maupun armada. Helikopter tidak dapat dipaksakan mengudara ketika jarak pandang terbatas, sebab situasi itu meningkatkan risiko selama proses menuju titik kebakaran, pengambilan air, hingga penyiraman dari udara.

banner 325x300

Kelima helikopter tetap berada dalam kondisi siaga di Palembang sambil menunggu cuaca dan jarak pandang membaik. Penundaan ini tidak berarti dukungan udara dihentikan, melainkan merupakan langkah pengamanan agar misi dapat dilakukan pada waktu yang lebih memungkinkan. Setelah kondisi dinilai aman, armada tersebut diharapkan kembali melaksanakan water bombing untuk membantu menekan titik api yang berada jauh dari akses kendaraan pemadam.

Kehadiran helikopter menjadi bagian penting dalam operasi karhutla di Sumatera Selatan. Selain dapat menjangkau area rawa, lahan gambut, dan lokasi yang terisolasi, penyiraman dari udara memungkinkan upaya pemadaman dilakukan lebih cepat pada titik yang berpotensi meluas. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi atmosfer, khususnya jarak pandang dan keamanan penerbangan. Karena itu, Satgas Udara perlu menyesuaikan jadwal operasi dengan perkembangan asap serta hasil pemantauan di lapangan.

Kepala Balai Penanggulangan Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menjelaskan bahwa penerbangan lima helikopter pemadam karhutla di Sumatera Selatan ditunda karena jarak pandang di sekitar wilayah operasi kembali memburuk. Pada pagi hari, seluruh helikopter sempat berada dalam kondisi siap diberangkatkan untuk menjalankan misi pemadaman melalui metode water bombing. Namun, perubahan cuaca membuat visibility menurun sehingga penerbangan tidak dapat dilanjutkan sesuai rencana.

Menurut Ferdian, rendahnya jarak pandang menjadi faktor utama yang harus diperhitungkan sebelum helikopter diterbangkan. Kondisi tersebut dinilai membahayakan keselamatan penerbangan, baik bagi awak pesawat maupun personel lain yang terlibat dalam operasi. Helikopter membutuhkan visibilitas yang memadai untuk melakukan navigasi, menemukan titik api, serta melaksanakan pengambilan dan penjatuhan air secara aman. Karena itu, kesiapan armada belum cukup menjadi alasan untuk memulai misi apabila situasi udara masih berisiko.

Ferdian menyampaikan bahwa tim tetap melakukan persiapan sambil menunggu perkembangan kondisi di lapangan. Pemantauan terhadap jarak pandang dan cuaca terus dilakukan untuk menentukan waktu yang paling memungkinkan bagi penerbangan. Apabila visibility membaik dan dinilai aman, helikopter dapat segera diarahkan menuju lokasi yang membutuhkan penanganan. Sebaliknya, bila jarak pandang tetap rendah, operasi akan kembali ditahan guna mencegah terjadinya kecelakaan.

Ia juga menyebutkan bahwa permintaan dukungan water bombing telah diajukan sebagai bagian dari upaya mengendalikan kebakaran hutan dan lahan. Meski demikian, pengajuan dukungan tersebut tidak otomatis berarti penerbangan dapat langsung dilaksanakan. Pelaksanaan pemadaman udara tetap bergantung pada perubahan jarak pandang serta hasil penilaian keselamatan penerbangan. Dengan pertimbangan tersebut, kondisi aktual di lapangan menjadi dasar utama dalam menentukan kapan operasi lima helikopter dapat dimulai.

Gangguan penerbangan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan telah berlangsung sejak Kamis, 8 Oktober. Kondisi jarak pandang yang rendah akibat kepulan asap tebal membuat pelaksanaan operasi udara tidak dapat berjalan secara konsisten. Situasi tersebut berdampak langsung pada lima helikopter pemadam yang disiapkan untuk mendukung penanganan titik api di sejumlah wilayah.

Ferdian menjelaskan bahwa tingkat keterlihatan di lokasi karhutla berubah-ubah. Pada waktu tertentu, jarak pandang masih memungkinkan helikopter melakukan penerbangan dan menjatuhkan air. Namun, kondisi dapat memburuk dalam waktu singkat ketika asap kembali menebal dan menutupi area operasi. Pada beberapa hari, seluruh helikopter bahkan sama sekali tidak dapat diterbangkan karena faktor keselamatan.

Perubahan itu membuat jadwal penerbangan tidak hanya terganggu pada satu kesempatan. Setiap rencana operasi harus menyesuaikan keadaan atmosfer dan jarak pandang terkini di sekitar titik kebakaran. Tim di lapangan perlu melakukan pemantauan berulang sebelum memberikan keputusan, sebab penerbangan dalam kondisi visibilitas terbatas berisiko bagi awak, pesawat, serta efektivitas pengeboman air.

Upaya pemadaman juga pernah dilakukan melalui penerbangan water bombing dari Bangka Belitung. Kendati demikian, hasilnya belum optimal karena langit di atas titik kebakaran tertutup asap tebal. Air yang dijatuhkan dari udara tidak dapat diarahkan secara maksimal ke sumber api ketika target sulit terlihat dari ketinggian.

Keadaan ini menunjukkan bahwa hambatan penerbangan bukan sekadar persoalan satu jadwal yang tertunda. Dinamika asap di lokasi karhutla terus berubah, dipengaruhi pergerakan angin dan kondisi kebakaran, sehingga jarak pandang dapat naik turun sepanjang hari. Selama asap kembali menutup kawasan operasi, helikopter harus menunggu hingga kondisi cukup aman untuk melanjutkan misi pemadaman.

Meskipun lima helikopter pemadam karhutla belum dapat beroperasi karena asap tebal, penanganan di darat tetap berlangsung. Ferdian memastikan Satgas Darat terus menjalankan tugas untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di wilayah yang menjadi perhatian. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya penanganan karhutla sambil menunggu kondisi yang memungkinkan bagi helikopter untuk kembali mendukung operasi.

Fokus penanganan Satgas Darat berada di empat wilayah, yakni Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim. Keempat wilayah tersebut menjadi titik perhatian dalam pelaksanaan pemadaman di lapangan. Satgas Darat melakukan penanganan sesuai kondisi masing-masing lokasi, dengan mempertimbangkan akses menuju area terdampak serta ketersediaan sumber daya yang dapat digunakan selama operasi berlangsung.

Dalam pelaksanaannya, tim menghadapi kendala berupa medan yang berat. Kondisi tersebut membuat proses menuju lokasi dan penanganan di lapangan tidak mudah. Tantangan lain muncul dari pasokan air yang semakin sulit diperoleh karena sejumlah sungai dan kanal mulai mengering. Berkurangnya sumber air membuat dukungan untuk kegiatan pemadaman harus disesuaikan dengan kondisi yang tersedia di setiap wilayah.

Ferdian menegaskan bahwa kendala tersebut menjadi bagian dari situasi yang harus dihadapi Satgas Darat selama menangani karhutla. Penanganan tetap diarahkan pada empat wilayah fokus, yaitu Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim. Dengan helikopter yang belum dapat beroperasi, pekerjaan di darat terus menjadi tumpuan penanganan, meskipun tim harus bekerja di tengah medan sulit dan keterbatasan pasokan air akibat sungai serta kanal yang mulai mengering.

Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | TNI Perkuat Penanganan Karhutla di Melawi, Salurkan Peralatan Pemadam kepada Masyarakat | Operasi Pencarian Penumpang Kapal Virgo Transport 8

banner 325x300