Kota Denpasar | Bahlil Lahadalia menyatakan kuota Pertalite untuk Bali akan ditingkatkan agar persediaan bahan bakar tersebut lebih memadai. Cadangan yang sebelumnya diperkirakan cukup untuk sekitar 11–12 hari akan disiapkan hingga mencapai 15 hari. Penambahan ini menjadi langkah untuk menjaga distribusi tetap berjalan dan memastikan kebutuhan masyarakat terhadap BBM bersubsidi dapat dilayani secara lebih lancar.
Pernyataan itu disampaikan setelah rapat koordinasi bersama Gubernur Bali Wayan Koster dan pihak terkait di Terminal BBM Pesanggaran, Denpasar, pada Senin (19/10). Pertemuan tersebut membahas kondisi pasokan Pertalite di Bali serta upaya menjaga kelancaran penyalurannya. Dengan memperpanjang kecukupan stok dari sekitar 11–12 hari menjadi 15 hari, pemerintah berharap distribusi memiliki ruang penyangga yang lebih baik.
Tambahan kuota diarahkan untuk mengurangi risiko gangguan pasokan yang dapat memicu antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU. Jika stok tersedia secara memadai dan penyaluran berlangsung sesuai kebutuhan, masyarakat diharapkan dapat membeli Pertalite tanpa harus menghadapi waktu tunggu yang berlebihan. Langkah ini juga ditujukan agar layanan di SPBU tetap berjalan tertib selama kebutuhan konsumen dipenuhi.
Penguatan cadangan menjadi salah satu cara untuk mengantisipasi tekanan terhadap distribusi, terutama ketika kebutuhan di lapangan meningkat atau penyaluran memerlukan penyesuaian. Meski demikian, kecukupan stok perlu diikuti pemantauan distribusi agar pasokan sampai ke lokasi yang membutuhkan. Koordinasi pemerintah daerah, pihak terkait, dan pengelola penyaluran menjadi penting untuk menjaga ketersediaan Pertalite di berbagai wilayah Bali.
Dengan rencana peningkatan cadangan hingga 15 hari, pemerintah berupaya memberi kepastian pasokan sekaligus mencegah kepadatan di SPBU. Masyarakat dapat mengikuti informasi resmi mengenai ketersediaan BBM di wilayah masing-masing, sementara pihak penyalur diharapkan menjaga distribusi berjalan lancar. Upaya tersebut menempatkan stabilitas pasokan sebagai prioritas agar kebutuhan harian warga Bali tetap terpenuhi tanpa antrean panjang.
Menurut Bahlil Lahadalia, gangguan distribusi BBM di Bali dipicu oleh keterlambatan kapal pengangkut bahan bakar yang berangkat dari Jawa. Kapal tersebut menjadi bagian penting dalam rantai pasokan antarpulau, sehingga mundurnya kedatangan dapat memengaruhi jadwal penyaluran ke sejumlah titik distribusi. Dampaknya, pasokan Pertalite di Bali mengalami penurunan selama kurang lebih tiga sampai empat hari. Situasi ini menjelaskan adanya gangguan sementara, bukan berarti seluruh pasokan BBM di pulau tersebut habis. Bahlil menyampaikan bahwa keterlambatan transportasi laut menjadi faktor yang perlu segera ditangani agar penyaluran kembali berjalan sesuai kebutuhan. Penjelasan tersebut menempatkan persoalan pada kelancaran distribusi, bukan pada ketiadaan stok secara keseluruhan.
Dalam keterangannya, Bahlil juga menguraikan kondisi cadangan BBM secara nasional. Pertalite, yang dikenal sebagai BBM beroktan 90 atau RON 90, tersedia untuk memenuhi kebutuhan sekitar 16–18 hari. Sementara itu, cadangan jenis BBM lain berada di atas rata-rata 20 hari. Angka-angka tersebut disampaikan sebagai gambaran stok nasional dan perlu dibedakan dari kondisi pasokan di setiap daerah. Pergerakan stok di wilayah tertentu dapat dipengaruhi oleh jadwal kapal, proses bongkar muat, serta penyaluran dari terminal menuju lembaga penyalur. Karena itu, persediaan yang cukup secara nasional tidak serta-merta menghilangkan kemungkinan terjadinya keterlambatan distribusi lokal. Pemerintah dan pihak terkait memantau rantai pasokan agar kebutuhan masyarakat tetap dapat dilayani.
Untuk Bali, cadangan disebut berada pada kisaran 11–12 hari setelah koordinasi dengan Pertamina. Informasi tersebut memberi konteks mengenai ketersediaan stok di daerah, sekaligus menunjukkan pentingnya koordinasi pemerintah dan perusahaan penyalur ketika jadwal pengiriman terganggu. Bahlil menyatakan akan menyiapkan tambahan pasokan Pertalite guna menjaga distribusi dan merespons penurunan pasokan yang terjadi. Langkah ini ditujukan untuk mendukung kelancaran penyaluran selama arus pengiriman dari Jawa kembali normal. Penambahan pasokan juga membantu menjaga ketersediaan di titik-titik layanan, sehingga masyarakat tidak perlu menyamakan gangguan sementara dengan kondisi kehabisan BBM di seluruh Bali. Pemantauan terhadap kedatangan kapal dan penyaluran selanjutnya menjadi bagian penting dalam memastikan pasokan tersedia sesuai kebutuhan wilayah.
