Kota Administrasi Jakarta Pusat Eric PZ Lumbun | Wakil Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat Eric PZ Lumbun menilai ekonomi kreatif perlu terus dikembangkan agar kreativitas tidak berhenti sebagai ruang berekspresi. Pengembangan sektor ini, menurutnya, juga perlu diarahkan untuk membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, serta memberi kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pandangan tersebut ia sampaikan dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta pada Minggu. Pernyataan itu menempatkan kreativitas dan manfaat ekonomi sebagai dua hal yang dapat berjalan beriringan, sekaligus menjadi perhatian dalam pembahasan mengenai arah pengembangan ekonomi kreatif di Jakarta Pusat.
Ruang berekspresi tetap menjadi bagian penting dari kegiatan kreatif karena memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menuangkan gagasan dan menghasilkan karya. Namun, potensi tersebut juga dapat dikaitkan dengan kesempatan untuk mengembangkan usaha dan kegiatan ekonomi. Dengan demikian, pengembangan ekonomi kreatif tidak hanya berbicara tentang karya atau aktivitas seni, tetapi juga mengenai bagaimana kreativitas dapat membuka ruang bagi kegiatan produktif. Peluang itu dapat menjadi perhatian bagi para pelaku, komunitas, dan pihak yang terlibat dalam ekosistem kreatif, tanpa mengabaikan fungsi kreativitas sebagai sarana berekspresi.
Penekanan pada penciptaan lapangan kerja dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi menunjukkan bahwa manfaat ekonomi menjadi salah satu aspek yang perlu diperhitungkan. Pengembangan yang berkelanjutan diharapkan dapat menghubungkan gagasan kreatif dengan peluang usaha, sekaligus memberi nilai bagi masyarakat. Pernyataan Eric tersebut menyampaikan arah yang ingin didorong, bukan klaim bahwa dampak itu telah tercapai. Karena itu, pembicaraan mengenai ekonomi kreatif di Jakarta Pusat dapat mencakup upaya menjaga ruang bagi kreativitas serta memperhatikan kemungkinan manfaatnya bagi kehidupan ekonomi warga. Keterkaitan ekspresi, usaha, pekerjaan, dan pertumbuhan menjadi pokok pandangan yang disampaikan dalam keterangan tersebut.
Menurut Eric, pengembangan ekosistem ekonomi kreatif di Jakarta Pusat membutuhkan kolaborasi yang konsisten pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dan pelaku industri kreatif. Setiap pihak memiliki peran yang saling melengkapi: pemerintah dapat membuka akses dan menyediakan ruang kegiatan, sekolah membekali siswa dengan pengetahuan dasar, komunitas menghubungkan berbagai gagasan, sementara praktisi industri berbagi pengalaman tentang kebutuhan dan peluang nyata di lapangan. Kerja sama semacam ini penting agar kreativitas tidak berhenti sebagai potensi, tetapi berkembang menjadi keterampilan dan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.
Potensi kreatif generasi muda perlu diasah melalui kegiatan yang memberi mereka kesempatan untuk belajar, mencoba, dan mengenali beragam jalur di sektor kreatif. Selain membangun keterampilan teknis, kegiatan tersebut dapat membantu pelajar memahami proses kerja, tantangan, serta peluang usaha dan profesi yang tersedia. Paparan langsung pada berbagai bidang juga memperluas wawasan mereka, sehingga pilihan karier tidak hanya terbatas pada pekerjaan yang sudah umum dikenal. Dengan dukungan lingkungan yang tepat, talenta muda dapat mengembangkan minat menjadi kemampuan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Atas dasar itu, Eric mengapresiasi lokakarya film dan fesyen dalam Pusatphoria 2026 yang melibatkan siswa SMK di Jakarta Pusat. Keterlibatan pelajar dalam kegiatan tersebut membuka ruang untuk memperoleh pengalaman belajar yang lebih dekat dengan praktik kreatif. Ia menekankan bahwa siswa perlu belajar langsung dari para praktisi, bukan hanya menerima teori di ruang kelas. Melalui interaksi tersebut, mereka dapat mengenal alur kerja, memahami standar profesional, dan memperoleh gambaran mengenai peluang berkarya maupun berusaha. Lokakarya seperti ini dapat menjadi jembatan pendidikan dan industri, sekaligus mendorong anak muda berani mengembangkan ide. Jika kolaborasi lintas pihak terus diperkuat, ruang belajar dan kesempatan kerja kreatif di Jakarta Pusat berpeluang tumbuh seiring dengan kemampuan talenta mudanya.
Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Pusat, Shinta Nindyawati, menyampaikan bahwa Pusatphoria 2026 dirancang sebagai wadah kolaborasi edukatif sekaligus ruang apresiasi bagi para pelaku industri kreatif. Dua fungsi tersebut menempatkan kegiatan ini sebagai kesempatan untuk mempertemukan unsur pembelajaran dan penghargaan terhadap karya serta proses kreatif. Bagi para pelaku, ruang seperti ini dapat menjadi tempat untuk bertukar gagasan, mengenal perspektif berbeda, dan menunjukkan karya kepada khalayak.
