Jakarta | Pertamina Hulu Energi (PHE) menyampaikan bahwa sebagian besar lapangan minyak dan gas bumi di Indonesia telah memasuki fase mature hingga tahap akhir produksi. Kondisi ini menandai perubahan penting dalam pengelolaan kegiatan hulu migas. Lapangan yang telah beroperasi dalam waktu lama menghadapi penurunan produksi alamiah, sehingga upaya mempertahankan kontribusi produksinya memerlukan pendekatan yang terencana dan berkelanjutan. Situasi tersebut juga menjadi konteks bagi pembahasan mengenai arah pengembangan sektor hulu migas nasional.
Direktur Keuangan PHE, Bayu Kusuma Dewanto, menyampaikan bahwa banyak lapangan yang dikelola perusahaan telah berada pada fase late life, mature, bahkan very late life. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers Forum Ekonomi Hulu Migas 2026 di Jakarta pada Selasa, 20 Oktober 2026. Uraian tersebut menggambarkan rentang tahapan produksi yang dihadapi dalam portofolio lapangan PHE, sekaligus menunjukkan bahwa lapangan menua merupakan bagian nyata dari tantangan operasional industri.
Penurunan produksi alamiah pada lapangan yang menua membuat pengelolaannya tidak dapat hanya mengandalkan keputusan jangka pendek. Diperlukan investasi jangka panjang agar pengembangan, pemeliharaan, dan pengelolaan kegiatan dapat direncanakan secara menyeluruh. Pertimbangan investasi juga perlu selaras dengan tahapan operasi lapangan, sehingga keputusan yang diambil dapat mendukung pengelolaan aset secara konsisten. Kebutuhan ini menuntut perhatian berkelanjutan dari perusahaan dan para pihak yang terlibat dalam kegiatan hulu migas.
Di samping investasi, koordinasi erat di sepanjang rantai operasional menjadi unsur penting. Pengelolaan lapangan pada fase mature hingga tahap akhir produksi melibatkan keterkaitan berbagai kegiatan, sehingga koordinasi diperlukan untuk menyelaraskan perencanaan dan pelaksanaan. Dengan demikian, tantangan lapangan menua tidak terbatas pada kecenderungan produksi yang menurun, tetapi juga mencakup kebutuhan mengatur keputusan dan kerja operasional secara terpadu. Pernyataan PHE menegaskan bahwa kondisi mayoritas lapangan yang telah memasuki fase produksi lanjut perlu menjadi pertimbangan dalam strategi sektor hulu migas. Respons terhadap kondisi tersebut memerlukan pandangan jangka panjang serta kerja sama yang terjaga dari satu bagian rantai operasi ke bagian lainnya.Penurunan alamiah produksi dari lapangan migas yang telah beroperasi selama puluhan tahun menjadi tantangan bagi ketahanan energi Indonesia. Karena itu, PHE dan para kontraktor hulu migas perlu menjalankan dua arah kerja secara bersamaan: menjaga kinerja lapangan yang ada serta mencari sumber hidrokarbon baru. Upaya eksplorasi mencakup penilaian data geologi dan geofisika, survei seismik, pemetaan prospek, hingga pengeboran eksplorasi. Berbagai wilayah di Indonesia masih menyimpan peluang, tetapi setiap wilayah memiliki kondisi geologi, tingkat risiko, dan kebutuhan investasi yang berbeda.
Besarnya kebutuhan nasional memperjelas urgensi pencarian sumber pasokan. Kebutuhan minyak Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Kesenjangan tersebut tidak dapat ditutup dengan satu langkah atau satu proyek saja. Peningkatan perolehan dari lapangan eksisting, pengembangan temuan yang sudah ada, dan penemuan cadangan baru perlu berjalan sebagai bagian dari strategi yang saling melengkapi. Dalam konteks itu, eksplorasi cekungan baru menawarkan peluang untuk memperluas basis sumber daya jangka panjang.
Data mengenai cekungan sedimenter di Indonesia menunjukkan ruang pengembangan yang masih luas: dari 128 cekungan, baru 20 yang telah digarap operator hulu migas. Artinya, sebagian besar cekungan belum masuk tahap pengusahaan oleh operator, meskipun status tersebut tidak serta-merta berarti seluruhnya memiliki cadangan yang siap diproduksikan. Potensinya harus dibuktikan melalui kajian teknis, kegiatan eksplorasi, serta evaluasi keekonomian dan risiko. Pemerintah dan pelaku usaha dapat mendorong pekerjaan ini melalui ketersediaan data, kepastian kebijakan, kolaborasi, dan investasi yang terukur. Eksplorasi cekungan baru dipandang sebagai salah satu solusi utama untuk mengimbangi penurunan lapangan tua dan memperkuat peluang pasokan masa depan, bukan sebagai jaminan bahwa produksi tertentu akan tercapai. Hasilnya bergantung pada temuan geologi, keberhasilan pengeboran, dan kelayakan pengembangan.
