banner 728x250

Amran Bagi Peran Dua Wamentan, dari Eksekusi Program hingga Produktivitas

Amran Bagi Peran Dua Wamentan, dari Eksekusi Program hingga Produktivitas
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan pembagian tanggung jawab dua wakil menteri pertanian, yakni Muhammad Saleh Mustafa sebagai Wakil Menteri Pertanian I dan Alim Setiawan Slamet sebagai Wakil Menteri Pertanian II. Pembagian peran tersebut mencakup pengawalan eksekusi program dan peningkatan produktivitas, agar pelaksanaan agenda kementerian dapat berjalan dengan fokus yang lebih terarah. Amran menyampaikan penjelasan itu setelah menerima Alim di kantor Kementerian Pertanian.

Pertemuan tersebut berlangsung setelah Alim dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (15/10). Seusai pelantikan, Alim menemui Amran di lingkungan kementerian untuk membahas penugasan dan koordinasi kerja. Dalam keterangan kepada wartawan, Amran menerangkan bahwa Saleh dan Alim akan mengemban tanggung jawab masing-masing sebagai bagian dari pengelolaan tugas di Kementerian Pertanian. Pembagian itu menjadi landasan koordinasi menteri dan kedua wakilnya dalam menjalankan pekerjaan pemerintahan.

banner 325x300

Keterangan mengenai susunan tugas tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (19/10). Amran menekankan adanya pembedaan fokus pelaksanaan program dan upaya mendorong produktivitas. Dengan demikian, kedua wakil menteri diharapkan mendukung kerja kementerian melalui peran yang saling melengkapi, bukan berjalan sendiri-sendiri. Pengawalan program memerlukan koordinasi agar kebijakan dapat diterjemahkan menjadi kegiatan yang terlaksana, sementara perhatian pada produktivitas memberi ruang untuk mendorong hasil sektor pertanian. Penjelasan itu sekaligus memperkenalkan pembagian kerja di jajaran pimpinan kementerian setelah Alim resmi dilantik. Kementerian memiliki dua wakil menteri dengan penugasan yang dibedakan sesuai kebutuhan kerja, sementara koordinasi tetap berada dalam kerangka kepemimpinan Amran. Pernyataan tersebut disampaikan tanpa rincian lebih lanjut mengenai daftar program atau target produktivitas tertentu. Fokus keterangan Amran adalah siapa yang menjabat sebagai Wamentan I dan II serta arah umum pembagian tanggung jawab di keduanya. Informasi ini memberi gambaran awal mengenai susunan kerja pimpinan Kementerian Pertanian, termasuk kaitan eksekusi program dan produktivitas dalam mendukung agenda kementerian ke depan.

Dalam pembagian tugas di Kementerian Pertanian, Wakil Menteri Pertanian Saleh Mustafa diarahkan untuk memastikan target dan program pemerintah terlaksana di lapangan. Fokus tersebut mencakup pengawalan kegiatan yang telah ditetapkan, koordinasi pelaksanaan, serta upaya menjaga agar pekerjaan berjalan sesuai sasaran. Dengan demikian, perannya tidak hanya berada pada perencanaan, tetapi juga pada pelaksanaan program yang membutuhkan tindak lanjut dan pemantauan.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjelaskan bahwa Saleh mendapat perhatian pada aspek eksekusi. Secara tidak langsung, Amran menempatkan Saleh sebagai sosok yang membantu mendorong program pemerintah agar benar-benar dijalankan, bukan sekadar disusun. Arah kerja itu meliputi pompanisasi untuk mendukung ketersediaan air bagi pertanian, serta pencetakan sawah baru sebagai bagian dari upaya memperluas kapasitas produksi. Kedua program tersebut memerlukan koordinasi lintas pihak dan pengawalan berkelanjutan agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai.

Latar belakang militer Saleh disebut dalam sumber sebagai bagian dari profilnya. Informasi itu dapat memberi konteks mengenai pengalamannya, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh pendekatan atau hasil kerjanya. Penekanan pembagian tugas yang disampaikan Amran tetap berada pada mandat pelaksanaan program dan pencapaian target pemerintah. Karena itu, ukuran penting dalam peran ini adalah kemajuan pekerjaan di lapangan, termasuk tindak lanjut atas kegiatan pompanisasi dan pembukaan sawah baru.

