banner 728x250

Sherina Munaf Angkat Keresahan soal PHK dalam Film Filosofi Teras

Sherina Munaf Angkat Keresahan soal PHK dalam Film Filosofi Teras
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Filosofi Teras mengangkat kehidupan generasi sandwich, kelompok yang kerap berada di tanggung jawab merawat orang tua dan memenuhi kebutuhan keluarga sendiri. Dalam drama keluarga ini, tekanan hidup hadir melalui persoalan sehari-hari yang dekat dengan masyarakat urban: tuntutan pekerjaan, kondisi ekonomi, relasi antargenerasi, serta upaya menjaga keseimbangan di tengah berbagai kewajiban. Ceritanya menyoroti bagaimana beban tersebut dapat memengaruhi keputusan dan hubungan di dalam keluarga.

Alih-alih hanya menggambarkan kesulitan, film ini merangkai pengalaman pahit dan manis yang menyertai perjalanan para tokohnya. Pergulatan menghadapi masalah, mencari jalan keluar, dan mempertahankan harapan menjadi bagian dari kisah generasi sandwich yang berusaha menjalani hidup dengan segala keterbatasannya. Latar masyarakat perkotaan memberikan konteks bagi tekanan yang mereka hadapi, sekaligus memperlihatkan bahwa persoalan keluarga dapat berkelindan dengan tuntutan sosial dan pekerjaan. Pendekatan drama keluarga ini membuat isu tersebut hadir melalui pengalaman personal, bukan semata sebagai gambaran umum.

banner 325x300

Nilai-nilai stoik turut dikemas dalam alur cerita, terutama gagasan untuk membedakan hal yang dapat dikendalikan dari hal yang berada di luar kendali. Dalam menghadapi tekanan, sudut pandang itu dapat menjadi cara untuk memahami keadaan dan meresponsnya dengan lebih bijak. Film ini menyandingkan gagasan tersebut dengan kenyataan bahwa perubahan tidak selalu mudah, terlebih ketika seseorang memikul tanggung jawab untuk beberapa generasi sekaligus. Perpaduan tema keluarga, tekanan hidup, dan pemikiran stoik menjadi landasan kisah yang relevan bagi penonton yang akrab dengan dinamika kehidupan urban.

MD Pictures merilis poster terbaru Filosofi Teras di MD Place Tower, Jakarta, pada Selasa (27/10). Peluncuran poster tersebut memperkenalkan tampilan terbaru film sekaligus menandai langkah menuju penayangannya di layar lebar. Filosofi Teras dijadwalkan hadir di bioskop mulai 24 Desember 2026. Dengan mengangkat pengalaman generasi sandwich melalui kisah pahit-manis dan nilai-nilai stoik, film ini menghadirkan drama keluarga tentang upaya menghadapi tekanan hidup serta mencari pijakan di tengah tanggung jawab yang terus berjalan.

Dalam film Filosofi Teras, Sherina Munaf memerankan Nea, anak tengah yang harus ikut memikul beban ekonomi keluarga setelah ayahnya meninggal. Perubahan besar itu menempatkan Nea pada keadaan yang menuntutnya untuk bertahan sekaligus membantu orang-orang terdekat. Ia bukan hanya menghadapi kehilangan sosok ayah, tetapi juga harus memikirkan keberlangsungan hidup keluarga di tengah kondisi yang tidak pasti. Peran tersebut membawa persoalan yang dekat dengan pengalaman banyak orang: tekanan untuk tetap bekerja dan memenuhi kebutuhan ketika tanggung jawab bertambah.

Dalam sesi tanya jawab mengenai film tersebut, Sherina ditanya tentang ketakutan Nea terhadap ancaman layoff atau pemutusan hubungan kerja yang terlihat dalam trailer. Pertanyaan itu juga menghubungkan kisah Nea dengan kenyataan para pekerja yang kehilangan pekerjaan, terutama ketika pekerjaan menjadi sumber utama penghasilan bagi diri sendiri maupun keluarga. Sherina tidak ingin membocorkan alur cerita lebih jauh. Namun, ia membenarkan bahwa kemungkinan kehilangan pekerjaan memang menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi Nea dalam perjalanan hidupnya.

Sherina menggambarkan perjalanan Nea sebagai rangkaian berbagai tantangan dan guncangan hidup. Ancaman kehilangan pekerjaan menjadi salah satu bagian dari tekanan tersebut, bukan satu-satunya masalah yang membentuk kisahnya. Bagi Nea, ketidakpastian soal pekerjaan berkelindan dengan duka, tanggung jawab keluarga, dan kebutuhan untuk menentukan langkah berikutnya. Situasi itu membuat persoalannya terasa relevan bagi penonton yang pernah menghadapi perubahan mendadak dalam kehidupan kerja. Film ini menghadirkan kecemasan tersebut melalui pengalaman seorang tokoh, tanpa perlu mengungkap seluruh perkembangan ceritanya. Dengan demikian, peran Sherina sebagai Nea memperlihatkan bagaimana persoalan ekonomi dapat menjadi beban emosional sekaligus ujian bagi seseorang yang berusaha menopang keluarga. Ketegangan yang tersirat dalam trailer memberi gambaran mengenai salah satu sumber keresahan tokoh, sementara kisah lengkapnya tetap disimpan untuk dinikmati saat film ditonton.

