banner 728x250

Doa Ayah di Malam Sunyi: Cinta yang Tak Riuh, Tapi Setia Menjaga

Doa Ayah di Malam Sunyi: Cinta yang Tak Riuh, Tapi Setia Menjaga
banner 120x600
banner 468x60

Investigasi88.com– Di tengah sunyi malam, ketika dunia perlahan meredup dan hiruk-pikuk siang berganti dengan keheningan, ada doa-doa yang dilantunkan tanpa suara. Doa seorang ayah. Tanpa sorotan, tanpa pujian, tanpa harapan diketahui siapa pun selain Tuhan.

Seorang ayah kerap kali tidak pandai mengekspresikan cinta lewat pelukan atau kata-kata manis. Cintanya hadir dalam bentuk yang paling sunyi: kerja keras yang tak banyak diceritakan, lelah yang disimpan sendiri, serta doa-doa yang tak pernah absen dalam setiap sujud.

banner 325x300

“Maafkan ayah, nak, jika belum mampu menjadi seperti yang kau harapkan,” begitu kira-kira isi doa yang mengalir lirih. Sebuah pengakuan sederhana, namun sarat makna. Di balik kalimat itu tersimpan kegelisahan seorang ayah yang merasa belum sempurna, namun tak pernah berhenti berusaha.

Bagi seorang ayah, perjuangan bukan sekadar tentang memenuhi kebutuhan hidup. Setiap peluh yang jatuh, setiap langkah yang terasa berat, adalah bentuk tanggung jawab yang dijalani dengan sepenuh hati. Walau jalan hidup tak selalu lapang, ayah percaya setiap lelah adalah bagian dari cinta.

Di dalam doa-doanya, ayah tidak meminta kemewahan untuk dirinya. Ia justru memohon agar anak-anaknya kelak memperoleh rezeki yang luas, kehidupan yang lebih baik, serta masa depan yang jauh lebih indah dari apa yang pernah ia jalani. Harapan itu sederhana, tetapi tulus: anak-anaknya hidup bahagia dan bermakna.

Seiring waktu berjalan, usia pun tak bisa diajak bernegosiasi. Langkah ayah perlahan tak lagi setegap dahulu. Tenaga yang dulu kuat kini mulai terbatas. Namun, keinginan ayah tetap sama—tak berubah oleh usia. Ia hanya ingin tetap diingat, disapa, dan didoakan.

Ketika suatu hari ayah lebih banyak diam, itu bukan pertanda menjauh. Diamnya adalah bentuk penerimaan, upaya berdamai dengan waktu yang terus bergerak maju. Ayah memahami, dunia anak-anaknya akan terus meluas, sementara dunianya sendiri perlahan menyempit.

Di masa tua nanti, doa ayah justru semakin sederhana. Ia tak meminta balasan apa pun. Cukup satu hal: anak-anaknya hidup dalam kebaikan, dan namanya masih disebut dalam doa-doa mereka. Bukan karena ayah merasa berjasa besar, tetapi karena ia pernah berjuang sekuat yang ia mampu.

Harapan ayah bukan tentang harta atau jabatan. Ia ingin anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang berhasil dengan jalan yang diridhai Allah. Berhasil di dunia, namun tetap selamat di akhirat. Mengangkat nama orang tua bukan lewat kemewahan, melainkan lewat akhlak, doa tulus, dan amal baik yang terus mengalir.

Dalam sunyi malam, doa-doa itu terus terucap. Tak terdengar, tak tercatat, namun diyakini tak pernah sia-sia. Sebab cinta seorang ayah memang jarang riuh—namun selalu setia menjaga.

By: Edi D

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *