banner 728x250

BGN Uji Pemantauan Berbasis AI di Puluhan Dapur Program MBG

BGN Uji Pemantauan Berbasis AI di Puluhan Dapur Program MBG
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Badan Gizi Nasional (BGN) menguji penerapan kamera pengawas yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan (AI) di sekitar 70 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Unit-unit tersebut merupakan dapur yang menjalankan layanan Makan Bergizi Gratis (MBG). Uji coba ini menjadi langkah untuk memperkuat pemantauan terhadap pelaksanaan program di tingkat operasional. Melalui teknologi tersebut, BGN ingin mendukung pengawasan yang lebih sistematis di sejumlah lokasi dapur, sekaligus menilai penerapan sistem dalam kegiatan sehari-hari. Pengujian di puluhan SPPG memberi kesempatan bagi badan tersebut untuk melihat pemanfaatan kamera berbasis AI dalam lingkungan layanan pemenuhan gizi.

Kepala BGN Sudaryono menyampaikan keterangan mengenai uji coba tersebut dalam paparan di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, pada Senin, 19 Oktober. Ia menjelaskan bahwa pemantauan berbasis kamera sedang diuji di sekitar 70 dapur MBG. Langkah ini diarahkan untuk memperketat pengawasan pelaksanaan program, sehingga kegiatan di SPPG dapat dipantau dengan dukungan teknologi. Penyampaian tersebut menempatkan uji coba sebagai bagian dari upaya BGN memperkuat kendali atas pelaksanaan layanan, bukan sekadar penambahan perangkat di lokasi dapur. Jumlah lokasi yang disebutkan juga menunjukkan cakupan awal pengujian, sementara keterangan yang tersedia belum merinci tahapan penerapan selanjutnya.

banner 325x300

Integrasi AI pada kamera pengawas berpotensi membantu proses pemantauan dengan mengolah informasi visual yang terekam, namun uji coba tetap diperlukan untuk menilai kegunaan dan kecocokannya dengan kebutuhan lapangan. Bagi BGN, perhatian utamanya adalah memastikan pengawasan terhadap operasional dapur MBG semakin ketat. Hasil pengujian di sekitar 70 SPPG dapat menjadi bahan evaluasi sebelum menentukan bagaimana teknologi tersebut akan digunakan lebih luas. Dengan demikian, penerapan kamera berbasis AI masih berada pada tahap uji coba, dan keterangan Sudaryono menegaskan tujuan utamanya: memperkuat pemantauan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di berbagai dapur layanan.Badan Gizi Nasional (BGN) menguji pemantauan berbasis kecerdasan buatan dengan menghubungkan rekaman kamera pengawas di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke pusat pemantauan. Uji coba ini direncanakan berlangsung di puluhan dapur. Rekaman CCTV yang diterima secara terpusat akan dilengkapi teknologi AI untuk membantu petugas mengamati pelaksanaan standar operasional prosedur (SOP). Sistem tersebut ditujukan sebagai alat bantu pengawasan, sehingga proses kerja di dapur dapat ditinjau lebih konsisten tanpa hanya mengandalkan pemeriksaan langsung.

Ruang lingkup pemantauan mencakup berbagai tahapan, mulai dari pengelolaan bahan dan persiapan makanan, proses pengolahan serta penyajian, hingga pencucian ompreng setelah digunakan. Pengawasan juga dapat memperhatikan perilaku karyawan ketika bekerja, termasuk apakah aktivitas mereka mengikuti ketentuan yang berlaku. Dengan cakupan tersebut, rekaman diharapkan memberi gambaran mengenai praktik operasional sehari-hari, bukan sekadar kondisi dapur pada satu waktu tertentu. Pemantauan tetap perlu mengacu pada SOP yang jelas agar temuan dapat ditafsirkan secara tepat dan ditindaklanjuti secara proporsional.

Sudaryono memberi contoh bahwa sistem dapat membantu memastikan persiapan makanan berlangsung di tempat yang semestinya. Penempatan kegiatan sesuai ketentuan penting untuk menjaga keteraturan alur kerja dan mendukung penerapan standar kebersihan. Apabila rekaman menunjukkan aktivitas yang diduga tidak sesuai, teknologi dapat membantu menandai bagian yang perlu diperiksa lebih lanjut oleh petugas. Dengan demikian, AI tidak diposisikan sebagai pengganti penilaian manusia, melainkan sebagai sarana untuk mempercepat peninjauan dan mengarahkan perhatian pada kemungkinan masalah. Verifikasi tetap dibutuhkan sebelum suatu kejadian dinilai sebagai pelanggaran.

BGN berharap sistem ini dapat membantu menemukan indikasi pelanggaran SOP secara lebih dini dan mendorong perbaikan di dapur MBG. Informasi dari pemantauan dapat menjadi dasar untuk memberikan arahan, melakukan pembinaan, atau meninjau kembali prosedur kerja apabila diperlukan. Hasil pengujian juga dapat menunjukkan apakah kamera dan teknologi analisis mampu mendukung pengawasan secara praktis di berbagai lokasi. Keberhasilan penerapan akan bergantung pada mutu rekaman, ketepatan analisis, kejelasan standar, serta tindak lanjut yang konsisten. Melalui pendekatan tersebut, pemantauan diharapkan berkontribusi pada proses penyediaan makanan yang lebih tertib dan sesuai ketentuan.

