banner 728x250

Aksi Greenpeace di Bundaran HI Soroti Beban Krisis Iklim bagi Warga

Aksi Greenpeace di Bundaran HI Soroti Beban Krisis Iklim bagi Warga
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Greenpeace Indonesia membentangkan dua spanduk berukuran besar di Patung Selamat Datang, kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa pagi, 20 Oktober 2026. Aksi tersebut berlangsung di salah satu titik yang dikenal sebagai persimpangan utama di ibu kota. Keberadaan spanduk di area patung menjadi perhatian di tengah aktivitas pagi di sekitar Bundaran HI. Informasi mengenai aksi ini mencakup lokasi, waktu, serta kondisi yang terlihat ketika kawasan tersebut dipantau.

Sekitar pukul 08.30 WIB, dua spanduk itu terlihat sudah dalam keadaan terlipat. Pada waktu yang sama, petugas gabungan tampak bersiaga di sekitar lokasi. Kondisi tersebut merupakan gambaran situasi yang tercatat pada saat pengamatan, bukan keterangan mengenai proses sebelum atau sesudahnya. Tidak ada alasan yang dapat dipastikan dari kondisi spanduk yang terlipat, sehingga keadaan itu tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan penyebab ataupun rangkaian tindakan tertentu.

banner 325x300

Lalu lintas di sekitar Bundaran HI pada pagi itu terpantau padat. Kepadatan kendaraan menjadi bagian dari situasi kawasan yang tercatat bersamaan dengan keberadaan petugas dan kondisi spanduk. Bundaran HI merupakan kawasan yang dilalui banyak kendaraan, tetapi pengamatan pada pukul 08.30 WIB hanya menggambarkan keadaan lalu lintas pada waktu tersebut. Dengan demikian, informasi yang tersedia menunjukkan tiga hal utama: aksi pembentangan dua spanduk oleh Greenpeace Indonesia pada pagi hari, spanduk yang terlihat terlipat saat pemantauan, serta petugas gabungan yang bersiaga ketika arus lalu lintas di sekitarnya padat. Rincian ini memberi gambaran faktual mengenai situasi di Patung Selamat Datang pada Selasa pagi, tanpa menambahkan dugaan mengenai kondisi spanduk maupun tindakan para petugas.

Pesan yang dibawa dalam aksi Greenpeace di Bundaran HI menempatkan krisis iklim sebagai persoalan yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Spanduk pertama bertuliskan, “Tangani krisis iklim, turunkan biaya hidup”. Tulisan tersebut menghadap ke utara, ke arah Istana Merdeka, sehingga tuntutannya ditujukan kepada pemerintah. Pesan ini menghubungkan upaya menghadapi perubahan iklim dengan kebutuhan warga untuk memperoleh kehidupan yang lebih terjangkau. Krisis iklim bukan hanya isu lingkungan yang jauh dari keseharian, tetapi juga ancaman yang dapat memperberat tekanan ekonomi dan sosial yang sudah dirasakan masyarakat.

Di sisi lain, spanduk yang menghadap ke selatan Bundaran HI memuat tulisan, “Bencana makin parah, hidup makin susah, apa kerja pemerintah?” Kalimat tersebut menyoroti kekhawatiran bahwa bencana yang semakin parah dapat membuat kehidupan warga kian sulit. Pertanyaan yang disampaikan menuntut pemerintah menjelaskan langkah nyata dalam menghadapi ancaman iklim dan melindungi masyarakat. Kedua spanduk itu menyampaikan pesan yang saling melengkapi: dampak krisis iklim terasa dalam kesejahteraan, sementara tanggung jawab untuk meresponsnya berada pada para pengambil kebijakan.

Melalui pilihan kata yang lugas dan penempatan spanduk yang mengarah ke dua sisi Bundaran HI, aksi tersebut menegaskan urgensi penanganan krisis iklim. Greenpeace menyoroti bahwa beban akibat ancaman iklim tidak berhenti pada kerusakan lingkungan, melainkan dapat menyentuh keselamatan, kebutuhan dasar, dan kemampuan warga menjalani kehidupan sehari-hari. Karena itu, pemerintah didesak agar lebih serius menyusun dan menjalankan langkah perlindungan yang berpihak pada masyarakat. Penanganan yang memadai perlu memandang keselamatan dan kesejahteraan warga sebagai bagian penting dari kebijakan iklim, bukan sebagai persoalan terpisah. Pesan aksi itu mengajak publik melihat hubungan meningkatnya ancaman bencana dan beratnya beban hidup, sekaligus meminta pemerintah menunjukkan tanggung jawab melalui tindakan yang jelas dan konsisten.

