Jakarta | Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi membantu mengurangi absensi siswa, terutama di kalangan anak dari kelompok masyarakat termiskin. Potensi tersebut berkaitan dengan tersedianya makanan selama hari sekolah, yang dapat meringankan salah satu kendala yang dihadapi keluarga rentan. Namun, dampak program perlu dinilai melalui data, bukan hanya diasumsikan dari tujuan penyediaan makanan. Kehadiran siswa menjadi salah satu ukuran penting untuk melihat apakah dukungan tersebut turut membantu anak mengikuti pembelajaran secara lebih konsisten.
Temuan dan penilaian awal itu disampaikan anggota DEN Mochammad Firman Hidayat, berdasarkan studi yang dilakukan bersama Badan Pusat Statistik (BPS) serta sejumlah lembaga lain. Kajian tersebut dirancang untuk memperoleh gambaran nasional mengenai kondisi siswa dan pengalaman mereka terkait pembelajaran. Pengumpulan informasi menggunakan modul khusus yang dimasukkan ke dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Dengan memanfaatkan survei tersebut, kajian dapat mengamati berbagai kondisi rumah tangga dan menghubungkannya dengan pengalaman anak di sekolah.
Pelaksanaan kajian dimulai sejak September 2025 dan mencakup seluruh wilayah Indonesia. Cakupan nasional ini memungkinkan penilaian dilakukan terhadap siswa dari latar sosial dan kondisi daerah yang beragam, termasuk kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan berbeda. Pendekatan tersebut penting karena manfaat MBG dan hambatan untuk hadir di sekolah mungkin tidak sama di setiap wilayah. Data lintas daerah juga dapat membantu melihat apakah potensi pengurangan absensi paling terasa pada anak yang menghadapi kerentanan ekonomi.
Modul Susenas secara khusus menelaah tiga indikator, yaitu absensi sekolah, semangat belajar, dan rasa lapar saat kegiatan belajar. Ketiganya memberikan sudut pandang berbeda mengenai hubungan pemenuhan kebutuhan pangan dan proses pendidikan. Catatan absensi menggambarkan keikutsertaan siswa, sedangkan semangat belajar dan rasa lapar memberi informasi tentang pengalaman mereka selama berada di kelas. Dengan mengkaji indikator-indikator tersebut, DEN dan mitra dapat menilai potensi MBG secara lebih menyeluruh. Hasilnya diharapkan menjadi dasar untuk memahami kelompok yang memperoleh manfaat serta mengenali bagian pelaksanaan yang masih perlu diperbaiki.
Hasil kajian yang dipaparkan Firman menunjukkan adanya perbedaan tingkat absensi siswa penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan siswa yang tidak menerima manfaat tersebut. Secara umum, siswa penerima MBG tercatat lebih jarang tidak masuk sekolah dibandingkan siswa yang tidak memperoleh program. Temuan ini memberi gambaran tentang keterkaitan penerimaan program dan kehadiran siswa, meski tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa MBG menjadi satu-satunya penyebab perubahan absensi. Kehadiran di sekolah dapat dipengaruhi berbagai keadaan, sehingga hasil tersebut perlu dibaca sesuai cakupan kajian yang disampaikan.
Perbedaan absensi disebut cukup besar pada desil 1, yaitu kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah. Dalam kelompok ini, siswa miskin yang tidak memperoleh MBG cenderung lebih sering absen daripada siswa yang menerima program. Pola tersebut menyoroti pentingnya melihat dampak program berdasarkan kondisi sosial ekonomi penerima, bukan hanya angka rata-rata seluruh siswa. Bagi keluarga dengan keterbatasan sumber daya, dukungan makanan di sekolah dapat menjadi salah satu faktor yang relevan dalam keseharian anak, sementara absensi tetap dapat dipengaruhi oleh faktor lain, seperti kesehatan, jarak, dan kondisi keluarga.
Kajian itu juga mencatat bahwa penurunan absensi semakin besar seiring meningkatnya intensitas penerimaan MBG di sekolah. Dengan kata lain, sekolah dengan cakupan atau penerimaan program yang lebih tinggi menunjukkan penurunan absensi yang lebih besar dalam pola yang dilaporkan. Firman menyampaikan temuan tersebut di Istana Merdeka pada Selasa malam, 20 Oktober 2026. Informasi mengenai perbedaan antar kelompok dan intensitas penerimaan dapat menjadi bahan untuk menilai pelaksanaan MBG, terutama dalam menjangkau siswa yang paling rentan. Namun, hasil yang dipaparkan perlu dipahami sebagai temuan kajian, bukan bukti sebab-akibat yang melampaui keterangan sumber. Pemantauan lanjutan dapat membantu memperjelas pola kehadiran sekaligus mengidentifikasi hambatan pemerataan penerima di berbagai sekolah.
