Jakarta | PDIP menggelar napak tilas Sumpah Pemuda di Jakarta pada Minggu sebagai bagian dari rangkaian Merah Muda Fest 2026. Kegiatan ini mengajak generasi muda mengenang salah satu tonggak penting perjalanan bangsa sekaligus merefleksikan peran pemuda dalam kehidupan publik. Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menyebut agenda tersebut sebagai wujud komitmen partai untuk mengawal kepeloporan anak muda. Menurutnya, ruang bagi generasi muda perlu terus dibuka agar mereka dapat tumbuh, mengambil peran, dan kelak memimpin dengan karakter.
Napak tilas itu tidak hanya diarahkan pada pengenalan sejarah, tetapi juga pada upaya menghubungkan nilai Sumpah Pemuda dengan tantangan yang dihadapi generasi masa kini. Semangat persatuan, keberanian menyampaikan gagasan, dan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa menjadi bagian dari pesan yang ingin dihidupkan melalui kegiatan tersebut. Hasto mengaitkan agenda Merah Muda Fest dengan persiapan menyongsong satu abad Sumpah Pemuda. Momentum itu, ia menilai, dapat menjadi kesempatan untuk meneguhkan kembali makna kontribusi pemuda serta mendorong keterlibatan mereka dalam proses sosial dan kebangsaan.
Dalam konteks tersebut, Hasto juga menyebut Millennium Public Polls sebagai salah satu agenda untuk menjaga semangat partisipasi anak muda. Kegiatan itu berlangsung setiap tanggal 28 dan menjadi wadah keterlibatan generasi muda dalam menyampaikan pandangan. Konsistensi pelaksanaannya dimaksudkan untuk menjaga ruang partisipasi tetap terbuka, bukan hanya pada peringatan tertentu. Melalui rangkaian kegiatan seperti napak tilas dan jajak pendapat tersebut, PDIP menyatakan ingin mengawal tumbuhnya kepeloporan anak muda secara berkelanjutan. Harapannya, generasi muda tidak berhenti sebagai peserta kegiatan, melainkan terlibat aktif dalam merumuskan gagasan dan mengambil tanggung jawab. Bekal karakter, kesadaran sejarah, serta kebiasaan berpartisipasi dinilai penting bagi calon pemimpin yang mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan orientasi kebangsaan.
Dalam Merah Muda Fest 2026, Hasto Kristiyanto menyampaikan pesan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kepada generasi muda. Pesan tersebut menempatkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bekal penting untuk menghadapi perubahan zaman, sekaligus sebagai sarana memberi manfaat bagi kehidupan bersama. Anak muda didorong untuk terus belajar, berpikir kritis, dan mengembangkan kemampuan agar mampu memahami persoalan yang berkembang di masyarakat. Penguasaan teknologi tidak cukup dipandang sebagai keterampilan praktis atau jalan menuju kemajuan pribadi. Pengetahuan perlu disertai kesadaran tentang tujuan dan dampaknya, sehingga inovasi yang lahir dapat menjawab kebutuhan manusia serta memperluas akses terhadap kehidupan yang lebih baik.
Megawati juga berharap generasi muda mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin di berbagai bidang, termasuk politik, ekonomi, dan kebudayaan. Harapan itu merupakan ajakan untuk membangun kapasitas sejak dini, bukan pernyataan bahwa anak muda telah menduduki posisi kepemimpinan. Persiapan tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan, pengalaman berorganisasi, dialog lintas generasi, serta keterlibatan dalam memahami tantangan publik. Di bidang politik, misalnya, pengetahuan dan integritas diperlukan agar keputusan berorientasi pada kepentingan masyarakat. Dalam ekonomi, pemahaman tentang perubahan dan pemerataan dapat membantu mendorong kemakmuran yang inklusif. Sementara itu, di ranah kebudayaan, generasi muda dapat menjaga nilai dan identitas sekaligus merespons perkembangan baru secara terbuka.
Pesan itu menekankan bahwa kualitas pemimpin tidak hanya ditentukan oleh kecakapan atau pencapaian, tetapi juga oleh karakter kerakyatan. Generasi muda diharapkan tumbuh dengan keberpihakan kepada masyarakat tertindas dan mereka yang mengalami ketidakadilan. Sikap tersebut menuntut kemauan untuk mendengar, memahami pengalaman kelompok yang rentan, serta menggunakan pengetahuan dan teknologi untuk membantu mengatasi persoalan nyata. Dengan demikian, kemajuan tidak berhenti pada penguasaan perangkat digital atau capaian ekonomi, melainkan turut diukur dari manfaatnya bagi banyak orang. Ajakan Megawati, sebagaimana disampaikan Hasto, menghubungkan pembelajaran, pengabdian, dan tanggung jawab sosial. Anak muda diajak mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh agar kelak dapat mengambil peran kepemimpinan dengan kompetensi, kepedulian, dan komitmen pada keadilan.