Aspek edukatif dalam kegiatan tersebut memberi ruang bagi interaksi yang mendorong pertukaran pengetahuan di pihak-pihak yang terlibat. Kolaborasi menjadi salah satu unsur penting karena industri kreatif mencakup beragam bidang dan latar belakang. Melalui pertemuan antarpelaku, gagasan dapat dibicarakan bersama, sementara pengalaman yang dimiliki masing-masing peserta menjadi bagian dari proses belajar. Pusatphoria 2026, menurut Shinta, menyediakan wadah untuk membuka interaksi semacam itu.
Di sisi lain, fungsi apresiasi memberi perhatian pada kontribusi pelaku industri kreatif dan hasil kerja mereka. Pengakuan terhadap proses maupun karya merupakan bagian dari upaya menghadirkan ruang yang menghargai kreativitas. Apresiasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan hasil akhir, tetapi juga dapat mengakui beragam pendekatan dan gagasan yang hadir dalam kegiatan. Dengan demikian, ruang apresiasi menjadi salah satu unsur yang melengkapi fungsi pembelajaran dan kolaborasi.
Shinta juga menyatakan komitmen Pemerintah Kota Jakarta Pusat untuk mendukung sektor ekonomi kreatif melalui penyediaan ruang ekspresi, kolaborasi, dan promosi. Dukungan itu mengacu pada kebutuhan pelaku untuk memiliki kesempatan menampilkan kreativitas, berinteraksi, serta memperkenalkan karya. Penyediaan ruang tersebut menjadi bentuk dukungan pemerintah kota yang ia sampaikan, dengan perhatian pada beberapa kebutuhan yang saling berhubungan dalam kegiatan kreatif.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Pusatphoria 2026 diposisikan sebagai bagian dari upaya menyediakan wadah bagi pelaku industri kreatif. Ruang belajar, apresiasi, ekspresi, kolaborasi, dan promosi menjadi unsur yang disebut dalam keterangannya. Fokusnya adalah membuka kesempatan bagi pelaku untuk terlibat dan memperkenalkan kreativitas mereka, tanpa mengesampingkan peran kegiatan sebagai sarana edukatif. Komitmen yang disampaikan Shinta menunjukkan dukungan Pemkot Jakarta Pusat terhadap penyediaan ruang bagi sektor kreatif.
Pusatphoria 2026 diselenggarakan oleh Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Pusat sebagai bagian dari peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah subsektor ekonomi kreatif, yakni musik, fesyen, kuliner, dan film. Ragam tersebut memperlihatkan cakupan bidang yang dapat menjadi ruang berkarya sekaligus peluang pengembangan usaha dan pekerjaan. Dengan melibatkan beberapa subsektor dalam satu kegiatan, Pusatphoria memberikan gambaran tentang beragam bentuk kreativitas yang tumbuh di lingkungan masyarakat. Setiap bidang memiliki karakter dan kebutuhan tersendiri, tetapi seluruhnya bertumpu pada gagasan, keterampilan, serta kemampuan mengolah karya agar memiliki nilai dan dapat menjangkau publik.
Selain menghadirkan ragam subsektor, Pusatphoria 2026 juga menyertakan lokakarya film dan fesyen. Kegiatan pembelajaran ini diikuti 100 peserta, khususnya siswa sekolah menengah kejuruan yang memiliki program keahlian terkait. Keterlibatan pelajar membuat lokakarya relevan sebagai ruang untuk mengenal bidang kreatif yang selaras dengan pendidikan dan keterampilan mereka. Film dan fesyen dipilih sebagai dua ranah yang membuka kesempatan untuk memahami proses kreatif melalui pendekatan yang berbeda. Peserta dapat mengikuti kegiatan sesuai bidang yang dibahas, sementara penyelenggaraan lokakarya menyediakan kesempatan belajar secara langsung dalam kerangka acara ekonomi kreatif.
Kombinasi pengenalan musik, fesyen, kuliner, dan film dengan lokakarya bagi 100 peserta menjadi contoh konkret dukungan terhadap pengembangan ekonomi kreatif di Jakarta Pusat. Pusatphoria tidak hanya memperlihatkan keberagaman subsektor, tetapi juga menyediakan ruang pembelajaran yang melibatkan calon pelaku kreatif, terutama siswa SMK dengan keahlian yang sesuai. Rangkaian kegiatan tersebut menghubungkan perayaan Hari Ekonomi Kreatif Nasional dengan kesempatan untuk mengenali bidang, keterampilan, dan potensi kerja di dalamnya.
Baca juga: Peluang Kerja di Jakarta Pusat: Job Fair 2026 Hadir dengan 44 Perusahaan | Papua Barat Jadi Ruang Pengabdian dan Pengembangan Kepemimpinan Wakapolda Polwan | Ruang Gelap Sebagai Simbol Kesadaran Lingkungan di Jakarta