Pengembangan cekungan migas baru membutuhkan modal yang besar sejak tahap awal. Kontraktor hulu migas menggelontorkan investasi sebesar US$15 miliar pada tahun sebelumnya, setara dengan sekitar Rp269,66 triliun dengan asumsi kurs Rp17.977 per dolar AS. Skala pendanaan tersebut memberi gambaran tentang besarnya sumber daya yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan di sektor hulu. Eksplorasi tidak hanya menuntut kemampuan teknis untuk mencari potensi sumber daya, tetapi juga komitmen pembiayaan yang dapat menopang pekerjaan dalam jangka panjang. Bagi perusahaan, keputusan untuk masuk ke wilayah baru berarti menyiapkan investasi sebelum hasil komersial dapat diketahui.
Jarak waktu kegiatan eksplorasi dan produksi menjadi tantangan tersendiri. Pekerjaan yang dimulai saat ini diperkirakan baru dapat menghasilkan first oil dalam lima hingga tujuh tahun. Dengan demikian, investasi harus disiapkan jauh sebelum minyak pertama mengalir, sementara kepastian mengenai hasilnya belum tersedia pada awal proses. Rentang waktu tersebut mencakup tahapan yang perlu dilalui agar potensi suatu cekungan dapat dinilai dan dikembangkan. Karena itu, pengeluaran eksplorasi tidak dapat dipandang sebagai biaya yang segera menghasilkan pemasukan. Perusahaan perlu mempertahankan komitmen dan perencanaan pendanaan selama menunggu perkembangan proyek menuju produksi.
Lamanya jeda itu berkaitan langsung dengan sifat risiko investasi eksplorasi. Sebagaimana dijelaskan Bayu, risiko tersebut juga berlangsung dalam rentang yang panjang, seiring waktu yang dibutuhkan hingga kegiatan menghasilkan minyak. Artinya, pertimbangan investasi tidak berhenti pada besarnya dana yang dikeluarkan, tetapi juga mencakup kesanggupan menanggung ketidakpastian selama bertahun-tahun. Kombinasi kebutuhan modal besar dan waktu tunggu panjang dapat memengaruhi keputusan kontraktor untuk menggarap cekungan baru. Namun, tanpa eksplorasi yang memadai, peluang menemukan sumber daya baru sulit diketahui. Menimbang kebutuhan energi dan kondisi lapangan yang menua, pembiayaan jangka panjang menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan pengembangan sektor hulu migas.
Selain mendorong eksplorasi baru, percepatan proyek berskala besar menjadi salah satu langkah yang dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan produksi dan memperkuat ketahanan energi. Proyek besar dapat menambah kapasitas pasokan dalam jangka panjang, tetapi manfaat tersebut bergantung pada kemampuan berbagai pihak untuk memastikan tahapan pengembangan berjalan sesuai rencana. Karena itu, percepatan tidak hanya berkaitan dengan keputusan teknis di lapangan, melainkan juga kesiapan dukungan kelembagaan, pendanaan, dan proses perizinan.
Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah pengembangan Abadi di Blok Masela, dengan perkiraan nilai investasi sekitar US$20 miliar. Skala investasi tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan sumber daya dan koordinasi yang diperlukan. Agar proyek dapat bergerak maju, para pemangku kepentingan perlu membangun sinergi sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Dukungan yang dibutuhkan mencakup kemudahan dalam pengurusan perizinan lahan dan izin usaha, serta kejelasan skema pembiayaan yang dapat menopang kebutuhan proyek dalam jangka panjang.
Bayu secara khusus menekankan pentingnya keterlibatan SKK Migas, perbankan, investor, serta para pemangku kepentingan di bidang pajak dan sumber daya manusia. Masing-masing memiliki peran yang berbeda, tetapi saling berkaitan. SKK Migas berhubungan dengan koordinasi kegiatan hulu migas, sementara perbankan dan investor dapat mendukung ketersediaan pembiayaan. Aspek perpajakan dan tenaga kerja juga perlu diperhatikan agar rencana pengembangan dapat dijalankan dengan kerangka yang mendukung dan ketersediaan keahlian yang memadai.
Kolaborasi tersebut diperlukan bukan hanya untuk proyek Masela, tetapi juga bagi kegiatan hulu migas yang menghadapi tantangan lapangan menua. Koordinasi yang efektif dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan, menyelaraskan proses, dan mengurangi ketidakpastian dalam pengembangan.
Baca juga: Kesiapan Persiraja Menghadapi PSPS di Pekanbaru | Bayern Munchen Siapkan Bintang Mereka Menghadapi Union Berlin | Program Pariwisata Aman untuk Menghadapi Risiko Kebakaran di Bromo












