banner 728x250

Kericuhan Demo di Yogyakarta Berlanjut hingga Dini Hari, Massa Bertahan di Tugu

Kericuhan Demo di Yogyakarta Berlanjut hingga Dini Hari, Massa Bertahan di Tugu
banner 120x600
banner 468x60

Yogyakarta | Kericuhan dalam aksi di Yogyakarta berlanjut hingga Kamis dini hari, 29 Oktober 2026. Setelah situasi di sekitar Malioboro dikendalikan, massa bergerak menuju kawasan Tugu Yogyakarta. Perpindahan tersebut menandai berlanjutnya dinamika aksi di sejumlah titik kota pada malam itu. Hingga sekitar pukul 00.29 WIB, massa yang berada di kawasan Tugu belum membubarkan diri. Informasi yang tersedia menyebut massa masih bertahan, bukan seluruh peserta aksi. Karena itu, perkembangan ini perlu dipahami secara terbatas pada kelompok yang tetap berada di lokasi tersebut. Kondisi di kawasan Tugu menjadi perhatian setelah kericuhan sebelumnya terjadi di sekitar Malioboro.

Urutan peristiwa menunjukkan bahwa situasi tidak langsung berakhir ketika keadaan di Malioboro dikendalikan. Massa kemudian bergerak ke area Tugu, dan keberadaan mereka masih tercatat pada lewat tengah malam. Tidak ada keterangan dalam informasi yang disampaikan mengenai jumlah orang yang bertahan, alasan mereka memilih lokasi itu, ataupun keputusan lebih lanjut terkait aksi. Rincian tersebut tidak dapat dipastikan dari perkembangan yang tersedia. Dengan demikian, laporan mengenai perpindahan massa sebaiknya tidak ditafsirkan sebagai gambaran bahwa semua orang yang mengikuti aksi bergerak bersama atau tetap berada di sana. Yang dapat dipastikan adalah adanya massa yang belum membubarkan diri hingga waktu pemantauan tersebut.

banner 325x300

Perkembangan dari Malioboro menuju Tugu memperlihatkan bahwa pemantauan situasi perlu mencakup lebih dari satu kawasan. Waktu sekitar 00.29 WIB memberikan batas informasi yang jelas: pada saat itu, massa masih bertahan di sekitar Tugu Yogyakarta. Belum ada keterangan lebih jauh dalam informasi yang menjadi dasar bagian ini mengenai kapan mereka meninggalkan lokasi atau bagaimana situasi setelahnya. Oleh sebab itu, kondisi tersebut tidak dapat digambarkan sebagai keadaan yang terus berlangsung setelah waktu itu. Pembaruan berikutnya diperlukan untuk memastikan perubahan situasi, termasuk apakah massa akhirnya membubarkan diri. Untuk sementara, inti peristiwa adalah kericuhan yang berlanjut hingga dini hari, disusul pergerakan dari Malioboro dan keberadaan sebagian massa di kawasan Tugu.

Situasi di sekitar Tugu Yogyakarta berlangsung tegang hingga dini hari ketika massa masih bertahan di kawasan tersebut. Dalam kerumunan, sejumlah orang melempar batu dan menembakkan kembang api. Aksi itu terjadi saat aparat kepolisian berupaya membubarkan massa. Gambaran di lokasi memperlihatkan dua tindakan yang berlangsung berhadapan: sebagian massa melakukan pelemparan dan menyalakan kembang api, sementara polisi bergerak dengan perlengkapan pengendalian massa. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari kericuhan yang berlanjut di sekitar Tugu, sebagaimana situasi yang berlangsung pada malam hingga dini hari.

Polisi terlihat mengenakan perlengkapan antihuru-hara dan membawa tameng saat menghadapi kerumunan. Perlengkapan tersebut digunakan ketika aparat berusaha mendorong massa agar meninggalkan area. Di tengah upaya pembubaran itu, batu dilemparkan dari arah massa dan kembang api ditembakkan. Uraian ini mencatat tindakan yang terlihat di lokasi tanpa menyimpulkan alasan setiap tindakan atau mengaitkannya dengan pihak tertentu di luar informasi yang tersedia. Aparat kemudian menembakkan gas air mata sebagai bagian dari upaya memukul mundur massa. Langkah tersebut berlangsung dalam rangkaian situasi yang sama, ketika massa masih berada di sekitar Tugu.

