banner 728x250

Aksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Massa Pasang Spanduk Tuntutan di Tugu Tani

Aksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Massa Pasang Spanduk Tuntutan di Tugu Tani
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Massa yang menggelar demonstrasi untuk memperingati dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka memasang spanduk bertuliskan “Tuntutan Rakyat” di Patung Pahlawan atau Tugu Tani, Jakarta Pusat, Selasa, 20 Oktober 2026. Aksi tersebut menjadi penanda penyampaian tuntutan kepada pemerintah, terutama terkait penanganan bencana yang dinilai membutuhkan perhatian dan langkah lebih tegas.

Melalui spanduk itu, para demonstran mendesak pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta banjir sebagai bencana nasional. Seruan tersebut menempatkan dua persoalan lingkungan dan kebencanaan itu sebagai pokok tuntutan dalam aksi. Penetapan status bencana nasional, menurut aspirasi yang disampaikan massa, diharapkan mendorong penanganan yang lebih menyeluruh terhadap dampak yang ditimbulkan.

banner 325x300

Lokasi pemasangan spanduk berada di kawasan Tugu Tani, salah satu ruang publik di pusat Jakarta. Pesan “Tuntutan Rakyat” yang terlihat di titik tersebut merangkum tujuan demonstrasi: membawa aspirasi ke ruang terbuka sekaligus menarik perhatian terhadap permintaan yang ditujukan kepada pemerintah. Namun, isi tuntutan yang disampaikan dalam aksi ini berfokus pada perubahan status karhutla dan banjir menjadi bencana nasional.

Demonstrasi berlangsung bertepatan dengan peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, sehingga isu yang diangkat juga diarahkan kepada pemerintah yang sedang menjabat. Para peserta menggunakan momentum tersebut untuk menyuarakan kebutuhan akan respons terhadap bencana yang lebih kuat. Dalam konteks itu, tuntutan penetapan status nasional menjadi pesan utama yang dibawa melalui spanduk maupun penyampaian aspirasi di lokasi.

Pemasangan spanduk di Tugu Tani memperlihatkan cara massa menyampaikan tuntutan secara langsung di ruang publik. Aksi ini menyoroti karhutla dan banjir sebagai persoalan yang, menurut para demonstran, perlu ditangani dalam kerangka bencana nasional. Tuntutan itu menjadi bagian dari rangkaian aspirasi yang disampaikan pada peringatan dua tahun pemerintahan, dengan pemerintah sebagai pihak yang diminta mempertimbangkan langkah lanjutan dalam penanganan kedua jenis bencana tersebut.

Setelah berkumpul dalam aksi memperingati dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, aliansi yang terdiri atas berbagai elemen masyarakat terlebih dahulu menyampaikan orasi di pinggir jalan. Para peserta bergantian menyuarakan pandangan dan tuntutan mereka kepada pemerintah. Kegiatan itu menjadi bagian awal dari rangkaian aksi sebelum massa bergerak menuju area Patung Pahlawan di kawasan Tugu Tani.

Orasi disampaikan di hadapan peserta yang berkumpul di sekitar lokasi. Aksi berlangsung dengan menyampaikan pesan melalui seruan lisan, sementara perhatian massa kemudian beralih pada spanduk yang telah dibawa. Spanduk tersebut memuat sejumlah tuntutan kepada pemerintah. Peserta berupaya menempatkannya pada bagian patung yang mudah terlihat, sehingga isi pesan dapat dibaca oleh orang-orang yang melintas maupun berada di sekitar kawasan itu.

Dalam proses pemasangan, dua orang memanjat Patung Pahlawan untuk mengikat tali yang digunakan menahan spanduk. Keduanya mengatur posisi dan ikatan agar bentangan kain terpasang dengan jelas. Upaya itu dilakukan ketika massa berkumpul di sekitar patung dan menyaksikan proses tersebut. Spanduk kemudian terbentang di area patung, membawa tuntutan yang disampaikan peserta dalam aksi tersebut.

Selama pemasangan berlangsung, massa menyanyikan lagu “Indonesia Pusaka” ciptaan Ismail Marzuki. Nyanyian itu terdengar ketika dua orang mengikat tali dan peserta lain berada di bawah, dekat lokasi pemasangan. Rangkaian dari orasi di pinggir jalan hingga pembentangan spanduk menunjukkan peralihan kegiatan dari penyampaian aspirasi secara lisan ke pesan tertulis yang dipasang di ruang publik. Dengan cara itu, tuntutan yang dibawa aliansi tidak hanya disampaikan melalui orasi, tetapi juga ditampilkan pada spanduk agar dapat dibaca dengan jelas oleh masyarakat di sekitar Tugu Tani.

Sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi menyaksikan aksi massa di Tugu Tani. Perhatian mereka tertuju pada upaya peserta aksi memasang spanduk berisi tuntutan. Warga mengikuti jalannya upaya tersebut dari sekitar tempat kejadian, sementara massa berusaha menempatkan spanduk pada patung. Suasana itu memperlihatkan bahwa aksi tidak hanya berlangsung di peserta dan aparat, tetapi juga disaksikan masyarakat yang berada di sekitarnya. Tidak ada keterangan lebih jauh mengenai identitas warga maupun alasan mereka berada di lokasi; yang tercatat, mereka menyaksikan proses pemasangan spanduk tersebut.

Ketika massa berupaya memasang spanduk, sejumlah warga terdengar memberikan tepuk tangan. Tepuk tangan itu muncul saat upaya pemasangan berlangsung, menjadi respons warga yang menyaksikan aksi secara langsung. Informasi mengenai suasana tersebut terbatas pada kehadiran warga dan tepuk tangan mereka. Karena itu, respons tersebut tidak dapat ditafsirkan lebih jauh sebagai dukungan terhadap tuntutan tertentu ataupun sebagai gambaran sikap seluruh masyarakat di lokasi. Yang dapat dicatat adalah bahwa sebagian warga menyaksikan upaya massa dan bertepuk tangan pada saat spanduk hendak dipasang.

Di tengah proses itu, aparat kepolisian sempat mengimbau masyarakat agar tidak memanjat patung. Imbauan tersebut disampaikan ketika upaya pemasangan spanduk berlangsung. Tidak ada keterangan tambahan mengenai siapa yang secara khusus menerima imbauan, berapa kali imbauan disampaikan, atau bagaimana tanggapan warga terhadapnya. Pada akhirnya, spanduk berhasil dipasang. Dengan demikian, rangkaian yang teramati mencakup warga yang menyaksikan, tepuk tangan ketika massa berupaya memasang spanduk, serta imbauan polisi agar masyarakat tidak memanjat patung. Spanduk kemudian terpasang di Tugu Tani, tanpa perlu menyimpulkan adanya peristiwa lain di luar keterangan tersebut.

Setelah spanduk tuntutan terpasang di kawasan Tugu Tani, massa kembali menyampaikan lima tuntutan dalam aksi peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Penyampaian tersebut menegaskan bahwa pemasangan spanduk bukan satu-satunya bentuk ekspresi mereka. Para peserta aksi juga mengangkat sejumlah persoalan yang dinilai perlu mendapat perhatian pemerintah, mulai dari penanganan bencana hingga kondisi sosial dan tata kelola negara.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta banjir menjadi bagian dari isu yang disuarakan. Kedua persoalan itu hadir berdampingan dalam tuntutan massa, yang meminta perhatian terhadap masalah lingkungan dan dampaknya bagi masyarakat. Aksi tersebut tidak merinci langkah teknis tertentu, tetapi menempatkan penanganan karhutla dan banjir sebagai agenda yang perlu diperhatikan dalam evaluasi terhadap jalannya pemerintahan.

Di luar persoalan tersebut, massa menyoroti ekonomi, kebebasan berpendapat, pemberantasan korupsi, serta pemerataan layanan publik. Isu ekonomi menunjukkan perhatian terhadap keadaan yang dirasakan masyarakat, sementara kebebasan berpendapat berkaitan dengan ruang bagi warga untuk menyampaikan pandangan. Pemberantasan korupsi turut disampaikan sebagai persoalan tata kelola yang menjadi perhatian dalam aksi itu.

Pemerataan layanan publik melengkapi rangkaian isu yang diangkat. Sorotan ini menempatkan akses terhadap layanan sebagai bagian dari tuntutan agar penyelenggaraan pemerintahan menjangkau masyarakat secara lebih merata. Dalam aksi tersebut, isu-isu itu disampaikan sebagai pokok perhatian bersama, tanpa uraian rinci mengenai bentuk kebijakan atau langkah yang harus diambil.

Dengan demikian, lima tuntutan yang kembali disampaikan setelah spanduk terpasang mencakup beragam bidang kehidupan publik. Penanganan karhutla dan banjir, persoalan ekonomi, kebebasan berpendapat, pemberantasan korupsi, serta pemerataan layanan publik menjadi tema yang mengemuka. Penyebutan berbagai tema itu menggambarkan cakupan perhatian peserta aksi pada peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, sekaligus menyampaikan bahwa evaluasi yang mereka suarakan tidak terbatas pada satu persoalan saja.

Baca juga: Opsi Perombakan Kabinet Menjelang Dua Tahun Kepemimpinan Prabowo-Gibran | Prabowo Tegaskan Kritis terhadap Pakar Bermasalah | Ucapan Selamat Prabowo untuk Peringatan PAN ke-28

banner 325x300