Dapur-dapur yang menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada dasarnya telah dilengkapi kamera pengawas atau CCTV. Keberadaan perangkat tersebut menyediakan sumber rekaman yang dapat membantu pemantauan kegiatan di dapur. Namun, hingga kini rekaman dari kamera-kamera itu belum dimanfaatkan secara terhubung oleh pihak internal program. Dengan demikian, tersedianya CCTV di lokasi belum otomatis berarti bahwa rekaman dapat dipantau bersama melalui suatu sistem yang menghubungkan dapur-dapur terkait.

Dalam keterangan Sudaryono setelah rapat koordinasi, Badan Gizi Nasional (BGN) menjelaskan upaya untuk mengoneksikan kamera yang sudah tersedia di sejumlah dapur MBG. Pendekatan ini bertumpu pada pemanfaatan perangkat yang telah terpasang, bukan pada pengadaan perangkat baru secara besar-besaran. Fokusnya adalah menghubungkan sumber rekaman yang ada agar dapat mendukung kebutuhan pemantauan program secara lebih terpadu. Langkah tersebut juga menunjukkan bahwa kesiapan perangkat di lapangan dapat menjadi titik awal bagi upaya pengawasan yang lebih terkoordinasi.

Pemanfaatan CCTV yang sudah ada dapat membantu BGN membangun pemantauan berbasis AI tanpa menganggap bahwa setiap dapur harus terlebih dahulu dilengkapi kamera baru. Sebelum rekaman dapat digunakan secara terhubung, hubungan perangkat dan pihak internal program perlu diupayakan. Keterangan tersebut menekankan arah kerja BGN, yaitu memaksimalkan infrastruktur yang telah tersedia di dapur MBG. Informasi yang disampaikan setelah rapat koordinasi itu tidak menetapkan besaran biaya, jadwal penerapan, ataupun rincian teknis penghubungan kamera. Karena itu, hal-hal tersebut tidak dapat disimpulkan hanya dari penjelasan mengenai rencana konektivitas. Bagi pelaksanaan program, pembedaan ini penting: keberadaan CCTV merupakan kondisi awal, sedangkan pemanfaatan rekamannya secara terhubung merupakan upaya yang sedang dikembangkan. Dengan mengutamakan integrasi perangkat yang ada, BGN berupaya memperluas fungsi kamera dari pengawasan setempat menjadi bagian dari pemantauan internal program, tanpa menyatakan bahwa seluruh proses atau sistem telah berjalan sepenuhnya.

Akses terhadap rekaman CCTV di dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi dibuka secara terbatas untuk mendukung pengawasan. Namun, rencana tersebut perlu dirancang dengan mempertimbangkan keamanan, perlindungan informasi, serta tujuan penggunaan rekaman. Pembatasan dapat mencakup siapa yang berhak melihat, dalam kondisi apa akses diberikan, dan bagaimana rekaman dikelola. Dengan pengaturan yang jelas, keterbukaan dapat membantu memperkuat akuntabilitas tanpa mengabaikan risiko penyalahgunaan atau penyebaran informasi yang tidak semestinya.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebut kepala sekolah, guru, dan orang tua siswa sebagai contoh pihak yang dapat diberi akses. Pelibatan mereka dinilai dapat membantu memantau pelaksanaan program dan memberi perhatian pada proses penyediaan makanan bagi siswa. Gagasan ini sejalan dengan dukungan Sudaryono terhadap keterbukaan informasi dan partisipasi publik. Meski demikian, bentuk aksesnya tetap perlu disesuaikan dengan ketentuan keamanan dan mekanisme pengawasan yang berlaku, agar rekaman digunakan untuk keperluan yang tepat.

Pelibatan masyarakat juga berkaitan dengan layanan Radar MBG, yang memungkinkan masyarakat mengetahui menu harian, kandungan gizi, serta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasak makanan berdasarkan nama sekolah. Informasi tersebut memberi gambaran mengenai layanan yang diterima siswa, sementara rekaman CCTV dapat membantu meninjau proses di dapur. Keduanya memiliki fungsi yang saling melengkapi: Radar MBG menyajikan informasi mengenai menu dan penyedia, sedangkan CCTV diharapkan mendukung pengawasan atas kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) dan pelaksanaan program. Integrasi pemantauan berbasis AI dengan akses publik yang terbatas dapat memperluas pengawasan, asalkan tata kelola, keamanan, dan tanggung jawab setiap pihak ditetapkan dengan cermat.

Baca juga: Puluhan Calon Mahasiswa Amik Taruna Ikuti Pembekalan Wawasan Kebangsaan dari TNI | Program Pariwisata Aman untuk Menghadapi Risiko Kebakaran di Bromo

banner 325x300