Sherina Munaf menyoroti bahwa keresahan yang diangkat dalam Filosofi Teras tidak hanya hadir sebagai bagian dari cerita film, tetapi juga terasa dekat dengan keadaan masyarakat saat ini. Ia memandang situasi pemutusan hubungan kerja sebagai hal yang memprihatinkan, terutama karena dampaknya tidak terbatas pada orang-orang yang kurang memiliki pengalaman atau kemampuan. Banyak pekerja dengan pendidikan tinggi, ijazah yang baik, serta keterampilan dan potensi yang cemerlang juga dapat kehilangan pekerjaan di tengah kondisi yang sulit.

Menurut Sherina, kenyataan tersebut patut menjadi perhatian bersama. Ketika orang-orang yang telah berusaha membangun kompetensi dan menyiapkan masa depan tetap menghadapi ketidakpastian, dampak layoff dapat meluas hingga memengaruhi rasa aman, rencana hidup, dan kondisi keluarga. Ia berharap keadaan dapat berangsur membaik apabila berbagai pihak tidak memilih diam. Suara masyarakat, respons dari pihak-pihak terkait, dan ruang untuk membicarakan persoalan secara terbuka dinilai penting agar keresahan ini mendapat perhatian dan dapat ditanggapi dengan lebih serius.

Dalam menyampaikan pandangannya, Sherina juga mengakui batas pengalamannya sendiri. Ia tidak berada dalam posisi yang sama dengan orang-orang yang terdampak langsung, sehingga tidak merasa pantas menganggap dirinya memahami sepenuhnya apa yang mereka alami. Kepada hadirin yang memiliki keresahan serupa atau pernah mengalami layoff, ia menyampaikan empati dan mengakui bahwa dirinya bahkan tidak tahu harus berkata apa. Sikap itu menunjukkan bahwa dukungan tidak selalu harus disampaikan melalui nasihat panjang; mendengarkan dan mengakui beratnya pengalaman seseorang pun dapat menjadi bentuk kepedulian.

Harapan Sherina agar lebih banyak orang terus bersuara bukan berarti semua persoalan dapat segera diselesaikan. Namun, percakapan yang terbuka dapat membantu pengalaman para pekerja terdampak tidak terabaikan, sekaligus mendorong masyarakat memahami bahwa kehilangan pekerjaan bukan sekadar angka atau kabar singkat. Di baliknya ada individu dengan kemampuan, keluarga, dan rencana yang ikut terdampak. Dengan memberi ruang bagi cerita mereka, serta merespons secara empatik dan konstruktif, publik dapat ikut menjaga perhatian terhadap persoalan ini. Bagi Sherina, kesadaran bersama dan kemauan untuk berdiskusi menjadi bagian dari harapan bahwa kondisi sulit tersebut suatu saat dapat berubah menjadi lebih baik.

Di tengah cerita tentang keresahan, kehilangan pekerjaan, dan tekanan hidup, sutradara Affandi Abdul Rachman berharap film Filosofi Teras dapat memberi ruang bagi penonton untuk merasakan sedikit ketenangan. Harapan itu tidak berarti film menawarkan jawaban sederhana atas persoalan yang dihadapi para tokohnya. Sebaliknya, kisah mereka mengajak penonton melihat bahwa kegelisahan merupakan bagian dari pengalaman manusia, sekaligus membuka kemungkinan untuk memahami cara menghadapi keadaan yang tidak selalu dapat dikendalikan.

Menurut Affandi, setiap orang memiliki pergulatan masing-masing. Bentuknya bisa berbeda-beda, mulai dari masalah pekerjaan hingga persoalan pribadi, tetapi semua orang berupaya mencari ketenangan di tengah situasi tersebut. Gagasan ini menjadi salah satu pijakan emosional film: para tokoh tidak menjalani hidup tanpa hambatan, dan mereka pun tidak selalu segera menemukan jalan keluar. Namun, melalui perjalanan serta pilihan yang mereka ambil, penonton dapat menyaksikan bagaimana seseorang mencoba berdamai dengan kenyataan dan tetap melangkah.

Penekanan pada pergulatan bersama itu membuat cerita berpeluang terasa dekat bagi penonton dengan latar kehidupan yang beragam. Ketenangan yang diharapkan bukan berarti semua persoalan selesai atau kesulitan mendadak menghilang. Film justru memberi kesempatan untuk berhenti sejenak, mengenali respons diri terhadap masalah, dan mempertimbangkan hal-hal yang masih berada dalam kendali.

banner 325x300