Kajian DEN menemukan adanya kaitan penerimaan MBG dan semangat belajar siswa. Dalam temuan tersebut, kualitas makanan yang diterima menjadi faktor penting dalam melihat hubungan itu. Sebanyak 95% siswa penerima MBG menyatakan semangat belajar mereka lebih tinggi ketika kualitas menu yang disajikan dinilai sangat baik. Angka ini menunjukkan bahwa pengalaman siswa terhadap menu yang diterima berjalan seiring dengan penilaian mereka atas semangat belajar. Karena itu, manfaat program tidak hanya tercermin pada aspek kehadiran, tetapi juga dapat terlihat dari tanggapan siswa mengenai kesiapan dan dorongan mereka untuk belajar ketika memperoleh makanan dengan mutu yang baik.
Sebaliknya, persentase siswa yang melaporkan peningkatan semangat belajar menurun ketika makanan yang diterima dinilai buruk. Perbedaan tanggapan tersebut menegaskan bahwa penerimaan program saja belum menggambarkan seluruh pengalaman siswa. Mutu menu turut berkaitan dengan bagaimana siswa merasakan manfaat MBG dalam kegiatan belajar. Temuan ini menempatkan kualitas makanan sebagai bagian yang perlu dicermati saat membaca kaitan program dan semangat belajar. Namun, angka 95% merujuk secara khusus pada siswa yang menilai kualitas menu sangat baik, sementara laporan mengenai peningkatan semangat menjadi lebih rendah saat penilaian terhadap makanan memburuk. Dengan demikian, mutu menu berkaitan dengan variasi tanggapan siswa.
Firman menekankan bahwa kualitas menu perlu diperhatikan karena berkorelasi dengan rasa lapar dan semangat belajar siswa. Pesan tersebut sejalan dengan temuan kajian DEN mengenai perbedaan laporan semangat belajar berdasarkan penilaian siswa atas makanan yang mereka terima. Perhatian pada mutu menu menjadi penting agar pengalaman penerima MBG tidak hanya dinilai dari status sebagai penerima, tetapi juga dari kualitas makanan yang sampai kepada mereka. Hasil kajian ini memberi gambaran bahwa menu yang dinilai sangat baik beriringan dengan semangat belajar yang lebih tinggi, sedangkan penilaian buruk berkaitan dengan turunnya persentase siswa yang melaporkan peningkatan semangat. Kualitas menu, dengan demikian, merupakan aspek yang patut menjadi perhatian dalam pelaksanaan MBG.
Data DEN per September memperlihatkan bahwa jangkauan program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum tersebar merata. Penerima program masih lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dibandingkan perdesaan. Gambaran tersebut menunjukkan adanya perbedaan akses berdasarkan lokasi tempat tinggal, sehingga manfaat program belum menjangkau kelompok siswa secara seimbang. Di sisi lain, komposisi penerima juga memperlihatkan ketimpangan berdasarkan kondisi ekonomi keluarga. Siswa dari keluarga kaya yang menerima MBG masih berjumlah lebih banyak daripada siswa dari keluarga miskin. Dengan demikian, persoalan pemerataan tidak hanya berkaitan dengan jarak dan karakter wilayah, tetapi juga tentang siapa yang memperoleh manfaat program.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena tujuan penyaluran perlu menjangkau siswa yang lebih membutuhkan, termasuk mereka yang tinggal di daerah dengan keterbatasan akses. Firman menyerukan agar prioritas penyaluran diperbaiki. Ia menekankan pentingnya perhatian lebih besar kepada daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), wilayah perdesaan, serta masyarakat miskin. Seruan ini selaras dengan gambaran data bahwa penerima MBG saat ini lebih banyak berada di perkotaan dan berasal dari keluarga kaya. Perbaikan prioritas, sebagaimana disampaikan Firman, menjadi isu yang berkaitan langsung dengan pemerataan akses, bukan sekadar perluasan jumlah penerima secara umum.
Perbedaan jangkauan tersebut menandai tantangan yang perlu dibaca bersama dengan manfaat program yang telah terlihat pada kehadiran siswa dan semangat belajar. MBG berpotensi mendukung kegiatan belajar, tetapi potensi itu tidak otomatis dirasakan secara setara apabila kelompok dan wilayah tertentu masih lebih dominan dalam daftar penerima.
Baca juga: Tantangan Petambak Udang Indonesia di Tengah Arus Impor | Tantangan Hukum Terhadap Iklim Investasi di Indonesia












