banner 728x250

Pasokan BBM Bali Diperkuat, Cadangan Pertalite Ditargetkan 15 Hari

Pasokan BBM Bali Diperkuat, Cadangan Pertalite Ditargetkan 15 Hari
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Karangasem | Pemerintah menambah jumlah kapal pemasok bahan bakar minyak (BBM) untuk Bali dari tiga menjadi tujuh unit. Kebijakan yang disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia ini ditujukan untuk memperkuat kelancaran distribusi energi ke pulau tersebut. Dengan armada yang lebih banyak, pasokan diharapkan dapat dijaga lebih andal, sekaligus meningkatkan cadangan Pertalite agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka waktu lebih panjang.

Bahlil menyampaikan penambahan kapal tersebut setelah mengikuti rapat koordinasi distribusi BBM di Terminal BBM Sanggaran, Denpasar, pada Senin, 19 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa kapal pemasok yang sebelumnya berjumlah tiga unit akan ditingkatkan menjadi tujuh. Penambahan ini menjadi langkah pemerintah untuk memperkuat jalur pengiriman BBM menuju Bali, terutama dalam menjaga kesinambungan pasokan dan mengantisipasi kebutuhan distribusi di wilayah tersebut.

banner 325x300

Sebelum kebijakan itu diterapkan, rata-rata cadangan Pertalite di Bali disebut cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 11–12 hari. Pemerintah menargetkan ketahanan cadangan tersebut meningkat menjadi 15 hari melalui penambahan armada kapal. Peningkatan jumlah kapal diharapkan memberi ruang lebih besar bagi distribusi untuk berlangsung secara teratur, serta membantu menjaga ketersediaan BBM ketika pengiriman atau kebutuhan mengalami perubahan.

Target cadangan 15 hari menjadi bagian penting dari upaya memperkuat pasokan BBM di Bali. Dengan dukungan tujuh kapal, pengiriman diharapkan dapat menopang ketersediaan Pertalite secara lebih konsisten dibandingkan kondisi sebelumnya. Langkah ini juga menegaskan perhatian pemerintah terhadap distribusi energi di daerah yang bergantung pada pasokan melalui jalur laut. Pelaksanaan kebijakan dan pencapaian target cadangan akan bergantung pada kelancaran pengoperasian armada serta koordinasi distribusi. Pemerintah menyampaikan penambahan kapal sebagai upaya meningkatkan ketahanan pasokan, bukan sekadar perubahan jumlah sarana angkut. Sasaran akhirnya adalah cadangan yang lebih memadai agar kebutuhan konsumen dapat dilayani dengan baik.

Bahlil menjelaskan bahwa keterlambatan pasokan BBM ke Bali terjadi karena kendala dalam proses bongkar muat kapal. Hambatan pada tahapan tersebut membuat pasokan yang seharusnya masuk tidak dapat segera didistribusikan sesuai kebutuhan. Akibatnya, persediaan BBM di wilayah itu sempat mengalami penurunan yang cukup tajam, sehingga ruang untuk menjaga kelancaran penyaluran menjadi terbatas.

Dalam kondisi tersebut, cadangan BBM Bali dilaporkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama tiga sampai empat hari. Angka itu menunjukkan bahwa stok yang tersedia sempat berada pada tingkat yang rendah dibandingkan kebutuhan penyaluran harian. Keterangan mengenai durasi cadangan tersebut menjadi gambaran penting untuk memahami situasi pasokan yang terjadi ketika proses bongkar muat belum berjalan lancar.

Penurunan stok kemudian mengganggu distribusi BBM di Bali. Ketika jumlah persediaan menipis, penyaluran ke sejumlah SPBU tidak berlangsung normal seperti yang diharapkan. Kondisi itu turut memicu antrean panjang di sejumlah SPBU, karena masyarakat mendatangi tempat pengisian saat ketersediaan BBM terbatas. Dengan demikian, kendala bongkar muat kapal berhubungan langsung dengan keterlambatan pasokan, berkurangnya cadangan, dan gangguan distribusi yang dirasakan di lapangan.

Penjelasan Bahlil menempatkan proses bongkar muat sebagai titik utama dalam rangkaian peristiwa tersebut. Keterlambatan pada proses itu membuat pasokan tertahan, sementara kebutuhan BBM tetap harus dipenuhi. Saat cadangan hanya mencukupi tiga hingga empat hari, penyaluran menjadi lebih rentan terganggu dan antrean di SPBU pun muncul. Situasi ini memperlihatkan bagaimana tersendatnya satu tahapan penanganan pasokan dapat berdampak pada ketersediaan stok serta kelancaran distribusi BBM di Bali. Pernyataan tersebut juga menjelaskan alasan cadangan sempat turun sebelum pasokan kembali diperkuat. Fokusnya adalah kendala operasional saat kapal melakukan bongkar muat, bukan persoalan lain. Dampak yang disebutkan terbatas pada penurunan stok, gangguan distribusi, dan antrean panjang di sejumlah SPBU. Penjabaran ini membantu menghubungkan hambatan pasokan dengan pengalaman masyarakat ketika mencari BBM di tengah ketersediaan yang menipis.