Jeanny Sirait, juru kampanye keadilan iklim Greenpeace Indonesia, menilai kelompok pekerja yang rentan secara ekonomi merasakan dampak krisis iklim paling berat. Kerentanan tersebut membuat mereka memiliki ruang yang lebih terbatas untuk menghadapi cuaca ekstrem dan bencana ekologis. Ketika kondisi lingkungan berubah atau bencana mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerja dengan penghasilan terbatas dapat menghadapi tekanan berlapis, baik terhadap keselamatan maupun keberlangsungan hidup. Dampaknya tidak berhenti pada kejadian bencana, tetapi juga dapat terasa dalam pemenuhan kebutuhan keluarga dan kemampuan untuk kembali bekerja.

Cuaca ekstrem dan bencana ekologis dapat mengancam keselamatan serta kesehatan warga. Pada saat yang sama, situasi itu berpotensi mengganggu sumber penghidupan, terutama bagi orang yang pekerjaannya bergantung pada kegiatan harian dan tidak mudah dihentikan atau dipindahkan. Ketika aktivitas mencari nafkah terhambat, pendapatan dapat ikut tertekan. Bagi pekerja yang secara ekonomi sudah rentan, berkurangnya pemasukan menjadi persoalan penting karena kebutuhan rutin tetap harus dipenuhi, meskipun kesempatan untuk memperoleh penghasilan terganggu.

Tekanan terhadap pendapatan juga berkaitan dengan kenaikan harga pangan. Jika pengeluaran untuk kebutuhan pokok meningkat sementara penghasilan tidak stabil, beban rumah tangga dapat bertambah. Dengan demikian, dampak krisis iklim tidak hanya tampak dalam bentuk kerusakan atau bahaya langsung, tetapi juga dalam kesulitan ekonomi yang menyertai gangguan terhadap pekerjaan dan akses terhadap kebutuhan sehari-hari. Kelompok pekerja rentan dapat menghadapi kombinasi risiko tersebut tanpa memiliki cadangan ekonomi yang memadai untuk menanggung masa pemulihan.

Kabut asap berkepanjangan menjadi salah satu contoh dampak yang dapat mengganggu kehidupan warga. Paparan kabut asap disebut dapat memicu gangguan kesehatan, sementara kondisi tersebut juga menghambat kegiatan ekonomi sehari-hari. Ketika kesehatan terganggu atau aktivitas rutin tidak dapat berlangsung sebagaimana biasanya, kemampuan seseorang untuk bekerja dan memperoleh pendapatan ikut terdampak. Contoh ini memperlihatkan hubungan ancaman kesehatan dan tekanan ekonomi, khususnya bagi pekerja yang penghasilannya bergantung pada keberlangsungan aktivitas harian. Pandangan Jeanny menyoroti bahwa beban krisis iklim tidak terbagi secara merata: mereka yang paling terbatas secara ekonomi justru berisiko menanggung konsekuensi lebih berat terhadap keselamatan, kesehatan, penghidupan, dan pemenuhan kebutuhan pokok.Di tengah dampak krisis iklim yang semakin dirasakan, masyarakat juga menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan. Kenaikan biaya hidup membuat kebutuhan sehari-hari semakin sulit dipenuhi, sementara ketidakpastian pekerjaan menambah kekhawatiran banyak keluarga. Situasi tersebut berlangsung bersamaan dengan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang memengaruhi rasa aman pekerja dan prospek penghasilan rumah tangga. Bagi warga, persoalan iklim karena itu tidak berdiri sendiri, melainkan beririsan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan dan mempertahankan mata pencaharian.

Jeanny menyoroti keadaan ini dengan membandingkannya dengan sejumlah janji pemerintahan Prabowo-Gibran. Pemerintah, menurut janji yang ia rujuk, menargetkan penciptaan lapangan kerja, penguatan ketahanan pangan dan energi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun, bagi warga yang menghadapi biaya hidup yang meningkat dan risiko kehilangan pekerjaan, janji-janji tersebut menjadi relevan ketika diterjemahkan ke dalam langkah yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Perbandingan yang disampaikan Jeanny menempatkan aspirasi pemerintah itu berhadapan dengan tekanan nyata yang dialami masyarakat.

Tekanan ekonomi juga dapat membatasi kemampuan warga untuk merespons gangguan yang berkaitan dengan iklim. Ketika pendapatan tidak pasti dan pengeluaran terus meningkat, rumah tangga memiliki ruang yang lebih sempit untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan kondisi di sekitar mereka. Dalam konteks tersebut, pembahasan mengenai penciptaan pekerjaan, ketahanan pangan, dan energi berkaitan erat dengan kebutuhan akan perlindungan dan kesejahteraan yang nyata, bukan sekadar sasaran kebijakan. Jeanny mengangkat kesenjangan harapan yang dibangun melalui janji pemerintah dan pengalaman warga yang menghadapi beban berlapis.

Jeanny juga menyampaikan bahwa temuan riset terbaru Greenpeace menunjukkan pemerintah belum menyediakan solusi bagi dampak krisis iklim yang semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan itu merupakan klaim Jeanny mengenai hasil riset tersebut.

banner 325x300