banner 728x250

Air Waduk Karian Menyusut, Jejak Kampung Lama di Lebak Kembali Terlihat

Air Waduk Karian Menyusut, Jejak Kampung Lama di Lebak Kembali Terlihat
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Lebak | Kekeringan berkepanjangan yang dikaitkan dengan fenomena El Niño membuat permukaan air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, turun drastis. Ketika air menyusut, bagian waduk yang biasanya berada di bawah genangan mulai terbuka. Di hamparan tanah yang muncul, terlihat kembali sisa-sisa permukiman lama yang sebelumnya ditinggalkan dan digenangi dalam pembangunan bendungan. Pemandangan itu memperlihatkan perubahan bentang alam sekaligus mengingatkan warga pada kampung yang pernah menjadi tempat tinggal mereka.

Salah satu lokasi yang terdampak ialah Kampung Somang, kawasan yang dahulu dikenal padat penduduk. Rumah-rumah dan bangunan lain di sana berada dalam area yang kemudian masuk ke wilayah genangan waduk. Proses pemindahan warga berlangsung sebagai bagian dari persiapan pengisian Bendungan Karian. Warga mulai meninggalkan kampung tersebut pada 2023, ketika kawasan itu disiapkan untuk digenangi. Namun, bangunan di Somang tidak seluruhnya dihancurkan sebelum air waduk naik. Sebagian struktur tetap tertinggal, sehingga kini dapat terlihat kembali ketika permukaan air turun.

banner 325x300

Kemunculan sisa kampung lama bukan berarti kawasan tersebut kembali layak dihuni. Tanah yang terbuka merupakan bagian dari wilayah waduk, dan kondisi permukaan maupun bangunannya dapat berubah seiring naik-turunnya air. Struktur yang lama terendam juga berpotensi rapuh, sehingga warga perlu menjaga jarak dan mengikuti arahan pihak berwenang. Meski begitu, pemandangan tersebut menjadi catatan visual tentang perubahan yang dialami kawasan itu: dari permukiman, menjadi area yang dikosongkan, lalu tertutup air, sebelum kembali tampak saat waduk menyusut.

Turunnya muka air Bendungan Karian juga menyoroti dampak musim kering terhadap waduk dan kehidupan di sekitarnya. El Niño disebut sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kondisi kering berkepanjangan, meski perubahan tinggi air dapat dipengaruhi pula oleh curah hujan, aliran masuk, dan pemanfaatan air. Bagi bekas warga Somang, terlihatnya kembali kampung lama mungkin membawa ingatan tentang rumah dan kehidupan sebelum pemindahan. Bagi masyarakat luas, peristiwa ini menunjukkan bagaimana kondisi cuaca dapat menyingkap jejak masa lalu yang selama bertahun-tahun tersembunyi di bawah permukaan waduk.

Surutnya air Waduk Karian memperlihatkan kembali bagian-bagian Kampung Somang yang selama ini terendam. Pada Juli 2026, deretan rumah lama tampak di permukaan, menyisakan dinding-dinding yang berdiri tanpa atap. Bentuk bangunan yang tersingkap memberi gambaran tentang permukiman yang pernah berada di lokasi tersebut, meski banyak bagiannya telah runtuh atau tertutup lumpur. Dari kejauhan, sisa-sisa tembok terlihat berjajar di hamparan tanah basah, menandai bekas ruang tinggal warga sebelum kawasan itu menjadi bagian dari waduk. Pemandangan ini berubah seiring muka air yang terus turun, sehingga semakin banyak jejak kampung muncul secara bertahap.

Di tengah reruntuhan itu, Masjid Al Mujahidin masih tampak berdiri utuh. Kubah birunya terlihat mencolok di sisa bangunan lain, sementara struktur menaranya masih dapat dikenali. Keberadaan masjid yang tetap tegak menjadi titik perhatian di lokasi bekas Kampung Somang, tempat sebagian rumah hanya menyisakan dinding. Perbedaan kondisi tersebut tampak jelas saat pengunjung melihat masjid dari area sekitar: bangunan ibadah itu masih memiliki bentuk yang relatif lengkap, sedangkan rumah-rumah di sekelilingnya kehilangan atap dan sebagian struktur. Pemandangan tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan lanskap setelah air waduk menyusut, tanpa menghapus sepenuhnya jejak kehidupan lama di kawasan itu.

Maman, warga yang dahulu tinggal di samping masjid, menyampaikan bahwa Masjid Al Mujahidin disebut telah didirikan oleh Abuya sejak zaman Belanda. Ia juga mengatakan bangunan tersebut direnovasi sekitar 15 tahun lalu. Keterangan itu merekam ingatan warga mengenai asal-usul dan perubahan masjid, tetapi tidak dengan sendirinya menjadi kepastian sejarah yang telah diverifikasi. Bagi Maman, masjid tersebut merupakan bagian penting dari kehidupan kampung sebelum rumah-rumah warga ditinggalkan. Cerita yang ia sampaikan memberi konteks lokal pada bangunan yang kini kembali terlihat. Saat air surut, masjid, dinding rumah, serta reruntuhan di sekitarnya menghadirkan potongan lanskap lama Kampung Somang, sekaligus mengingatkan bahwa kawasan waduk pernah menjadi tempat tinggal dan ruang bersama bagi masyarakat setempat.