Dengan demikian, kondisi di kawasan itu ditandai oleh upaya polisi membubarkan kerumunan serta aksi massa berupa pelemparan batu dan penembakan kembang api. Petugas menggunakan tameng dan perlengkapan antihuru-hara, lalu menembakkan gas air mata untuk memukul mundur massa. Sementara itu, massa bertahan di area Tugu hingga dini hari. Rangkaian peristiwa tersebut menggambarkan ketegangan aparat dan kerumunan, tanpa mengubahnya menjadi keterangan mengenai dampak atau kejadian lain yang tidak disebutkan. Informasi yang tersedia berfokus pada tindakan kedua pihak di lokasi: aparat berupaya membubarkan massa, sedangkan sebagian orang dalam kerumunan melempar batu dan menembakkan kembang api.

Kericuhan di sekitar Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Rabu, 28 Oktober 2026, berlangsung setelah aksi yang digelar sejak siang. Pada tahap awal, demonstrasi berjalan damai. Peserta menyampaikan aspirasi di lokasi tanpa bentrokan, sementara kegiatan berlangsung hingga sore. Situasi kemudian berubah sekitar pukul 18.00 WIB, ketika sebagian massa kembali berada di sekitar gedung dewan setelah aksi dinyatakan bubar. Perubahan ini menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang berujung pada bentrokan dengan aparat.

Usai kegiatan siang itu, peserta tidak bergerak dalam satu kelompok dengan tujuan yang sama. Sebagian memilih meninggalkan lokasi dan kembali ke kampus masing-masing. Sementara itu, sebagian lainnya bergerak ke arah utara, menuju Gedung DPRD DIY. Pergerakan tersebut terjadi setelah aksi utama bubar, sehingga situasi di sekitar gedung dewan kembali ramai. Dengan demikian, kericuhan bukan terjadi pada awal demonstrasi, melainkan setelah rangkaian aksi siang hari berakhir dan sebagian peserta berpindah ke kawasan gedung dewan.

Sekitar pukul 18.00 WIB, massa yang berada di sekitar Gedung DPRD DIY berhadapan dengan aparat. Bentrokan kemudian terjadi di kawasan tersebut. Urutan kejadian ini menunjukkan adanya perbedaan kondisi aksi pada siang hari dan situasi menjelang malam: demonstrasi semula berlangsung damai, lalu muncul ketegangan setelah sebagian peserta bergerak kembali ke utara. Informasi mengenai urutan itu penting untuk memahami bahwa kericuhan merupakan perkembangan setelah aksi utama bubar, bukan gambaran keseluruhan demonstrasi sejak awal. Peristiwa di sekitar gedung dewan menjadi bagian dari rangkaian yang kemudian berlanjut, ketika massa masih bertahan di kawasan Tugu hingga dini hari.

Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan menjelaskan bahwa polisi berupaya mendorong massa menjauh dari kawasan Malioboro saat kericuhan berlangsung. Menurut keterangan Ihsan, situasi di Malioboro dapat dikuasai kembali sekitar pukul 22.00 WIB. Setelah kondisi di kawasan tersebut terkendali, polisi kemudian mengarahkan massa yang disebutnya tidak dikenal untuk bergerak menuju Tetek, yakni kawasan Stasiun Tugu Yogyakarta. Penjelasan itu menggambarkan langkah aparat dalam menggeser kerumunan dari Malioboro, bukan keterangan mengenai identitas ataupun tujuan orang-orang yang berada di dalamnya.

Upaya mendorong massa tidak berhenti setelah mereka bergerak dari Malioboro. Ihsan menyebut pelemparan masih terjadi, sehingga polisi kembali mendorong massa menjauh. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa menurut Polda DIY, situasi belum sepenuhnya selesai setelah kawasan Malioboro dikuasai kembali. Aparat terus melakukan langkah pengendalian ketika pelemparan masih berlangsung, dengan mendorong kerumunan ke lokasi lain. Ihsan tidak menyampaikan identitas maupun motif massa dalam penjelasan yang dirujuk, sehingga informasi mengenai hal tersebut tidak dapat ditambahkan berdasarkan keterangan ini.

Dalam urutan lokasi yang disampaikan, massa sebelumnya disebut berada di sekitar Mangkubumi, kemudian bergerak menuju Tetek atau Stasiun Tugu, dan lokasi terakhir yang disebut Ihsan adalah sekitar Tugu Yogyakarta. Keterangan itu menempatkan Tugu sebagai titik terakhir dalam upaya polisi mendorong massa menjauh dari Malioboro. Perkembangan tersebut juga menjelaskan mengapa situasi di sekitar Tugu masih menjadi perhatian setelah kondisi di Malioboro dinyatakan dapat dikuasai kembali sekitar pukul 22.00 WIB. Ihsan menyampaikan pergerakan dan langkah aparat tersebut sebagai bagian dari upaya mengendalikan situasi, sementara pelemparan yang masih berlangsung mendorong polisi melakukan penggeseran massa kembali.

Baca juga: Aksi Buruh: Memahami Tuntutan Demo Hari Ini

banner 325x300