Penyimpanan dan penyaluran bahan bakar minyak di Bali bertumpu pada dua terminal utama, yakni Terminal BBM Manggis di Kabupaten Karangasem dan Terminal BBM Pesanggaran di Denpasar. Keduanya memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan BBM bagi masyarakat, tetapi kapasitas penyimpanan dan jumlah cadangannya tidak sama. Perbedaan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika pemerintah dan Pertamina mengatur distribusi di berbagai wilayah Bali.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa cadangan BBM di Terminal Pesanggaran berkisar empat sampai lima hari. Sementara itu, cadangan di Terminal Manggis tercatat lebih dari 11 hari. Angka tersebut merujuk pada kondisi masing-masing terminal, bukan gambaran yang bisa disamakan begitu saja dengan cadangan keseluruhan Bali. Pesanggaran menampung volume kuota yang tidak sebesar Manggis, sehingga kapasitas cadangannya perlu dibaca dalam konteks fungsi dan skala penyimpanannya.
Perbedaan kondisi kedua terminal juga penting dalam memahami upaya menjaga kelancaran pasokan. Cadangan di satu fasilitas tidak otomatis menggambarkan ketersediaan di fasilitas lain, terlebih ketika volume kuota dan kapasitas penyimpanan berbeda. Karena itu, pemantauan stok di Manggis dan Pesanggaran perlu dilakukan secara terpisah, disertai pengaturan penyaluran yang mempertimbangkan kebutuhan wilayah serta kecepatan pengiriman. Dengan cara tersebut, informasi mengenai persediaan dapat digunakan secara tepat untuk mengantisipasi kebutuhan dan menentukan langkah operasional.
Pemerintah telah meminta Pertamina meningkatkan status cadangan dari 11 hari menjadi 15 hari. Langkah ini ditujukan untuk mempercepat penanganan distribusi, sehingga pasokan dapat dikelola dengan ruang antisipasi yang lebih memadai. Permintaan peningkatan tersebut merupakan arahan terkait kesiapan cadangan, bukan perubahan angka khusus untuk Terminal Pesanggaran. Dengan demikian, cadangan Pesanggaran yang berkisar empat sampai lima hari tetap perlu dibedakan dari angka lebih dari 11 hari di Manggis maupun target peningkatan status cadangan yang disampaikan pemerintah. Pembedaan ini membantu publik memahami kondisi masing-masing terminal secara akurat dan melihat peran koordinasi Pertamina dalam menjaga distribusi BBM di Bali.Bahlil menyampaikan bahwa pengangkutan BBM pada rute Jawa–Bali diperkuat dengan menambah jumlah kapal minyak yang melayani jalur tersebut, dari semula tiga kapal menjadi tujuh kapal. Penambahan armada ini dimaksudkan untuk mendukung kelancaran distribusi pasokan ke Bali. Ia mengatakan permintaan penambahan transportasi telah disampaikan kepada Direktur Utama Pertamina sejak Kamis (15/10). Dengan tambahan kapal, pengiriman dapat berlangsung melalui kapasitas angkut yang lebih besar. Bahlil menjelaskan langkah tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga pasokan tetap bergerak menuju wilayah yang membutuhkan, termasuk Bali. Keterangan itu berfokus pada penguatan sarana transportasi, bukan perubahan jumlah kebutuhan BBM masyarakat. Pemerintah dan Pertamina, menurut penjelasannya, terus memantau penyaluran agar distribusi berjalan seiring dengan kondisi di lapangan. Penambahan armada juga menjadi respons operasional atas kebutuhan pengaturan arus pasokan menuju pulau tersebut.
Bahlil juga menyebut telah menerima laporan mengenai kondisi pelayanan di sejumlah SPBU Bali dari gubernur, Kapolda Bali, serta General Manager Pertamina di Bali. Berdasarkan laporan para pejabat dan pihak tersebut, SPBU telah beroperasi normal dan tidak terlihat antrean panjang yang signifikan. Informasi itu menggambarkan keadaan yang dilaporkan pada saat keterangan disampaikan, sementara pemantauan distribusi tetap dilakukan. Bahlil mengaitkan gangguan yang terjadi dengan persoalan teknis dalam manajemen arus logistik. Penilaian tersebut disampaikan sebagai pandangannya mengenai situasi, tanpa menguraikan penyebab lain.
Baca juga: Kekurangan Pasokan Beras Premium di Ritel Modern | Bayern Munchen Siapkan Bintang Mereka Menghadapi Union Berlin | Wujud Kepedulian TNI, Kodim 1008/Tabalong Bantu Pasokan Air Bersih di Desa Jangkung












