banner 728x250

SDN Sebaung 1 Kembangkan Pembiasaan Literasi Budaya Tanah Air untuk Pembentukan Karakter Siswa

SDN Sebaung 1 Kembangkan Pembiasaan Literasi Budaya Tanah Air untuk Pembentukan Karakter Siswa
banner 120x600
banner 468x60

Probolinggo – SDN Sebaung 1 Kecamatan Gending terus berkomitmen menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik melalui kegiatan Pembiasaan Literasi Budaya Tanah Air (PELITA), Rabu (4/2/2026). Program ini menjadi bagian dari proses pembelajaran yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter melalui seni dan budaya.

Kegiatan ini dihadiri oleh Camat Gending Winda Permata Erianti, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo Akhmad Arief Hermawan CM serta sejumlah pemerhati budaya.

banner 325x300

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa dari berbagai jenjang kelas. Uniknya, masing-masing kelas mendapat giliran untuk menampilkan beragam bentuk ekspresi budaya, mulai dari tari tradisional, lagu daerah, permainan khas Nusantara, pantomim hingga pertunjukan teater mini.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa juga turut menempelkan hasil karya bertema budaya daerah, baik berupa gambar, tulisan maupun kerajinan tangan yang merepresentasikan kekayaan seni dan tradisi lokal. Hal ini menjadi salah satu cara siswa untuk mengekspresikan kreativitas dan pemahaman mereka terhadap warisan budaya Indonesia.

Kepala SDN Sebaung 1 Irawan menyampaikan literasi budaya tanah air merupakan proyeksi pembelajaran jangka panjang yang dirancang untuk membentuk kepribadian siswa secara utuh.

“Kegiatan literasi budaya tanah air atau PELITA ini merupakan proyeksi pembelajaran. Kami tidak hanya menciptakan anak-anak yang cerdas secara akademik, tetapi yang utama adalah membentuk karakter anak-anak,” ujarnya.

Menurut Irawan, melalui literasi budaya, nilai-nilai seperti tanggung jawab, kreativitas, komunikasi dan kerja sama dapat tumbuh secara alami melalui aktivitas seni yang dilakukan secara berkelanjutan.

“Melalui literasi budaya ini terjadi proses pembentukan karakter. Di dalamnya ada unsur tanggung jawab, kreativitas, komunikasi serta kerja sama. Itu semua sejatinya adalah bagian dari pembelajaran,” jelasnya.

Selain membentuk karakter, budaya juga menjadi penyemangat dalam proses belajar mengajar. Suasana belajar yang menyenangkan membuat siswa lebih betah di sekolah dan meningkatkan motivasi belajar.

“Dengan budaya, anak-anak merasa senang. Belajar pun menjadi menyenangkan. Anak-anak menjadi kerasan di sekolah dan rasa senang serta bahagia itu akan menambah semangat belajar mereka,” terangnya.

Irawan menegaskan kegiatan literasi budaya di SDN Sebaung 1 dilaksanakan di luar jam pelajaran sehingga tidak mengganggu proses belajar formal. Keberhasilan program ini juga tidak terlepas dari dukungan penuh para guru dan orang tua siswa. “Kegiatan latihan dilakukan di luar jam pelajaran. Di sini peran orang tua sangat besar, dituntut untuk memahami dan mendukung kegiatan anak-anak,” tegasnya.

Dukungan orang tua tidak hanya sebatas izin, tetapi juga bantuan fasilitas, mulai dari penyediaan kostum hingga pembiayaan penampilan seni. “Orang tua sangat luar biasa dukungannya, mulai dari membantu menyiapkan kostum, menyewa seragam hingga membiayai anak-anak agar bisa tampil dengan baik. Berkat dukungan itu, literasi budaya di SDN Sebaung 1 bisa berjalan lancar selama kurang lebih satu tahun,” tuturnya.

Melalui kegiatan rutin tersebut, Irawan berharap seluruh siswa dapat menyalurkan kreativitas dan mengembangkan bakat seni yang dimiliki secara optimal. “Melalui kegiatan mingguan ini, semua anak bisa tampil maksimal untuk menunjukkan kreativitas dan bakat-bakat seni yang mereka miliki,” tambahnya.