Persediaan bahan bakar minyak di Bali ditopang oleh dua terminal utama yang berada di lokasi berbeda. Terminal BBM Manggis terletak di Kabupaten Karangasem, sedangkan Terminal BBM Sanggaran berada di Denpasar. Keduanya menjadi titik penampungan dan penyaluran pasokan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Pulau Dewata. Pembagian peran antarterminal tersebut membuat ketersediaan BBM Bali bergantung pada kapasitas cadangan di masing-masing lokasi, sekaligus mendukung kesinambungan penyaluran ke berbagai wilayah. Dalam kondisi pasokan yang perlu dipulihkan, keberadaan kedua fasilitas ini menjadi perhatian karena cadangan yang tersedia menentukan seberapa lama kebutuhan dapat ditopang.

Terminal BBM Manggis memiliki kapasitas pasokan yang diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan Bali selama sekitar 11 hari. Sementara itu, Terminal BBM Sanggaran menopang kebutuhan sekitar empat hingga lima hari. Angka tersebut menggambarkan cakupan waktu pasokan dari tiap terminal, bukan berarti jumlah hari itu harus dijumlahkan begitu saja sebagai cadangan yang tersedia di seluruh pulau. Kedua fasilitas memiliki kontribusi masing-masing dalam sistem pasokan, dan ketersediaan produk perlu dikelola agar distribusi tetap berjalan. Perbedaan kapasitas hari Manggis dan Sanggaran juga menunjukkan pentingnya memperkuat cadangan, terutama ketika pemulihan pasokan menjadi prioritas.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia meminta Pertamina meningkatkan cadangan Pertalite Bali. Sebelumnya, cadangan yang menjadi acuan berada pada tingkat sekitar 11 hari, dan pemerintah menargetkan peningkatannya menjadi 15 hari. Permintaan tersebut diarahkan untuk mempercepat pemulihan pasokan, dengan menyediakan penyangga yang lebih besar dibandingkan kondisi sebelumnya. Target 15 hari ini menjadi langkah penguatan persediaan yang perlu ditopang oleh pengelolaan di Terminal BBM Manggis dan Sanggaran. Dengan cadangan yang lebih memadai, pasokan diharapkan memiliki ruang penyangga lebih panjang selama proses pemulihan berlangsung. Karena itu, kedua terminal berperan penting dalam upaya memenuhi target sekaligus menjaga kelancaran penyaluran BBM kepada konsumen di Bali.

Pertamina Patra Niaga memperkuat pasokan Pertalite di Bali dengan menambah stok hingga total 48 juta liter. Pengiriman tambahan berlangsung bertahap sejak 7 Oktober dan dijadwalkan berlanjut sampai 17 Oktober 2026. Penambahan ini ditujukan untuk menjaga ketersediaan BBM di tengah meningkatnya kebutuhan serta membantu kelancaran pelayanan kepada masyarakat. Penguatan stok menjadi salah satu langkah pendukung distribusi, selain pengaturan operasional dan penambahan armada pengangkut.

Untuk mempercepat penyaluran dari terminal menuju SPBU, truk tangki juga ditambah. Terminal BBM dan SPBU dioperasikan selama 24 jam agar proses distribusi serta pelayanan dapat berlangsung lebih panjang dan menyesuaikan kebutuhan. Pengoperasian tanpa jeda diharapkan mendukung pengisian kembali stok SPBU secara lebih cepat, terutama ketika antrean meningkat. Masyarakat tetap diimbau mengikuti arahan petugas dan ketentuan yang berlaku saat mengakses layanan.

Selain dukungan pasokan dan operasional, pemerintah daerah menerapkan kebijakan ganjil genap sebagai upaya mengurai antrean kendaraan. Kebijakan tersebut mengikuti arahan Gubernur Bali Wayan Koster dan pada awalnya berlaku pada 17–19 Oktober 2026. Setelah pelaksanaan awal, masa penerapannya diperpanjang hingga rencana 23 Oktober. Perpanjangan itu disertai evaluasi berkelanjutan, sehingga pelaksanaan dan durasinya dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Ganjil genap mengatur kendaraan berdasarkan nomor pelat untuk membatasi kedatangan secara bersamaan di area pengisian BBM. Langkah ini berjalan berdampingan dengan tambahan stok, truk tangki, dan operasional sepanjang hari; kebijakan tersebut bukan pengganti upaya memastikan pasokan tersedia. Evaluasi diperlukan untuk melihat dampaknya terhadap kepadatan antrean serta kelancaran akses masyarakat. Dengan koordinasi distribusi dan pengaturan lalu lintas, penguatan cadangan Pertalite diharapkan dapat menopang kebutuhan Bali selama periode tersebut.

Baca juga: Penanganan Karhutla Sektor Selatan Kalbar Diperkuat, TNI Alihkan Perkuatan Pasukan | Wujud Kepedulian TNI, Kodim 1008/Tabalong Bantu Pasokan Air Bersih di Desa Jangkung | Respons Cepat Diperkuat, Lanud Sjamsudin Noor Siagakan Tangki Portable Untuk Penanganan di Titik Rawan Karhutla

banner 325x300