Merah Muda Fest 2026 kembali digelar sebagai program tahunan DPP PDI Perjuangan melalui bidang pemuda dan olahraga. Tahun ini menjadi penyelenggaraan kedua, setelah festival tersebut berlangsung di Yogyakarta pada 2025. Kehadirannya menandai upaya partai menghadirkan ruang pertemuan bagi generasi muda, sekaligus mengajak mereka terlibat dalam kegiatan yang merayakan kebersamaan dan kepedulian sosial.
Mengusung tema “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Kemanusiaan”, festival ini diselenggarakan untuk memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda. Tema tersebut mengingatkan bahwa persatuan bukan hanya warisan sejarah, melainkan juga nilai yang perlu dirawat dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah keberagaman latar belakang, anak muda dapat berkontribusi dengan membangun hubungan yang saling menghormati dan menempatkan kepentingan bersama sebagai perhatian utama.
Ketua Panitia Merah Muda Fest 2026, Denny Cagur, menegaskan bahwa acara di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, tidak dimaksudkan sebagai pesta semata. Suasana meriah dan rangkaian hiburan diharapkan menjadi pintu masuk untuk membangun kedekatan antarpeserta. Dari pengalaman berkumpul dan menikmati acara bersama, kaum muda diharapkan menemukan alasan untuk lebih peka terhadap persoalan di sekitar mereka, serta melihat bahwa kepedulian dapat dimulai dari langkah sederhana.
Menurut Denny, kegembiraan yang tercipta sebaiknya mendorong peserta untuk bergerak, bukan berhenti ketika festival usai. Anak muda dapat meneruskan semangat kebersamaan melalui tindakan yang memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat, baik dengan membantu sesama, menginisiasi kegiatan komunitas, maupun berpartisipasi dalam gerakan sosial. Dengan demikian, festival menjadi ruang yang menghubungkan perayaan dengan aksi nyata. Harapannya, Merah Muda Fest 2026 tidak hanya meninggalkan kenangan menyenangkan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian dan keberanian generasi muda untuk mengambil peran. Pesan persatuan dalam tema festival pun dapat diwujudkan melalui kontribusi konkret, sehingga peringatan Sumpah Pemuda terasa relevan bagi kehidupan masa kini dan masa depan.Rangkaian napak tilas dalam Merah Muda Fest 2026 mengajak peserta menelusuri jejak sejarah Kongres Pemuda II melalui rute sekitar tiga kilometer. Perjalanan dimulai dari Museum Sumpah Pemuda, berlanjut melewati Gereja Katedral, dan berakhir di Lapangan Banteng. Lebih dari sekadar berjalan bersama, kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar di luar kelas agar generasi muda dapat mendekati sejarah melalui lokasi-lokasi yang menjadi bagian dari lanskap perjuangan kebangsaan. Sepanjang perjalanan, peserta diajak menghubungkan tempat yang mereka kunjungi dengan proses panjang lahirnya ikrar persatuan yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda.
Dalam napak tilas tersebut, peserta juga diajak memahami proses historis yang mengantarkan para pemuda pada Kongres Pemuda II dan lahirnya Sumpah Pemuda. Pembelajaran mencakup dinamika gagasan, pertemuan, serta kerja bersama yang membentuk kesadaran untuk melampaui perbedaan daerah dan menyatukan cita-cita kebangsaan. Sejumlah tokoh penting diperkenalkan, termasuk Mohammad Yamin, Sugondo Djojopuspito, dan Tabrani. Dengan mengenali kontribusi mereka, peserta dapat melihat bahwa perubahan sejarah tidak berlangsung begitu saja, melainkan ditopang oleh keberanian menyampaikan gagasan, kesediaan berdialog, dan komitmen untuk bekerja bersama. Pendekatan ini memberi konteks pada nilai persatuan, sekaligus mendorong kaum muda untuk memahami peran mereka dalam kehidupan publik masa kini.
Hasto menyampaikan apresiasi atas kehadiran Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam pembukaan rangkaian kegiatan. Menurut Hasto, kehadiran kepala daerah bukan hanya bentuk dukungan terhadap acara kepemudaan, tetapi juga menunjukkan komitmen untuk menerjemahkan kebijakan berdikari dan pro-rakyat menjadi langkah konkret. Dukungan tersebut dinilai penting agar gagasan tentang kemandirian dan keberpihakan kepada masyarakat dapat terasa dalam pelaksanaan program, termasuk kegiatan yang memberi ruang bagi anak muda untuk belajar dan berpartisipasi.
Baca juga: Tanamkan Jiwa Kepemimpinan Sejak Dini, Babinsa Sambi Ajak Pelajar Jauhi Bullying dan Narkoba | Papua Barat Jadi Ruang Pengabdian dan Pengembangan Kepemimpinan Wakapolda Polwan | Wamen PPPA Jadi Pembicara IAWP 2026, Dorong Penguatan Layanan bagi Korban Kekerasan