Mandat tersebut berbeda dari peran Wakil Menteri Pertanian Alim, yang lebih berorientasi pada peningkatan produktivitas dan pengembangan komoditas. Jika Saleh mengawal eksekusi program dan memastikan agenda berjalan, Alim diarahkan untuk mendorong hasil pertanian yang lebih produktif serta mengembangkan komoditas. Pembagian ini menunjukkan dua titik perhatian yang saling melengkapi: pelaksanaan program pemerintah di satu sisi, dan penguatan produktivitas serta potensi komoditas di sisi lain. Keduanya berada dalam kerangka tujuan pertanian yang lebih luas, tetapi memiliki penekanan kerja yang berbeda. Kejelasan mandat dapat membantu koordinasi, selama masing-masing fokus diterjemahkan ke dalam langkah terukur dan kerja bersama dengan jajaran kementerian serta pemerintah daerah.Alim Setiawan mendapat tanggung jawab untuk mendorong peningkatan produktivitas pertanian, termasuk melalui pengembangan komoditas strategis seperti kedelai dan bawang putih. Upaya tersebut penting untuk memperkuat produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar. Peningkatan hasil tidak hanya bergantung pada perluasan lahan, tetapi juga pada pilihan benih, cara budidaya, pemanfaatan teknologi, serta pendampingan yang sesuai dengan kondisi petani. Karena itu, agenda produktivitas perlu diterjemahkan menjadi langkah yang dapat diuji dan diterapkan di lapangan. Peran Alim mencakup upaya menghubungkan sasaran produksi dengan inovasi dan riset, sehingga program pengembangan komoditas dapat disusun berdasarkan bukti, kebutuhan wilayah, dan potensi hasil yang realistis.

Salah satu pendekatan yang didorong adalah Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS). Penerapan sistem ini dimaksudkan untuk mengintegrasikan teknologi dan praktik pertanian modern dalam proses produksi, sekaligus meningkatkan efisiensi dan hasil. Pengembangannya memerlukan pengujian agar teknologi yang dipilih benar-benar sesuai dengan karakteristik lahan dan dapat digunakan oleh petani. Alim ingin memperkuat kolaborasi Kementerian Pertanian dengan perguruan tinggi dalam menguji inovasi, riset, dan teknologi yang berpotensi meningkatkan produksi. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui kajian, uji lapangan, serta evaluasi hasil, sedangkan kementerian memiliki peran dalam mengarahkan kebijakan dan menghubungkan temuan dengan pelaksanaan program. Kerja sama semacam ini diharapkan membuat penerapan inovasi lebih terukur dan relevan.

Dalam konteks peningkatan produksi padi, Alim menyampaikan bahwa pendekatan pertanian modern tersebut dinilai berpotensi menghasilkan produktivitas di atas 10 ton per hektare. Angka itu merupakan potensi yang perlu dibuktikan melalui uji dan penerapan yang tepat, bukan capaian yang telah dipastikan atau berlaku di seluruh wilayah. Hasil aktual dapat dipengaruhi oleh kondisi tanah, ketersediaan air, varietas, cuaca, keterampilan petani, dan dukungan sarana produksi. Oleh sebab itu, pengujian bersama akademisi dan pelaku usaha tani menjadi bagian penting sebelum suatu metode diperluas. Dengan pembagian peran yang jelas, pengembangan kedelai dan bawang putih, peningkatan produktivitas padi, serta penerapan PM-AAS dapat diarahkan sebagai agenda yang berbasis data, berkelanjutan, dan memberi manfaat nyata bagi sektor pertanian.

Pengembangan produksi kedelai dalam negeri menjadi salah satu agenda yang disampaikan Alim setelah dilantik di Istana Negara, Jakarta, pada Kamis (15/10). Upaya tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada kedelai impor. Untuk mencapai sasaran itu, Alim menyebut perlunya langkah yang mencakup pengembangan varietas unggul, penyusunan standar operasional prosedur, riset, serta perluasan produksi. Rangkaian tersebut menempatkan penguatan kegiatan di sektor hulu dan peningkatan kapasitas produksi sebagai bagian dari agenda pengembangan kedelai nasional.

Pengembangan varietas unggul menjadi salah satu perhatian karena ketersediaan varietas yang sesuai merupakan bagian dari upaya meningkatkan produksi. Di samping itu, standar operasional prosedur diperlukan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan budidaya secara terarah. Alim juga menekankan pentingnya riset dalam proses pengembangan kedelai, sekaligus perluasan produksi agar hasil pengembangan dapat diterapkan lebih luas. Langkah-langkah itu disebut sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar negeri, meski pelaksanaannya memerlukan dukungan riset dan teknologi pertanian.

Dalam pengembangan teknologi pertanian, Alim berencana melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional serta perguruan tinggi. Keterlibatan kedua unsur tersebut diarahkan untuk mendukung riset dan pengembangan teknologi yang berkaitan dengan peningkatan produksi kedelai. Rencana kolaborasi itu juga mencakup penguatan hubungan pemerintah dan kalangan akademik, sehingga kegiatan riset dapat terhubung dengan kebutuhan pengembangan pertanian.

Baca juga: Program Pariwisata Aman untuk Menghadapi Risiko Kebakaran di Bromo | Dukung program Ketahanan Pangan, Polsek Ngadiluwih Dampingi dan Edukasi Hama ke Kelompok Tani

banner 325x300