Sementara Camat Gending Winda Permata Erianti mengapresiasi pelaksanaan sosialisasi literasi budaya yang digelar di SDN Sebaung 1. Kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam menanamkan kecintaan terhadap seni dan budaya sejak usia dini. “Anak didik kita, generasi penerus kita, khususnya sejak tingkat sekolah dasar, memang harus mulai diajari dan dikenalkan dengan seni dan budaya,” ungkapnya.

Winda menilai Irawan sebagai sosok penggiat seni dan budaya yang aktif di Kecamatan Gending. Ia tergabung dalam komunitas Pemerhati Seni dan Budaya Kecamatan Gending yang turut berperan dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Selain itu, Kecamatan Gending memiliki Sanggar Seni Sendratari Trigerta yang berlokasi di Balai Desa Sumber Kerang sebagai wadah pelestarian seni budaya tradisional.

“Seni ini berkaitan dengan pengaktifan otak kanan anak-anak. Dari seni akan muncul kreativitas, inovasi serta bakat-bakat seni yang memang harus mulai digalakkan sejak tingkat SD. Semoga kegiatan serupa dapat diterapkan di sekolah-sekolah lain, mulai dari SD hingga SMA sebagai upaya pelestarian budaya lokal,” harapnya.

Sedangkan Kepala Bidang Kebudayaan Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Akhmad Arief Hermawan CM mengatakan pemajuan kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Hal tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. “Artinya, pemajuan kebudayaan itu tidak bisa dilepaskan dari dunia pendidikan,” katanya.

Ia mengapresiasi langkah SDN Sebaung 1 yang telah memberikan ruang dan dorongan kepada peserta didik untuk berkreasi melalui kegiatan literasi budaya dan seni. Apa yang ditampilkan para siswa merupakan bagian dari kebudayaan daerah Kabupaten Probolinggo.

“Saya memberikan apresiasi kepada SDN Sebaung 1 yang sudah mengawali pemajuan kebudayaan dengan memberikan ruang gerak kepada anak-anak untuk berkreasi. Tadi saya melihat ada tari, permainan-permainan tradisional dan kegiatan lain yang merupakan bagian dari kebudayaan daerah Kabupaten Probolinggo,” lanjutnya.

Arief berharap kegiatan serupa tidak hanya dilaksanakan di SDN Sebaung 1, tetapi juga dapat diterapkan di satuan pendidikan lain yang berada di bawah kewenangan Pemerintah Kabupaten Probolinggo.

“Saya berharap ini tidak hanya ada di SDN Sebaung 1, tetapi bisa dilakukan di satuan pendidikan lainnya, baik TK, SD maupun SMP yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Probolinggo,” terangnya.

Lebih lanjut Arief menegaskan Pemerintah Kabupaten Probolinggo telah menyusun Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang mencakup sepuluh objek pemajuan kebudayaan, termasuk kebudayaan lokal.

“Kami sudah menyusun Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah untuk sepuluh objek pemajuan kebudayaan. Dengan PPKD yang sudah tersusun, kami akan melakukan sosialisasi ke satuan pendidikan, sehingga sekolah-sekolah bisa menjadi bagian dari upaya pelestarian kebudayaan,” tambahnya.

Selain itu, Arief menuturkan Bidang Kebudayaan juga terus mendorong pemajuan kebudayaan melalui berbagai kegiatan dan peringatan, salah satunya pada momentum Hari Pendidikan Nasional.

“Kami juga mendorong dalam berbagai event, termasuk mudah-mudahan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional nanti, bisa dimunculkan lomba atau pertandingan permainan tradisional sebagai bentuk dukungan terhadap pemajuan kebudayaan,” tegasnya.

Ke depan, pemajuan kebudayaan juga akan terus didorong melalui berbagai momentum, termasuk peringatan Hari Pendidikan Nasional. “Mudah-mudahan nanti bisa dimunculkan lomba atau pertandingan permainan tradisional sebagai bentuk dukungan terhadap pemajuan kebudayaan,” pungkasnya.(Bambang)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *