Jakarta | Dari 10 pertandingan Eredivisie yang telah dijalani Ajax pada musim 2026/2027, Maarten Paes baru mendapat satu kesempatan bermain. Catatan tersebut menempatkan kiper timnas Indonesia berusia 28 tahun itu lebih sering di bangku cadangan daripada di lapangan. Sejauh ini, kontribusinya dalam kompetisi liga masih terbatas pada satu penampilan, sementara sebagian besar pertandingan Ajax berlangsung tanpa dirinya sebagai penjaga gawang yang diturunkan. Situasi itu menjadi fakta utama dalam perjalanan Paes pada awal musim ini, ketika kesempatan bermainnya di Eredivisie belum banyak terbuka.
Keadaan tersebut berbeda dari peran Paes sebelumnya di Ajax, saat ia menjadi pilihan utama untuk mengawal gawang klub. Perubahan status itu berarti ia kini tidak lagi secara rutin mendapat kepercayaan tampil sejak awal dalam kompetisi liga. Walaupun satu penampilan memastikan bahwa Paes telah memperoleh menit bermain di Eredivisie musim ini, jumlah tersebut masih jauh dari keterlibatan yang biasanya menyertai posisi utama. Dengan 10 pertandingan liga yang sudah dijalani Ajax, kesempatan yang baru datang sekali memperlihatkan bahwa perannya saat ini lebih banyak berada di luar susunan pemain yang bertanding.
Bagi Paes, catatan itu menandai periode dengan ruang bermain yang terbatas di liga. Sebagai kiper timnas Indonesia, ia tetap menjadi perhatian pendukung yang mengikuti kiprahnya bersama Ajax, tetapi data penampilan Eredivisie menunjukkan bahwa ia lebih sering berstatus pemain cadangan. Perbandingan peran sebelumnya sebagai pilihan utama dan keadaan saat ini memberi gambaran jelas tentang perubahan posisinya di tim. Namun, informasi yang tersedia hanya menegaskan jumlah kesempatan bermain dan statusnya sejauh ini; tidak ada dasar untuk menyimpulkan alasan perubahan tersebut atau merinci pertandingan tertentu. Yang dapat dipastikan, setelah Ajax memainkan 10 laga liga pada musim 2026/2027, Paes baru tampil satu kali, sehingga peluangnya untuk tampil di Eredivisie masih tampak menipis.
Perubahan besar terjadi dalam persaingan penjaga gawang Ajax setelah klub mendatangkan Marc-André ter Stegen dari Barcelona pada Agustus 2026. Kedatangan kiper asal Jerman itu mengubah peta persaingan di bawah mistar, sekaligus membuat peran Maarten Paes di tim utama semakin terbatas. Paes yang sebelumnya berupaya mendapatkan tempat reguler kini harus bersaing dengan pemain yang memiliki rekam jejak panjang di level tertinggi.
Ter Stegen dikenal sebagai mantan kiper utama Barcelona dan pernah menjadi pilihan penting tim nasional Jerman. Pengalaman menghadapi pertandingan besar, kualitas distribusi bola, serta kemampuannya mengorganisasi lini belakang menjadi faktor yang memperkuat posisinya di Ajax. Kehadirannya bukan sekadar menambah pilihan bagi pelatih, tetapi juga menghadirkan pesaing berpengalaman yang dapat langsung diandalkan dalam kompetisi domestik.
Dalam sejumlah pertandingan Eredivisie, pelatih lebih sering mempercayakan posisi utama kepada Ter Stegen. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa Ajax memprioritaskan pengalaman dan kesiapan sang kiper Jerman untuk menjaga konsistensi tim. Dengan kesempatan bermain yang lebih banyak diberikan kepada Ter Stegen, Paes sementara ini berada dalam peran sebagai pelapis. Situasi tersebut dapat berubah, tetapi untuk saat ini jalur menuju posisi utama tampak lebih sulit baginya.
Bagi Paes, berkurangnya menit bermain berarti ia perlu memanfaatkan setiap kesempatan yang tersedia, termasuk laga piala atau pertandingan ketika rotasi dilakukan. Penampilan yang solid dalam kesempatan terbatas dapat membantu mempertahankan kepercayaan staf pelatih. Ia juga perlu menjaga kesiapan fisik dan mental, sebab kompetisi berlangsung panjang dan kebutuhan tim dapat berubah karena jadwal padat, cedera, atau keputusan taktis.
Persaingan ini menjadi tantangan sekaligus tolok ukur bagi Paes di Ajax. Kehadiran Ter Stegen meningkatkan standar di posisi penjaga gawang, sementara terbatasnya peluang di liga dapat memengaruhi perkembangan dan ambisi bermain reguler Paes. Untuk kembali merebut peran utama, ia perlu menunjukkan konsistensi ketika dipercaya serta bersaing secara profesional dalam latihan. Keputusan berikutnya akan bergantung pada kebutuhan tim dan penilaian pelatih sepanjang musim.