Surutnya air Waduk Karian tidak hanya memperlihatkan kembali jejak permukiman lama di satu lokasi. Di Kampung Karian, Kampung Susukan, dan Kampung Cibolang, sisa-sisa kawasan yang sebelumnya berada di bawah genangan juga kembali tampak ketika permukaan air turun. Kemunculan itu menghadirkan pemandangan yang mengingatkan warga pada kampung-kampung yang pernah mereka tinggali sebelum pembangunan waduk mengubah bentang wilayah tersebut.

Khusus di Kampung Karian, warga telah mengosongkan kawasan sejak 2021. Sebelum permukiman ditenggelamkan, sebagian material bangunan dibongkar untuk dimanfaatkan kembali. Genteng, kaca, serta kayu yang digunakan sebagai fondasi termasuk bahan yang diambil dari rumah-rumah lama. Langkah itu memungkinkan warga membawa sebagian material yang masih berguna, sementara kawasan tempat tinggal mereka kemudian disiapkan untuk menjadi bagian dari waduk. Saat air menyusut, bekas permukiman yang tersisa kembali terlihat, meski bangunan-bangunan tersebut telah lama ditinggalkan.

Jejak kampung di sekitar waduk juga pernah menjadi latar produksi film. Kampung Somang digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar film horor Jembatan Shiratal Mustaqim pada akhir 2024 hingga awal 2025. Pada masa syuting itu, sebagian rumah di kawasan tersebut sudah mulai terendam. Kondisi kampung yang berada di tepian bendungan memberi latar nyata bagi kegiatan produksi, sekaligus memperlihatkan perubahan lingkungan yang terjadi sejak kawasan itu ditinggalkan.

Maman menyebut bahwa air bendungan sempat sedikit disurutkan untuk mendukung proses syuting. Penyesuaian tersebut membantu kegiatan pengambilan gambar di lokasi yang sebagian telah digenangi air. Warga sekitar danau di Kecamatan Sajira turut dilibatkan dalam produksi, baik sebagai pemeran figuran maupun anggota tim teknis. Keterlibatan mereka memberi kesempatan bagi warga setempat untuk bekerja dalam kegiatan film, sementara lokasi yang dahulu menjadi bagian dari lingkungan hidup mereka kini hadir pula dalam sebuah karya layar lebar.

Bendungan Karian dibangun sebagai proyek infrastruktur penyediaan air yang dirancang untuk melayani kebutuhan sejumlah wilayah di Pulau Jawa. Pembangunannya dimulai pada 2015, sementara peresmiannya dilakukan pada Januari 2024 oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo. Bendungan ini termasuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional. Pelaksanaan proyek tersebut membutuhkan anggaran sebesar Rp2,2 triliun. Infrastruktur dan kawasan genangannya dibangun di Kabupaten Lebak, Banten, dengan kapasitas tampung air mencapai 315 juta meter kubik serta luas genangan 1.773 hektare. Angka-angka itu menggambarkan skala waduk yang kini menjadi bagian dari sistem pengelolaan dan penyediaan air regional.

Fungsi utama Bendungan Karian berkaitan dengan dukungan terhadap kebutuhan air di Banten, DKI Jakarta, dan sebagian wilayah Jawa Barat. Tampungan waduk dirancang untuk menjadi sumber air bagi kawasan-kawasan tersebut. Karena itu, pembangunan bendungan melibatkan penyiapan area yang luas, termasuk pembebasan lahan seluas 2.266,44 hektare. Proses penyiapan kawasan tersebut juga mencakup pemindahan sejumlah fasilitas dan lokasi yang sebelumnya digunakan masyarakat maupun pemerintah. Rincian pemindahan mencakup fasilitas umum, makam, tapak menara listrik, serta lahan milik pemerintah. Perubahan penggunaan lahan berlangsung seiring pembangunan waduk dan pembentukan area genangan sesuai perencanaan proyek.

Dalam pelaksanaan pembebasan lahan, sebanyak 37 fasilitas umum dipindahkan. Fasilitas tersebut meliputi sekolah, masjid, madrasah, majelis, musala, kantor desa, polindes, dan posyandu. Selain itu, sebanyak 13.017 makam dipindahkan dari 54 titik pemakaman umum dan makam keramat.

Baca juga: Kejagung Kembali Lakukan Penggeledahan Terkait Kasus Dugaan Korupsi | Memilih Jalan Damai, Empat Anggota OPM Puncak Jaya Serahkan Senjata kepada Pangkoops TNI Habema dan Kembali ke Masyarakat | Empat Anggota OPM Serahkan Senjata dan Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi

banner 325x300