banner 728x250

Aksi Mahasiswa UINSA Menentang Pelantikan Rektor Baru

Aksi Mahasiswa UINSA Menentang Pelantikan Rektor Baru
banner 120x600
banner 468x60

SURABAYA, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 16 September 2026, Pada Rabu, 16 September, suasana kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menjadi sangat tegang. Ratusan mahasiswa berkumpul di area utama kampus untuk menyuarakan protes mereka yang menentang pelantikan Rektor Akh Muzakki untuk periode 2026-2030. Aksi protes ini dinyatakan sebagai bentuk keberatan atas keputusan yang dianggap tidak transparan dan tidak melibatkan suara mahasiswa dalam proses pemilihan rektor.

Mahasiswa merasa bahwa mereka memiliki hak untuk memberikan masukan dan terlibat dalam keputusan yang akan berdampak pada masa depan akademis mereka. Oleh karena itu, berkumpulnya mereka dalam sebuah aksi unjuk rasa merupakan langkah proaktif untuk menyampaikan ketidakpuasan dan tuntutan perwakilan yang lebih baik. Aksi ini bukan sekadar seruan tanpa dasar, melainkan sebuah pergerakan yang mencerminkan kepedulian dan keinginan mahasiswa untuk terlibat dalam tata kelola universitas.

banner 325x300

Selama aksi berlangsung, para mahasiswa menyampaikan orasi-orasi yang menekankan pentingnya rekam jejak pemimpin akademis dan bagaimana hal tersebut berpengaruh pada kebijakan yang akan diambil selama periode jabatan mendatang. Mereka berharap bahwa dengan adanya partisipasi aktif, UINSA dapat menjadi institusi yang lebih baik dan terbuka bagi semua pihak, terutama mahasiswa.

Kerumunan mahasiswa juga didukung oleh beberapa organisasi kemahasiswaan yang menggalang solidaritas terhadap tuntutan mereka. Suasana sempat memanas ketika aparat keamanan mencoba membubarkan massa, namun para mahasiswa tetap bertahan untuk menyuarakan aspirasi mereka. Dengan keberanian dan tekad, mereka menunjukkan bahwa sikap kritis terhadap kepemimpinan universitas sangatlah penting dalam menjaga kualitas pendidikan dan integritas lembaga.

Peristiwa ini menandai momentum penting dalam sejarah UINSA di mana mahasiswa mengambil peran aktif dalam mempertanyakan keputusan yang dianggap tidak adil. Di tengah dinamika ini, harapan akan terciptanya dialog pihak universitas dan mahasiswa menjadi semakin meningkat, sehingga diharapkan kedepannya akan ada kejelasan dan keterbukaan dalam proses pemilihan pemimpin universitas.

Unjuk rasa yang berlangsung di UINSA (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel) menjadi sorotan publik, mencerminkan ketidakpuasan mahasiswa terhadap pelantikan rektor baru. Aksi ini tidak hanya ditandai oleh orasi yang berapi-api, tetapi juga oleh ekspresi visual yang kuat berupa spanduk-spanduk. Mahasiswa dari berbagai fakultas berkumpul, membawa spanduk dan poster yang mengekspresikan kekecewaan serta harapan mereka terhadap masa depan kampus.

Sejak pagi hari, massa demonstran mulai berkumpul di halaman kampus, dengan jumlah peserta yang terus bertambah seiring berjalannya waktu. Suasana di lokasi unjuk rasa dipenuhi oleh semangat kolektif para mahasiswa yang ingin menyuarakan pendapatnya. Selain berorasi, mereka juga membagikan selebaran yang berisi tuntutan dan alasan di balik aksi tersebut. Dengan cara ini, para mahasiswa berharap untuk menarik perhatian baik dari pihak rektorat maupun masyarakat luas.

Spanduk yang dibawa oleh para demonstran mencakup berbagai tulisan yang mengekspresikan frustrasi mereka. Beberapa spanduk menyoroti isu-isu seperti transparansi dalam pengambilan keputusan, partisipasi mahasiswa dalam kebijakan kampus, serta harapan akan kepemimpinan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan civitas akademika. Hal ini menunjukkan bahwa para mahasiswa tidak hanya berjuang untuk kepentingan mereka individual, tetapi juga untuk masa depan kampus yang lebih baik.

Menurut informasi yang didapat dari para peserta aksi, mereka merasa bahwa pelantikan rektor baru yang dilakukan tanpa melibatkan aspirasi mahasiswa merupakan langkah mundur bagi institusi pendidikan. Demonstrasi ini, oleh karena itu, menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan suara mereka dan menuntut keterlibatan mereka dalam proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan akademik di UINSA.