Perjalanan Maarten Paes di Ajax semula berlangsung dalam situasi kompetitif, dengan Vítězslav Jaroš menjadi pilihan utama di bawah mistar. Kiper pinjaman Liverpool itu datang dengan status yang menempatkannya sebagai penjaga gawang nomor satu, sehingga ruang bermain bagi Paes tampak terbatas. Namun, keadaan berubah pada Februari 2026, ketika Jaroš mengalami cedera lutut. Absennya pemain asal Ceko tersebut membuka peluang bagi Paes untuk menunjukkan kemampuannya. Bagi kiper Indonesia itu, kesempatan tersebut bukan sekadar pengganti sementara, melainkan peluang penting untuk membangun kepercayaan pelatih dan membuktikan bahwa ia mampu menangani tekanan di klub besar. Ajax membutuhkan stabilitas pada fase krusial musim, dan Paes mendapat tanggung jawab.
Paes memanfaatkan kesempatan itu dengan tampil reguler hingga akhir musim 2025/2026. Rangkaian penampilan tersebut memberinya kesempatan beradaptasi dengan ritme pertandingan Ajax serta memperlihatkan konsistensi sebagai penjaga gawang. Kepercayaan yang diberikan kepadanya juga menjadi bagian dari upaya tim menjaga performa di tengah persaingan domestik. Pada periode itu, Ajax berhasil mengamankan tiket ke kompetisi Eropa, sebuah capaian yang membantu menjaga target klub tetap terjangkau. Peran Paes dalam perjalanan tersebut memperkuat posisinya di skuad dan menunjukkan bahwa ia dapat diandalkan ketika memperoleh menit bermain. Dari pemain yang awalnya menunggu kesempatan, ia menjadi pilihan rutin hingga penutupan musim.
Kepercayaan kepada Paes berlanjut pada awal musim 2026/2027. Ia kembali mendapat kesempatan mengawal gawang Ajax, termasuk dalam rangkaian kualifikasi UEFA Conference League. Keterlibatan itu menandakan bahwa kontribusinya pada musim sebelumnya masih diperhitungkan oleh tim pelatih, meskipun persaingan untuk posisi utama tetap terbuka. Bagi Paes, fase tersebut menjadi lanjutan penting untuk mempertahankan tempatnya melalui penampilan yang konsisten, komunikasi dengan lini pertahanan, dan ketenangan dalam menghadapi tekanan. Perjalanannya di Ajax memperlihatkan bagaimana cedera rekan setim membuka pintu, tetapi kerja di lapangan yang membuat peluang itu bertahan. Dari situ pula ia memperoleh panggung untuk membangun reputasi di sepak bola Eropa.
Catatan penampilan Maarten Paes di kompetisi Eropa memperlihatkan gambaran yang berbeda dari kiprahnya di liga domestik. Bersama Ajax, ia sudah tampil dalam empat pertandingan UEFA Conference League, sementara jumlah penampilannya di Eredivisie baru satu kali. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kesempatan bermain yang didapatnya lebih banyak hadir di panggung Eropa daripada dalam persaingan liga.
Bagi seorang penjaga gawang, menit bermain yang terbatas di kompetisi domestik dapat menjadi tantangan tersendiri. Posisi tersebut biasanya menuntut kontinuitas agar pemain dapat menjaga ritme, membangun pemahaman dengan barisan pertahanan, dan menunjukkan konsistensi dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Satu penampilan di Eredivisie tentu belum memberi ruang yang sama untuk membuktikan kemampuan secara reguler sepanjang musim.
Situasi ini terasa kontras dengan paruh kedua musim sebelumnya, ketika Paes sempat tampil secara reguler. Pengalaman tersebut membuat perubahan perannya saat ini lebih kentara: dari memperoleh kesempatan secara konsisten menjadi harus menunggu peluang di liga. Empat penampilan di UEFA Conference League tetap menjadi catatan penting, tetapi tidak sepenuhnya menggantikan kebutuhan akan menit bermain rutin di Eredivisie. Karena itu, minimnya kesempatan di liga menjadi salah satu aspek utama dalam menilai perkembangan musimnya bersama Ajax.
Di luar perjalanan klub, Paes juga memiliki pencapaian bersama tim nasional Indonesia. Ia menjadi bagian dari skuad yang menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026.
Baca juga: Tragedi Keuangan yang Berujung pada Kehilangan Nyawa di Bojonggede | Pameran Batik: Kesempatan Emas untuk Mengembangkan Pasar | Kehilangan Berharga: Anak Yatim di Serang Jadi Korban Penjambretan