Ketersediaan media sosial juga turut mendukung penyebaran informasi mengenai unjuk rasa ini, di mana banyak mahasiswa membagikan momen-momen aksi secara langsung. Dengan cara ini, solidaritas antar mahasiswa terbangun, dan pesan dari aksi demonstrasi mampu menjangkau audiens yang lebih luas, menciptakan diskusi yang lebih dalam tentang kepemimpinan dan kebijakan pendidikan di institusi tersebut.

Dalam rangka menyampaikan aspirasi mereka, mahasiswa UINSA melaksanakan aksi damai yang menuntut pertanggungjawaban dan perubahan signifikan dalam kepemimpinan universitas. Terdapat lima tuntutan utama yang diajukan dalam aksi ini, yang merupakan cerminan dari kepentingan dan harapan komunitas akademik. Pertama, mahasiswa menolak pelantikan Akh Muzakki sebagai rektor baru. Penolakan ini berakar dari dugaan keterlibatannya dalam sejumlah masalah hukum yang dianggap merugikan citra universitas dan integritas lembaga pendidikan.

Kedua, mahasiswa menyerukan transparansi dalam proses pemilihan rektor. Mereka mendesak agar prosedur tersebut diperjelas dan diikuti dengan memperhatikan prinsip-prinsip demokrasi yang adil. Hal ini dianggap krusial untuk menjaga kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan serta untuk memastikan bahwa pemimpin yang terpilih mampu membawa UINSA ke arah yang lebih baik.

Ketiga, tuntutan juga mencakup perlunya penciptaan lingkungan kampus yang lebih harmonis. Mahasiswa menginginkan suasana akademik yang aman dan mendukung, di mana setiap anggota komunitas merasa dihargai dan memiliki hak untuk bersuara. Keempat, mereka meminta pengelolaan anggaran yang lebih baik dan akuntabel. Penggunaan dana kampus yang transparan diharapkan bisa meningkatkan kualitas fasilitas dan layanan pendidikan di UINSA.

Akhirnya, mahasiswa juga menekankan pentingnya penanganan masalah hukum yang melibatkan rektor terpilih. Mereka mendesak agar semua dugaan pelanggaran hukum ditanggapi secara serius agar reputasi universitas tetap terjaga. Dengan menyuarakan lima tuntutan tersebut, mahasiswa berharap agar tindakan mereka tidak hanya diakui, tetapi juga direspon secara positif oleh pihak universitas untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua.”

Seiring dengan perkembangan tindakan protes di UINSA, situasi semakin memanas ketika sejumlah mahasiswa memutuskan untuk menduduki gedung rektorat. Tindakan ini memicu ketegangan yang signifikan tidak hanya di kalangan mahasiswa, tetapi juga di lingkungan kampus secara keseluruhan. Dalam aksi tersebut, partisipasi yang tinggi terlihat di mana mahasiswa dari berbagai jurusan bersatu untuk menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap pelantikan rektor baru. Kehadiran massa yang besar di gedung rektorat menciptakan atmosfer yang penuh emosi dan ketidakpastian.

Dalam aksi tersebut, beberapa mahasiswa bertindak dengan cara yang lebih dramatis untuk mengekspresikan frustrasi mereka. Salah satu tindakan simbolis yang mencolok adalah pembakaran karangan bunga ucapan selamat yang ditujukan kepada rektor baru. Tindakan ini bukan hanya sekadar protes terhadap individu, tetapi juga sebagai pernyataan menolak apa yang mereka pandang sebagai legitimasi pelantikan yang tidak sesuai dengan aspirasi mahasiswa dan prasyarat akademis yang mereka anggap penting. Pembakaran karangan bunga ini menjadi sorotan, memperlihatkan betapa mendalamnya perasaan hanya di dalam rangkaian aksi damai tersebut.

Akibat dari situasi yang semakin memanas ini, pihak keamanan kampus terpaksa dikerahkan untuk memastikan situasi tetap terkendali. Di satu sisi, kehadiran pihak keamanan berperan penting dalam mengelola kerumunan, namun di sisi lain, hal ini juga menambah ketegangan yang ada. Diskusi internal di mahasiswa dan pejabat kampus mengenai masa depan kampus menimbulkan beberapa isu penting yang harus dipertimbangkan dalam menghadapi babak baru ini. Mahasiswa tidak hanya mencari kejelasan dari kepemimpinannya, tetapi juga peluang untuk berkontribusi dalam pengambilan keputusan yang lebih inklusif di masa mendatang.

banner 325x300